Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sky Escape


__ADS_3

Di dalam mobil mewah berwarna hitam mengkilap dengan mesin super canggih dan mampu melajudengan kecepatan tinggi, duduk seorang gadis yang sedari tadi terus memandang ke arah luar jendela.


Dia bahkan tak menghiraukan pria yang duduk di sampingnya, dan terus memperhatikannya dari samping.


Helaan nafas terus terdengar dari arah gadis itu berkali-kali, hingga membuat kaca menjadi berembun.


Mereka sudah melewatkan sekitar tiga puluh menit dengan berdiam diri dalam pikiran masing-masing. Bahkan sang pengemudi pun beberapa kali mencuri lihat ke belakang dari balik kaca spion nya.


Kedua orang itu duduk dengan jarak yang cukup jauh, dan bersandar pada jendela di dekat masing-masing.


“Menangis itu manusiawi. Apalagi saat hatimu terluka seperti ini, dan aku yakin Nine bisa paham akan hal itu. Jadi, dia tidak akan mengejekmu karena menjadi seorang gadis yang cengeng,” ucap Falcon tiba-tiba.


Liana diam. Namun dari pantulan kaca mobil, terlihat jelas jika raut wajah gadis itu berubah. Dia kemudian menoleh dan memicingkan matanya ke arah Falcon, dengan alis yang nyaris merapat.


“Hei, Tuan. Itu kata-kataku,” seru Liana.


“Yah, aku rasa sekarang kau yang butuh kata-kata itu,” sahut Falcon tanpa menatap gadis yang duduk di sampingnya.


Liana mendengus kesal mendengar jawaban dari Falcon.


“Apa kau sedang membalasku? Tak ku sangka kalau kau seorang yang pendendam,” sindir Liana.


Bukannya menyahut lagi, Falcon justru tertawa mendengar perkataan Liana. Gadis itu pun tersenyum tipis melihat tawa pria di sampingnya.


“Hei, Nona. Apa kau mau pergi melihat laut?” tanya Falcon  seusai menuntaskan tawanya.


“Laut?” tanya Liana.


“Yah. Bagaimana?” tanya Falcon memastikan.


“Baiklah. Sekalian aku ingin menghilang sejenak dari segala rutinitas yang membosankan ini,” sahut Liana.


“Baiklah. Nine, bawa kami ke Sky Escape,” seru Falcon.


“Baik, Bos,” sahut Nine.


“Sky Escape? Di mana itu?” tanya Liana kebingungan, karena baru pertama mendengar nama tempat tersebut.


“Itu adalah tempat rahasiaku yang lain. Kau pasti akan suka di sana,” ucap Falcon.


“Oke. Let see,” sahut Liana.


Nine pun melajukan mobilnya menuju ke sebuah pelabuhan, yang berada tak jauh dari hutan selatan.


Sesampainya di sana, tampak sebuah helikopter telah menunggu kedatangan mereka. Liana sampai dibuat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Jangan katakan kalau kita akan terbang dengan mesin itu?” ucap Liana.


“Itu namanya helikopter. Apa kau tidak pernah tau sebelumnya?” ejek Liana.


“Hei, Tuan. Aku ini tidak hidup di hutan ya. Jangan samakan aku dengan penipu itu, yang serba tak tau apapun kecuali menghabiskan uang orang lain. Aku tau itu benda apa dan apa fungsinya,” elak Liana kesal.

__ADS_1


“Lalu, kenapa masih menanyakan hal bodoh tadi?” tanya Falcon.


“Aku kira kita cuma akan naik perahu atau kapal kecil atau sejenisnya. Tapi ternyata kita malah memakai helikopter,” jawab Liana.


“Kau akan tau alasannya saat sampai di sana,” sahut Falcon.


Nine menghentikan mobil agak jauh dari burung besi itu. Falcon keluar terlebih dahulu dan menunggu Liana keluar dari mobil.


Liana terus saja mendongak ke atas, seolah tengah mengagumi baling-baling yang terus berputar dengan cepat di sana.


Falcon pun meraih tangan gadis tersebut dan menariknya menuju ke benda terbang itu. Di sana, mereka disambut oleh salah satu awak yang mengarahkan keduanya agar sedikit menunduk dan segera masuk ke dalam.


Falcon memasang headphone serta rompi keselamatan pada dirinya, namun Liana, gadis itu masih saja diam dan seolah kebingungan.


Senyum simpul menghiasi bibir Falcon saat melihat wajah polos Liana, yang seperti anak kecil yang tak tau apa-apa.


Dia pun kemudian membantu gadis itu memasangkan safety kit, dan bahkan memberikan kacamata hitamnya pada cucu Presdir Wang.


Liana terus memandangi Falcon yang sudah membantunya, namun  pria itu duduk bersandar sambil memejamkan matanya, dan tak peduli dengan tatapan Liana.


Senyum tipis pun terbit di wajah cantik Liana.


