Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Cucu yang hilang


__ADS_3

Di ruang UGD rumah sakit pusat pemerintah kota Golden City, nampak seorang pria tua tengah terbaring dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


Bunyi dari alat EKG membuat suasana semakin mencekam, ditambah helaan nafas yang terdengar, dari balik masker oksigen yang dipakai pasien.


Gadis belia yang telah dua tahun belakangan ini menghiasi hari-harinya yang sepi, saat ini pun tengah menemaninya di ruangan berbau desinfektan itu.


Dengan wajah dinginnya, dia menatap raut pucat Kakek Joseph yang masih terbaring tak sadarkan diri di ruang unit gawat darurat.


Dia teringat akan perbincangan Jimmy dan dokter beberapa waktu yang lalu. Dia tak menyangka jika kehidupan seorang yang kaya raya seperti beliau, bisa se menyedihkan ini.


“Apa dulu kau adalah orang yang kejam, sampai Tuhan harus menghukum mu seperti ini, Kek?” gumam Liana seolah tengah mengajak bicara kakek tua yang masih diam itu.


...👑👑👑👑👑...


Beberapa waktu yang lalu, saat dokter keluar untuk pertama kalinya dari ruang UGD, Jimmy dan juga Liana yang pada saat itu tengah berbincang tentang kronologi penemuan kakek Joseph pun, segera menghampiri.


“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Jimmy.


“Sepertinya, kita harus melakukan tindakan darurat secepatnya. Sudah tidak bisa ditunda lagi,” jawab dokter.


“Apa tidak ada cara lain? Anda sangat paham bagaimana sikap tuang besar. Dia tidak mau naik ke meja operasi, sebelum cucunya ditemukan,” ucap Jimmy.


Liana seketika menoleh ke arah Jimmy, dengan mata sedikit memicing dan kepala yang agak miring ke kanan, serta sudah pasti keningnya yang mengerut sempurna.


Cucu? Jadi selama ini, kakek punya cucu, dan cucunya hilang? Ya Tuhan! batin Liana.


Jimmy menoleh sekilas dan melihat ekspresi terkejut dari gadis itu, namun dia tak menanggapinya sedikitpun.


“Tapi, perawatan dengan obat-obatan, tidak akan terlalu berdampak padanya. Bahkan kalau diteruskan, khawatirnya akan ada pendarahan dalam. Menurut hasil cek up beliau terakhir kali pun, terdapat darah di urin serta feses nya. Itu menunjukkan jika obat ini sudah harus diganti,” ucap sang dokter.


“Baiklah. Saya akan coba bujuk beliau saat bangun nanti. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa memutuskan apapun kecuali beliau sendiri,” sahut Jimmy.


“Baiklah. Semoga saja saat dia bersedia, semuanya belum terlambat,” ujar sang dokter.


Jimmy terlihat masih berbincang dengan dokter mengenai hal lainnya, sedangkan Liana berjalan menuju ke depan pintu UGD yang terbuat dari kaca tebal tembus pandang.

__ADS_1


Dia mencoba melihat kakek tua malang itu dari balik pintu. Terlihat di sana, ada beberapa perawat tengah memasangkan sesuatu di tubuhnya.


Saat melihat pria tua itu tengah dalam kondisi yang lemah, entah kenapa ada rasa aneh yang menyerangnya.


Aku turut prihatin dengan nasibmu, Kek. Aku tak menyangka jika Anda begitu kesepian selama ini, sambil terus mencari keberadaan cucumu. Aku doakan, semoga dia segera kembali pada Anda, sebelum semuanya terlambat, batin Liana.


Setetes bening meluncur begitu saja di pipi mulusnya. Dia bahkan tak menyadari, jika air mata itu lolos dari deretan bulu mata lentiknya.


Setelah beberapa saat, seseorang menepuk bahu Liana, dan gadis itu pun menoleh. Rupanya, sang dokter hendak kembali masuk ke dalam dan meminta Liana untuk bergeser dari depan pintu.


Di luar, Liana kembali berjalan menghampiri Jimmy yang sudah duduk di kursi tunggu.


