Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tuduhan


__ADS_3

“Aaaaaarrrgghhh!” Pekik Liana karena terkejut dengan apa yang dilihatnya.


“Kenapa berteriak?” tanya Falcon yang baru saja muncul dari dalam kamar.


“Kenapa kau berpenampilan seperti itu?” tanya Liana.


Liana begitu panik saat melihat Falcon yang keluar dari kamarnya, hanya memakai handuk yang melilit di pinggang. Tubuh kekar berotot serta perut kotak-kotak sangat gelas tercetak di sana.


Seketika, wajah Liana memerah dan terasa panas. Dadanya bahkan berdebar ketika melihat mahakarya Tuhan yang begitu menggoda.


Liana yang polos itu masih memalingkan wajahnya, menghindari melihat Falcon saat ini.


“Apa yang salah sih?” tanya Falcon balik.


Pria itu berjalan menghampiri Liana di tempat makan, dan duduk di sampingnya. Namun, Liana buru-buru lari dan menuju ke sofa, untuk mengambil selimut yang semalam dipakai oleh Falcon.


Liana kemudian kembali ke tempat pria itu berada, dan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut tadi.


“Pakai ini dulu! Aku akan carikan sesuatu yang bisa kau pakai,” seru Liana.


Falcon menahan senyumnya, dan membetulkan selimut yang hanya tersampir di pundaknya.


Sementara Liana, dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengacak-acak seisi lemari, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai sementara oleh Falcon.


Dia menemukan jaket ber hoodie, dengan ukuran over size yang mungkin pas dengan tubuh Falcon. Namun sayang, dia tak bisa menemukan bawahan yang pas untuk pria itu.


“Sudahlah. Suruh dia pakai handuk dulu untuk sementara, sampai Nine datang dan membawakan pakaian ganti untuknya,” gumam Liana.


Gadis itu kembali keluar dengan membawa jaket tersebut, dan meminta Falcon untuk mencobanya.


“Celananya bagaimana?” tanya pria itu.


“Aku tak punya bawahan yang pas untuk mu. Sementara, kau pakai handuk dulu saja sampai Nine datang mengantarkan pakaian gantimu,” sahut Liana.


“Hah, ya sudah,” ucap Falcon.


Dia kemudian membuka selimutnya, namun lagi-lagi Liana memekik dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Falcon kembali harus menahan tawanya, karena melihat tingkah Liana yang menurutnya sangat lucu.


“Sudah belum?” tanya Liana.


“Belum,” sahut Falcon.


Pria itu menutup mulutnya karena berusaha menahan tawa agar tak sampai bersuara. Setelah beberapa saat kemudian, Liana kembali bertanya.


“Sudah belum?” tanya Liana.

__ADS_1


“Belum,” sahut Falcon.


“Kenapa lama sekali? Apa kau sedang mengerjaiku?” tanya Liana kesal.


“Tidak. Aku memang belum selesai,” jawab Falcon.


“Kau pasti bohong,” ucap Liana.


Gadis itu kemudian melepas tangannya dan mencoba melihat pria tersebut. Dia yakin jika Falcon hanya sedang mengerjainya saja.


“Aaaarggghhhh!” pekik Liana


Ternyata dia salah. Falcon memang belum memakai jaket yang diberikannya, dan itu membuat Liana malu dan kembali menutup matanya.


“Apa ku bilang. Aku memang belum selesai,” ucap Falcon tepat di depan telinga Liana.


“Kau memang dari tidak memakainya kan. Kau hanya mau mengerjai ku. Dasar mesum!” keluh Liana.


“Hei, Nona. Kau sendiri yang mesum. Aku sudah bilang, kalau aku belum selesai. Tapi kau malah tetap melihatnya. Siapa yang mesum di sini?” tanya Falcon.


“Menyebalkan! Terserah kau saja lah," keluh Liana kesal.


Gadis itu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Sebelum menutup pintu, dia kembali berbicara tanpa menoleh ke arah Falcon yang masih tertawa melihat wajah malu Liana.


