
“Ini ...,” tanya Liana tertahan.
“Dia adalah Nona Lilian, putri tunggal tuan besar, yang hilang hampir dua puluh tiga tahun yang lalu,” ungkap Debora.
Liana tak bisa memalingkan pandangannya dari potret gadis itu. Hal tersebut pun tak luput dari perhatian Debora.
“Ja ... Jadi, dia ... Kenapa dia dan aku ....,” tanya Liana yang tak mampu lagi menuntaskan kata-katanya.
“Apa kau terkejut? Kami semua pun terkejut melihat kemiripan kalian berdua. Tuan besar bahkan memperlakukanmu dengan istimewa karena hal itu,” ucap Debora.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa dia bisa hilang?” tanya Liana tanpa memalingkan pandangannya dari foto Lilian.
“Keperluan mu di sini, hanya untuk mencari petunjuk mengenai pelayan nona muda, bukan menanyakan hal lain selain itu,” sangah Debora.
Namun, Liana seolah tak peduli, dan terus menatap wajah yang begitu menyedot seluruh perhatiannya.
Debora berjalan ke dekat meja rias milik nona muda di rumah itu. Di sana, terdapat beberapa bingkai foto yang penuh dengan wajah dari si nona muda. Salah satunya adalah foto Lilian saat bersama sang pelayan.
Wanita itu mengambilnya, dan berjalan menghampiri Liana yang masih mematung di tempatnya.
“Lihatlah ini! Ini adalah foto dari pelayan nona muda, yang ikut kabur menghilang bersamanya,” ucap Debora.
Liana menoleh dan melihat ke arah tangan Debora yang mengulur ke arahnya. Dia melihat potret dua orang gadis yang begitu riang di dalamnya.
Belum selesai keterkejutannya akan foto orang yang mirip dengannya, kini dia kembali dikejutkan dengan foto yang diberikan oleh Debora padanya.
“I... Ini... Kenapa dia ada di sini? Anda bilang, dia adalah pelayan Nona Lilian?” tanya Liana tergagap.
Debora melihat keterkejutan di wajah gadis itu. Dia pun mulai menerka jika gadis itu mengenal pelayan wanita tersebut.
“Apa namanya, Vi ... Vivian?” sambung Liana.
Debora semakin yakin jika Liana punya hubungan dengan semua ini. Dia merengkuh pundak gadis itu, dan menatapnya tajam.
“Kau mengenalnya? Di mana dia sekarang? Di mana Nona Lilian? Di mana putrinya?”cecar Debora.
Liana bak orang linglung. Ingatannya kembali ke masa, di mana dia masih bersama dengan wanita yang selama ini dia anggap sebagai ibunya.
Mimpi yang beberapa waktu belakangan ini sering muncul, kembali terngiang lagi di ingatan. Gambaran saat dirinya masih sangat muda, saat ibunya masih hidup, mereka sering datang ke sebuah tempat di mana terdapat sebuah makam seseorang.
__ADS_1
Seketika itu juga, linangan air mata menerobos celah di antara bulu mata lentik Liana, hingga tak dapat dibendung lagi. Meski isaknya tak terdengar, namun lelehan itu semakin deras turun di pipinya.
Jadi, itu semua bukan mimpi, batin Liana.
Rasa sesak seketika menyerangnya. Otak pintarnya secara langsung bisa menangkap kepingan demi kepingan masa lalunya. Ikatan dan kaitan antara dirinya serta semua kejadian ini kini telah terungkap sekaligus.
Kakinya seketika lemas, hingga membuatnya ambruk bersimpuh di lantai ruangan itu. Liana menangis dalam diam.
Bahkan, Debora pun bisa merasakan bagaimana berkecamuknya perasan Liana saat ini. Wanita itu memilih untuk diam, dan membiarkan Liana menerima semua yang didengarnya saat ini.
Gadis itu terlihat memukul-mukul dadanya yang kian lama semakin sesak. Namun, Liana tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan tersebut, dengan meninggalkan poto kedua orang itu.
“Lilian! Mau kemana kamu?” panggil Debora.
Namun gadis itu seolah tak peduli. Dia terus berjalan menjauh dari tempat itu. Saat dirinya baru mencapai anak tangga paling bawah, sebuah dering dari ponselnya membuat langkahnya terhenti.
