
“Apa maksudmu aku haru memilih? Aku ingin keduanya. Satu akan ku bunuh, dan satu lagi akan ku kurung di tempat pribadiku. Kau sama sekali tidak berhak untuk keberatan. Ingat! Aku sudah membayarmu untuk semua ini,” ucap Amber.
“Bayaranmu hanya untuk satu orang. Ambil satu dan akan ku bawa yang lainnya,” ucap Henry.
Amber menginginkan kedua orang itu, dengan kondisi yang berbeda. Amber ingin Liana mati agar rahasianya tetap aman, dan membawa Peter hidup-hidup, lalu menjadikannya budak untuk selamanya.
Namun, saat ini ancaman terbesarnya adalah Liana. Dia harus bisa secepatnya membereskan gadis itu. Amber bisa mendapatkan Peter lain kali dengan bantuan Henry lagi.
“Aku pilih gadis itu mati. Cepat habisi dia atau berikan pistol mu padaku! Aku tak mau berlama-lama di sini,” seru Amber.
“Apa kau akan membunuhku?” tanya Liana.
Gadis itu masih mendongak ke atas karena tarikan rambutnya tertarik, dan membuatnya susah payah melirik ke arah Amber
“Iya. Kenapa? Sudah bisa takut sekarang? Di mana sifat arogan mu itu hah? Hahahaha...,” ejek Amber.
“Siapa bilang aku takut? Aku hanya ingin menanyakan sesuatu sebelum aku mati. Apa boleh?” tanya Liana.
"Kau sudah mau mati, masih mau menanyakan apa, hah?" ucap Amber.
“Apa kau kemari dengan pesawat jet milik Tuan Harvey?” tanya Liana.
__ADS_1
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja. Apa kau pikir dia akan memihakmu? Dia lebih memilih keluarganya dibanding orang tak jelas seperti mu,” jawab Amber.
“Benarkah Tuan Harvey se naif itu? Apa dia tak memberitahumu tentang resiko jika kau melenyapkan ku saat ini? Hah?” tanya Liana lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Amber tak paham.
“Aku rasa, bahkan kekasih gelapmu itu pun sudah memintamu untuk waspada terhadap ku, bukan? Dia bahkan sudah tak mau menuruti perintahmu lagi, sehingga kau bekerja sama dengan anjingnya. Hahahaha... Sungguh cocok, rubah betina dan anjing berkumpul,” ucap Liana.
Gadis itu sama sekali tak terlihat takut sedikit pun, meski nampak sudah tak ada lagi celah untuk dirinya melarikan diri dari situasi genting itu.
“Aku bukan orang b*doh yang melakukan sesuatu tanpa persiapan. Kemarin, aku hanya memberitahu dunia tentang kemiripan mu dengan putri Moses Jung. Tapi jika terjadi sesuatu padaku, besok pagi, jangan harap kau masih bisa berdiri dengan wajah angkuh mu itu, karena dunia akan tahu sebusuk apa wajah dibalik topeng bangsawan mu itu,” ancam Liana.
Henry melihat ke arah Liana. Gadis itu masih saja tertawa kecil mengejek kliennya. Dia tahu jika Liana adalah ahli provokasi. Sebuah senyum pun tersungging di bibir Henry.
Dia pun melepaskan kepala kedua sandera itu, dan berjalan ke arah jendela, kemudian bersandar di sana.
“Aku tidak pernah menggertak orang. Apa yang telah ku katakan pasti akan ku lakukan. Mengenai orang itu, apa kau setakut itu pada Alex? Yah, dia memang lebih hebat dari mu. Wajar jika kau takut padanya,” ucap Liana.
“Aku tidak akan mempan dengan omonganmu. Tempat ini sangat sulit ditemukan, sama seperti pulau karang tempat kalian bersembunyi selama ini. Jadi, mari kita lihat, apakah dia bisa berasil menemukanmu tepat waktu atau menemukan mayatmu?” sahut Henry.
Dia nampak melihat arlojinya.
__ADS_1
“Wah... Sudah hampir waktunya. Tapi, sepertinya dia tidak akan datang,” lanjutnya
Henry kembali mendekat ke arah Liana, dan berdiri di belakang gadis itu. Pria tersebut sedikit membungkuk, hingga wajahnya sejajar dengan Liana.
“Aku hanya memberinya waktu sampai tengah malam. Tebak sudah jam berapa sekarang? Tepat pukul belas malam. Waktu mu hanya tersisa satu jam lagi! Berharaplah kau masih bisa melihat wajah kekasihmu itu, di detik-detik terakhir hidupmu. Hahahahaha... Dan aku pastikan dia akan jadi orang gila setelah itu. Hahahaha...,” ucap Henry.
“Cuih! Sudah ku duga kau itu tidak sebanding dengan dia. Dia tak pernah mengancam orang dengan menggunakan sandera. Tindakan mu ini benar-benar tindakan seorang pengecut."
"Apa kau iri karena posisi ketua geng di pegang oleh Alex, dan Moses Jung hanya menjadikanmu anjing setia untuk nya? Ku rasa dia cukup pintar memilih orang. Tapi masih saja b*doh karena sudah memelihara anjing yang malah menggigit majikannya sendiri,” oceh Liana kasar.
Henry geram. Dia akhirnya terpancing dan memukul wajah Liana sebanyak dua kali. Liana pun mendesis kesakitan.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