Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Meracau


__ADS_3

“Tolong Serahkan Nona Wang kepada saya, Tuan muda Chen,” seru pria itu.


Christopher merasa keberatan karena tak mengenal pria tersebut. Namun, di kursi belakang, nampak seseorang yang sudah duduk di dalam sana. Pemuda itu pun mencoba membungkuk dan melihat siapa yang berada di sana.


Urat di keningnya seketika mengendur kala melihat sosok tersebut.


“Ah... Baiklah. Aku serahkan dia padamu. Tugasku selesai sampai di sini,” ucap Christopher.


Dia pun membantu Liana untuk masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi belakang, di samping orang tadi.


Setelah Liana duduk, Christopher kembali menjauh dan berdiri di samping mobil. Sebelum pintu tertutup, dia kembali berucap.


“Jaga kekasihmu baik-baik. Hati-hati, dia sedang mabuk. Kau tahu, saat seorang gadis mabuk, dia bisa lebih ganas dari pada singa betina,” lanjut Christopher.


“Serahkan padaku. Kau bisa kembali untuk beristrikan, Tuan muda Chen,” sahut pria yang ternyata adalah Falcon.


Pintu kemudian di tutup, dan mobil pun melaju meninggalkan tempat pesta, dengan Liana yang masih tak sadarkan diri.


Rupanya, Falcon terlebih dahulu pergi ke bawah, setelah salah satu anak buahnya memberitahukan bahwa Liana dan Christopher berjalan hendak pergi dari aula.


Dia bahkan tak mengantarkan Lusy sampai kamar hotelnya, melainkan hanya sampai depan pintu lift. Dia beralasan bahwa masih ada urusan lain yang harus di selesaikan.

__ADS_1


Lusy kembali dibuat kesal, karena lagi-lagi dia dibohongi oleh seorang pria. Moses selalu dibuat kebingungan dengan sikap Lusy yang seperti itu. Masalahnya tak pernah jauh dari urusan pria.


Dalam hati, bahkan Moses membenarkan perkataan Liana yang menyamakan antara Lusy dengan Amber yang terobsesi dengan para pria.


Dia pun mengatakan pada anak gadisnya itu untuk beristirahat terlebih dulu dan memikirkan Falcon maupun Christopher lagi nanti.


Setelah membawa pergi Liana dari hotel tersebut, Falcon meminta anak buahnya untuk mengantarkannya ke apartemen Liana.


Namun, di tengah jalan, gadis itu bangun dan membuat ulah. Liana yang sedari tadi duduk dengan kepala bersandar di pintu, kini tiba-tiba tegap, namun kemudian kembali lemas dan tertunduk.


Falcon duduk dengan tenang sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Dia hanya melirik gadisnya yang sudah benar-benar mabuk itu. Lagi-lagi, Liana kembali duduk tegap, dan kali ini menoleh ke samping, di mana Falcon duduk.


Liana mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan mata yang memicing melihat ke arah Falcon.


Tiba-tiba, dia menyeriangi, memamerkan deretan gigi putihnya, namun kali ini dengan bau alkohol yang menyengat.


“Sejak kapan kau di sini, hah? Bukankah kau pergi dengan tuan putri itu?” tanya Liana.


Kepalanya lagi-lagi tertunduk dan dia mencoba mengangkatnya kembali.


“Tidak! Ini bukan kekasihku. Aku pasti hanya sedang berhalusinasi, karena sangat ingin memarahinya,” racau Liana.

__ADS_1


Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Falcon. Awalnya dia hanya mengusap wajah sang kekasih dengan perlahan, namun lama-lama dia menepuk semakin keras hingga Falcon harus memegangi tangan Liana.


“Lepas!” seru Liana.


Gadis itu meronta minta tangannya dilepaskan.


“LEPAS!” pekik Liana semakin keras.


Falcon pun melepaskan tangan gadis itu dan membiarkan Liana kembali berulah.


“Apa kau senang bisa menari dengan anak si Jung si*lan itu, hah? Apa kau kira bisa membuatku cemburu? Hahahaha... Kau benar! Aku cemburu. Selamat!” ucap Liana sambil bertepuk tangan.


Sikapnya sudah benar-benar jauh dari kata waras. Bahkan kedua orang yang duduk di depan pun sampai harus menahan tawa melihat sikap Liana yang seperti ini.


.


.


.


.

__ADS_1


Pokonya jangan lupa like, komen, kopi sama votenya lah😁


__ADS_2