Diambilnya benda pilih itu, dan dilihatnya ada sebuah panggilan dari nomor asing masuk ke ponselnya.
Liana yang sedang tak bisa berpikir jernih pun, asal menggeser saja tombol hijau ke kanan. Dengan gerakan pelan, Liana menempelkan ponselnya ke telinga.
“Halo,” sapa Liana.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Liana segera berlari menuju pintu keluar, dan bahkan dia melupakan sepatunya yang masih tertinggal.
Dengan segera, dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari area mansion besar keluarga Wang.
Air mata terus mengalir di pipinya, dengan detak jantung yang terus bertalu-talu seolah memompanya semakin besar dan membuat dadanya kian sesak.
Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu kembali ke Metropolis, dan mengambil kembali benda peninggalan dari ibunya yang masih di tangan Bibi Caroline.
Perjalanan panjang dari negera bagian A ke Metropolis, saat itu juga dia lakukan tanpa persiapan apapun. Pikirannya kalut setelah mengetahui kenyataan yang selama ini tertutup rapat darinya.
Aku harus cari petunjuk dari benda peninggalan ibu. Di sana pasti ada sesuatu yang bisa menjelaskan semua ini, batin Liana.
Dengan mengendarai mobil sport yang memiliki kecepatan tinggi, Liana tak peduli jika dia harus mengebut seperti orang kesetanan di jalan raya siang hari seperti ini, dan bisa jadi dia akan kena tilang dari polisi lalu lintas.
Namun, gadis itu sudah tak mau berlama-lama hidup dalam ketidak pastian seperti ini. Dia harus tau siap dia sebenarnya, karena seingatnya, dia memang tidak pernah tau siapa ayahnya, sedangkan sang ibu selalu mengalihkan perhatiannya dari hal itu.
Sekitar empat jam lebih Liana berkendara seorang diri, ke kota yang sempat menjadi kampung halamannya sebelum pindah ke negara bagian A.
__ADS_1
Dia melajukan mobilnya menuju ke rumah lamanya, untuk menemui bibinya di sana.
Begitu tiba di depan pagar, gadis itu nampak keluar dari mobil dan berlari masuk begitu saja ke halaman rumah tersebut.
“Bi! Bibi, ini kau Liana! Bibi, buka pintunya!” teriak Liana.
Dia sudah tak punya akal sehat lagi semenjak saat melihat foto di ruangan terkunci itu. Liana bahkan dengan terang-terangan menyebutkan namanya, dan melupakan sandiwara amnesia nya. Bahkan dia pun lupa dengan wajahnya yang sudah pulih dan pasti akan menimbulkan kegemprana di sana.
“Bibi! Bibi, keluar! Ini aku Liana! Kelaur, bi!” teriak gadis itu.
Karena kegaduhan yang dilakukan olehnya, seorang tetangga pun keluar dan melihat hal tersebut.
“Hei, apa kau bisa diam? Kau sangat berisik, Nona,” seru wanita tua itu.
Liana seketika menoleh, dan melihat tetangga yang sangat dikenalnya. Dia pun berjalan menghampiri wanita itu.
“Bibi Dora. Bi, ini aku Liana. Di mana Bibi Carol? Kenapa rumahnya begitu sepi?” tanya Liana cepat.
Wanita bernama Dora itu terkejut, mendengarkan pengakuan dari gadis di hadapannya itu.
Dia mengulurkan tangannya dan menangkup kedua pipi Liana.
“Apa ini benar kau, Liana? Kau masih hidup? Wajahmu, wajahmu bahkan sudah pulih,” ucapnya.
“Iya, Bi. Ini aku, Liana. Ceritanya panjang. Tapi, aku harus bertemu dengan Bibi Carol sekarang. Di mana dia, Bi? Cepat beritahu aku,” pinta Liana.
“Mereka sudah lama pergi. Rumah itu bahkan sudah dijual pada orang lain, tapi masih belum ditempati sampai sekarang. Mereka membiarkan tempat itu kosong bertahun-tahun,” ungkap Bibi Dora.
“Apa?” pekik Liana.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