Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Perang batin


__ADS_3

Terdengar helaan nafas panjang, dan tepukan tangan dari arah sang gadis. Peter menoleh dan melihat bahwa Liana tengah menepuk-nepuk kedua tangannya, untuk membersihkan sisa bumbu keripik yang menempel di sana.


“Ehm... Keripikku sudah habis dan....,” Liana meraih botol air minumnya.


Gadis itu kemudian meneguk sisanya hingga tandas, “ ... Ah! Minumanku juga sudah habis. Sepertinya aku sudah harus pergi. Terimakasih untuk waktunya, Paman."


“Apa kau sudah mau pulang, Nak?” tanya Peter.


Liana bangun dari duduknya, dan terlihat masih menjilati sedikit sisa bumbu yang tak mau hilang setelah ditepuk.


“Ehm... Besok aku akan pergi jauh, Paman. Mungkin baru akan kembali minggu depan,” tutur Liana.


Peter nampak ikut bangun, dan terus menatap sang putri. Liana pun menoleh ke arah pria itu seraya menyeringai, memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


“Apa paman sudah mulai peduli padaku, sampai-sampai begitu terkejut aku akan pergi cukup lama? Hanya seminggu, dan aku hanya pergi ke Empire State. Tidak perlu terlalu rindu,” goda Liana.


Peter seketika itu juga tersenyum, dan tangannya tanpa sengaja terulur, mengacak puncak rambut gadis tersebut.


Liana sontak membeku untuk sejenak, karena mendapatkan sentuhan pertama dari sang ayah. Hatinya kembali bergemuruh dan genangan pun kembali muncul di matanya.


Namun, gadis itu dengan cepat menenangkan hatinya dan bersikap sebiasa mungkin.


“Hei, Paman. Kau merusak tatanan rambutku!” keluh Liana.

__ADS_1


Dia menepis tangan Peter dan mencoba merapikan lagi rambutnya. Di sela-sela itu, dia menyeka genangan di matanya secara diam-diam, hingga Peter tak menyadarinya.


“Kau ini gadis kecil yang sangat berani. Jangan coba-coba menggodaku yah. Kau ini lebih cocok menjadi putriku,” kilah Peter.


“Wah... Jadi, apa sekarang kau mau bermain peran dengan ku menjadi sepasang ayah dan anak? Apa kau mau mengadopsi ku, Paman? Kebetulan sekali, aku memang tidak punya ayah sejak lahir. Kalau kau bersedia, aku akan sangat senang,” sahut Liana dengan entengnya.


Gadis itu kembali mengulang siasatnya saat dulu pertama kali bertemu dengan Kakek Joseph di rumah sakit, setelah kecelakaan yang tak sengaja menimpanya saat melarikan diri dari anak buah Paulo.


Saat itu, Liana dan Kakek Joseph sama-sama belum tahu bahwa mereka adalah keluarga, sehingga Liana dengan mudah mengatakan hal itu tanpa beban di dalam hatinya.


Namun, berbeda dengan kali ini. Di mana dia dengan sadar mengetahui bahwa pria di hadapannya adalah sang ayah, yang selama ini menghilang dan tak tau di mana keberadaannya. Ayah yang tak pernah muncul untuk melindunginya dan sang bunda. Ayah yang datang dan malah menganggapnya sebagai orang asing.


Gadis itu benar-benar menyembunyikan lukanya yang menganga dengan sekuat hati.


Dia seolah tak mampu lagi berkata apa-apa.


Sebuah tarikan nafas panjang menjadi akhir dari perang batin mereka berdua.


“Sebaiknya, kau beristirahat untuk perjalanan mu besok. Aku bedoa agar semua urusanmu berjalan dengan lancar,” ucap Peter.


Pria itu meneguk minumannya hingga tetes terakhir, dan memasukkan semua sampah ke dalam kantung plastik.


“Apa kau berdoa pada Tuhan?” tanya Liana.

__ADS_1


Peter menghentikan gerakannya, dan menoleh ke arah Liana.


“Tentu saja. Memangnya pada siapa lagi kita berdoa?” sahut Peter.


“Bisakah kau minta pada Tuhan-mu untuk mempertemukanku dengan ayahku? Aku akan sangat berterimakasih sekali padamu, Paman,” ucap Liana.


Seketika itu tangan Peter lemas, hingga botol kosong yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Dia cepat-sepat memungutnya dan memasukkan kembali ke dalam tempat sampah sekaligus dengan sampah lainnya.


“Kenapa kau tidak berdoa sendiri saja. Aku yakin bahwa Tuhan pasti akan mendengarkan doa mu juga,” ucap Peter.


“Asal Paman tahu, aku sudah lelah berdoa pada Tuhan. Dari kecil, aku sama sekali belum pernah merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tua. Mungkin karena aku bukan gadis baik, atau kurang taat pada-Nya, sehingga Tuhan tak mau mendengarkan doaku. Ku lihat, kau orang yang cukup taat dan percaya pada Tuhan. Jadi, bisakah Paman berdoa untuk hal itu juga?” tanya Liana.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2