
Salah satu rekan setim nya pun mendatangi Falcon, yang saat itu sudah setengah mabuk. Pria itu baru menghabiskan beberapa botol arak dan itu belum bisa membuatnya tumbang.
Penampilannya Benar-benar berantakan. Lingkar matanya cekung dan gelap. Bola matanya merah karena kurang istirahat dan terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.
“Hai, Tuan muda. Sedang apa kau di sini?” tanya orang tadi.
Falcon menoleh dan mendapati seseorang yang cukup ia kenal.
“Oh... Apa The Palace sekarang pindah ke mari? Atau, kalian juga mau memata-mataiku, hah?” ucap Falcon sinis.
“Apa yang sudah terjadi padamu? Beberapa hari ini tak terlihat masuk bekerja, dan kau malah berada di sini. Ini masih terang dan kau sudah hampir tumbang. Apa ini karena Nona Wang?” tanya orang itu.
“Bukan urusan mu!” jawab Falcon dingin.
“Baiklah. Ini memang bukan urusanku. Tapi sebagai rekan kerja, aku hanya ingin mengingatkanmu, jika The Palace sangat membebaskan karyawannya dalam bekerja. Namun, pimpinan kita yang tak lain adalah kakekmu, tidak akan tinggal diam jika karyawannya merugikan perusahaan barang sedikit pun, sekalipun itu dirimu,” seru orang tadi.
Falcon tak peduli dengan perkataan dari rekannya itu, dan kembali meneguk minumannya.
Sang rekan satu tim merasa kesal karena Falcon bersikap tak acuh. Dia pun memilih untuk beranjak dari sana dan kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain.
__ADS_1
Namun, baru beberapa langkah, orang itu kembali berbalik dan memberitahukan bahwa saat ini, Liana tengah dibawa pergi menemui Tuan Harvey.
“Ah, aku hampir lupa. Sepertinya atasan kita sedang bertindak sekarang. Dia memanggil Nona Wang untuk menemuinya. Sepertinya pertemuannya menyangkut dirimu yang tiba-tiba seperti sekarang ini,” ucapnya.
Falcon yang sejak tadi terus minum dan tak peduli dengan perkataan rekannya itu pun tiba-tiba berdiri karena terkejut dengan penuturan orang tersebut.
“Di mana dia membawa pergi Liana?” tanya Falcon.
“Entahlah. Yang aku tau hanyalah Tuan Jack datang ke lahan dan membawanya pergi. Aku rasa, kau lebih tahu di mana pimpinan membawa Nona Wang pergi,” sahut orang itu.
Tanpa ba bi bu lagi, Falcon pun segera pergi dari sana dengan kondisi setengah mabuk. Dia nekad mengendarai mobilnya sendiri dalam keadaan seperti itu, demi mencari keberadaan Liana yang saat sedang bersama kakeknya.
Dia memaki keb*dohannya sendiri yang mencoba melawan kakekya, dan melupakan jika pria tua itu adalah orang yang kejam dan berdarah dingin. Dia bisa melakukan apapun juga demi mencapai tujuannya, sekalipun melenyapkan nyawa seseorang.
Kini, Falcon benar-benar khawatir dengan kondisi Liana.
Dia terlebih dulu mencari gadis itu di perusahaan, sebagai tempat terdekat yang mungkin didatanginya.
The Palace nampak telah sepi, karena saat itu sudah lewat jam kerja, dan para karyawan sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Dia segera naik ke lantai atas, namun sesampainya di sana, ruangan besar tersebut sudah kosong. Menurut petugas keamanan yang berjaga di lantai tersebut, Tuan Harvey telah keluar dari kantor satu jam sebelum jam kerja berakhir.
“Rumah. Apa mungkin dia membawanya ke tempat itu?” terka Falcon.
Dia benar-benar kalang kabut mencari keberadaan Liana. Mabuknya sudah tak ia pedulikan lagi. Dipikirannya saat ini hanyalah menemukan Liana, dan mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
Satu jam perjalanan ia tempuh dari Empire State menuju ke Sky Castle, berharap dia bisa menemukan Liana di sana.
.
.
.
.
Ketemu nggak ya... kemana kira-kira Tuan Harvey ajak Liana ketemuan?
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