“Aku akan bersiap-siap pergi. Hari ini, aku harus ke Dream Hill menemui kakekku. Kalau kau mau keluar, pakailah kartu akses yang ada di atas meja depan,” ucap Liana.


...👑👑👑👑👑...


Beberapa saat kemudian, Liana sudah siap pergi. Dia berjalan keluar kamar dan menghampiri Falcon yang sedang duduk menonton TV.


“Aku pergi dulu. Di lemari pendingin ada beberapa makanan kecil. Kau boleh mengambilnya. Tapi ingat, kau harus ganti dengan yang baru,” seru Liana.


“Baik, Nyonya,” sahut Falcon tanpa melepaskan pandangannya dari TV.


“Jangan lupa sebelum kau pergi, pastikan semua peralatan listrik, alat masak dan kran air mati. Apa kau paham?” seru Liana lagi.


“Kau cerewet sekali,” keluh Falcon.


“Haish! Dasar tukang keluh. Aku pergi dulu,” pamit Liana.


Gadis itu pun keluar meninggalkan Falcon di dalam apartemennya seorang diri.


Liana hari ini bermaksud hendak menemui Kakek Joseph, untuk membahas tentang masalah semalam. Sekaligus untuk menjelaskan kenapa Jessica tidak ikut makan malam tersebut.


Semalam, saat Kakek Joseph menanyakan di mana Jessica berada, Liana sama sekali tak peduli dengan hal itu. Jika pun Jessica menghilang, itu akan lebih bagus untuknya.


Hanya saja, pengakuannya sebagai cucu kandung Kakek Joseph akan semakin sulit dijelaskan, dan bisa jadi dialah yang akan disalahkan atas menghilangnya Jessica.

__ADS_1


Intinya, selama dia belum bisa mengungkap kedok dibalik topeng Jessica dan Caroline, Liana belum bisa menyingkirkan mereka berdua selamanya.


Setelah melewati hutan pinus yang begitu luas di daerah timur negara bagian A, kini Liana mulai memasuki kawasan Dream Hill, milik pribadi Kakek Joseph.


Dari kejauhan, telah nampak gerbang hitam yang menjulang begitu tinggi di depan sana.


Liana pun masuk dengan menggunakan remote nya dan melajukan mobil hingga sampai di tempat parkir.


Dia kemudian  berjalan ke arah pintu, dan seperti kebiasaan di rumah tersebut, siapapun yang hendak masuk, kecuali Kakek Joseph, harus selalu mengetuk pintu terlebih dahulu.


Beberapa kali Liana mengetuk pintunya, akan tetapi tak ada yang membukakan. Namun dari luar, Liana sayup-sayup mendengar sebuah keributan dari dalam sana.


“Seperti suara Kakek? Tapi kenapa dia marah-marah? Siapa yang dimarahinya?” tanya Liana pada diri sendiri.


Liana pun kemudian membuka pintu begitu saja, dan melihat sebuah pemandangan yang tak terduga oleh.


Jessica dan ibunya tengah bersimpuh di hadapan kakek tua itu, dengan penampilan yang sungguh menyedihkan.


Bahkan pipi kedua wanita itu nampak memar, dan Liana bisa menebak jika mereka baru saja dipukuli oleh kakek.


Menyadari kehadiran Liana, Jessica tiba-tiba berdiri dan berlari menyerang gadis yang baru tiba itu.


“Ini semua gara-gara kamu!” maki Jessica hendak menampar Liana.


Namun, Liana segera menghindar hingga Jessica yang justru jatuh tersungkur, akibat tak mengenai targetnya.


“Ini semua karena dia, Kek! Ini semua salahnya!” tuding Jessica.


Liana hanya bisa berdiri diam dengan keningnya yang sudah sangat berkerut. Dia tak tau apa yang sudah terjadi, tapi justru dituduh menjadi penyebabnya.


“Lilian, aku minta kau jelaskan kejadian semalam dengan sejujur-jujurnya,” seru Kakek Joseph dengan menahan amarahnya.


Rahangnya terlihat mengeras, dengan gigi yang terdengar bergemeletuk.


 .


.


.


.


Nungguin ya🤭tinggal 1 bab lagi buat hari ini, tapi agak malem ya😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2