Pesawat itu terbang membawa mereka berdua menuju ke sebuah tempat yang belum pernah Liana datangi. Gadis itu hanya membayangkan sebuah pulau yang berada di tengah lautan, yang berjarak cukup jauh sehingga harus menggunakan helikopter.


Liana terus menatap ke arah luar dari balik kaca jendela di samping nya. Decak kagum terus terdengar dari bibir gadis cantik itu, setiap kali melihat sesuatu di bawah sana.


Meskipun matanya terpejam, namun Falcon bisa membayangkan bagaimana ekspresi liatna satu ini, setiap kali terdengar gadis itu ber ‘wah' ria memandangi hal-hal yang ada di bawahnya.


Matanya seketika membola kala melihat tempat tersebut. Sebuah pulau dengan tebing yang tinggi menjulang bak gunung karang.


Tak ada kapal yang terlihat di sekitar sana, karena jalan keluarnya bukanlah dari laut melainkan dari udara.



Mereka turun di sebuah tanah lapang yang berada di area tengah pulau. Salah satu awak membimbing Liana untuk turun dan disusul kemudian oleh Falcon.


Liana melihat sekelilingnya dan merasa jika saat ini, dia sedang berada di sebuah tempat terpencil, dan jika dia melihat dari sisi tebing, maka serasa ia ada di atas langit yang tinggi.


“Wellcome to Sky Escape,” ucap Falcon.


Liana menoleh ke arah pria itu dan tersenyum.


“Tempat sempurna untuk melarikan diri dari kenyataan,” sahut Liana.


Helikopter kembali terbang meninggalkan mereka berdua di sana. Tak berselang lama, serombongan pria dengan mengendarai mobil dan sepeda motor nampak menghampiri kedua orang itu.


Semuanya turun dan memberi hormat kepada Falcon. Liana sampai mengerutkan alis karena merasa jika kali ini Falcon diperlakukan sedikit berbeda.


Dia bahkan menatap pria itu dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Terlihat caranya ketika berbicara pada semua pria-pria itu sangat berbeda, dengan ketika Falcon berbicara pada anggota gangsternya.


Ketika Liana tengah memandanginya, Falcon tiba-tiba menoleh dan mata keduanya pun bertemu. Liana cepat-cepat memalingkan wajahnya, karena mendadak dia jadi salah tingkah karena kepergok sedang menatap ke arah bos gangster itu.

__ADS_1


Seusai memberi arahan yang entah berisi apa saja, semua pria itu pergi dan meninggalkan sebuah sepeda motor di sana.


“Hei, kau bilang mau melihat laut kan? Tapi jangan minta pantai berpasir putih. Di sini tidak ada hal semacam itu,” ucap Falcon.


“Cih. Hanya melihat laut saja dan kau bawa aku ke tempat terpencil seperti ini? Apa kau berniat menculikku?” goda Liana.


“Ehm, boleh juga. Lagi pula, kau kan sekarang sudah menjadi cucu Presdir Wang. Pasti pak tua itu akan mau menebusmu dengan harga yang tinggi,” ucap Falcon.


“Waaahhhh! Pemikiran yang luar biasa sekali, Tuan. Jangan lupa uang tebusan nya bagi dua karena aku juga butuh uang,” sahut Liana.


Keduanya tertawa dengan jawaban aneh dari Liana. Kemudian, Falcon naik ke motor dan kembali mengajak Liana untuk berkeliling.


“Baiklah. Aku akan bawa kau melihat-melihat," ucap Falcon.


“Naik motor?” tanya Liana.


“Apa lagi? Kalau mau jalan kaki, silakan saja,” sahut Falcon.


Dia dengan sengaja memainkan gas agar membuat Liana segera naik ke atas motor tersebut.


“baiklah. Tunggu, aku akan naik,” ucap Liana.


Gadis itu pun kemudian naik ke atas motor yang ditinggalkan para pria tadi.


“SKY ESCAPE, I'M COMING!” pekik Liana saat motor melaju di jalanan pulau yang tak beraspal.


Tangannya terentang begitu lebar dan membiarkan angin menerpa kulitnya.


.


.


.


.


Hai bestie, ketemu lagi sama weekend 😁itu artinya hari ini othor cuma kasih 1 bab aja yah🤭


Mau belanja dulu buat sahur ntar malem😄ribet kan ya kalo emak-emak mikirin menu buka ma sahur😅


Sok atuh yang mau sabtu an😁neng Liana aja lagi jalan-jalan ama Si falcon noh🤭


oke bestie, happy weekend 😘tunggu next bab besok yah😊


sambil nungguin neng Liana up, seperti biasa othor mau promoin novel receh othor yang lain🤭biarin mau kalian bosen, mau nggak mampir juga serah, yang penting promo dulu😁kali aja ada yang khilaf trus mampir dan suka kan ya siapa tau🤣🤣🤣🤣



Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2