“Paman, boleh aku tahu kenapa cucu kakek sampai hilang? Sudah berapa lama? Di mana hilangnya? Ciri-ciri nya seperti apa? Mungkin saja aku bisa bantu untuk mencarinya? Atau, saat berpapasan dengannya dijalan mungkin,” tanya Liana.


Gadis itu duduk dan terus menatap wajah Jimmy yang nampak datar. Namun, Liana jelas melihat gurat khawatir di sana.


“Bahkan tuan besar pun tidak tahu rupa cucunya seperti apa. Sudahlah, lagi pula ini buka urusanmu. Kau hanya orang luar, mengerti?” ucap Jimmy dengan dinginng.


“Aku tau aku hanya orang luar. Tapi selama ini, kakek sudah baik padaku, dan menganggapku seperti bagian dari mansion dream hill. Meskipun bukan keluarga, setidaknya hubungan kami juga jauh lebih dekat dari sekedar atasan dan bawahan,” sanggah Liana.


“Jika kau mau tahu, tanyakan sendiri padanya nanti, itu pun jika dia mau memberi tahu mu. Aku tidak ada hak untuk mengatakan hal itu. Kau paham?” seru Jimmy ketus.


Selalu saja dingin. Dasar orang-orangan kutub, rutuk Liana dalam hati.


...👑👑👑👑👑...


Beberapa jam sejak masuk ruang UGD, Liana nampak kelelahan, dan membuatnya tidur dengan posisi duduk bersandar di kursi, yang ada di samping ranjang pasien.


Saat itu, hari sudah malam, dan suasana sangat sepi di ruangan tersebut. Jimmy memilih untuk berjaga di luar dan membiarkan Liana yang menemani kakek tua itu di dalam sana.


Gadis itu tertidur dengan kepala yang tak bersandar, dan membuatnya sesekali terbangun karena kaget.


Saat dalam kondisi setengah sadar, Liana mendengar suara yang tak begitu jelas dari arah kakek tua itu. Dengan kondisi yang masih mengantuk, Liana memicingkan pandangannya dan memperhatikan baik-baik pasien di depannya itu.


Terlihat jika bibir Kakek Joseph tampak bergerak. Liana pun segera membuka mata lebar-lebar dan menyadari jika Kakek Joseph telah menunjukkan tanda-tanda sadar kembali.

__ADS_1


Gadis itu segera menekan tombol merah yang berada di dekat ranjang pasien, dan seketika sirine darurat berdengung di ruangan pos petugas medis di rumah sakit tersebut.


Beberapa petugas medis yang saat itu sedang berjaga, segera menyerbu ke dalam ruang UGD untuk memeriksa kondisi kakek Joseph saat.


“Tolong Anda tunggu di luar. Biar kami memeriksa kondisinya terlebih dulu,” seru salah seorang perawat.


Liana pun menurut dan keluar. Di sana, ada Jimmy yang juga terkejut dengan kedatangan para tim medis, yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang UGD.


“Ada apa?” tanya Jimmy.


“Tadi aku lihat kakek seperti bergumam sesuatu. Terus, aku segera mencet tombol darurat,” tutur Liana.


Jimmy tampak menatap menembus ke dalam pintu kaca UGD, dan melihat para tim medis sedang melakukan pengecekan terhadap tuan besarnya.


“Semoga dia baik-baik saja,” gumam Jimmy.


Tak berselang lama, dokter keluar untuk menghampiri Jimmy dan juga Liana. Keduanya pun segera menyerbu dengan pertanyaan seputar kondisi Kakek Joseph.


“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Jimmy.


“Beliau sudah sadar. Tapi, kondisinya masih harus terus dipantau. Jika nanti pasien merasakan nyeri atau sesak di dadanya, segera beritahu kami. Kemudian untuk masalah sebelumnya, segera diskusikan dengan beliau sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap sang dokter.


“Baik, Dok. Terimakasih,” sahut Jimmy.


Setelah dokter itu pergi, Jimmy segera masuk di susul oleh Liana di belakangnya.


Seolah tahu apa yang hendak di katakan sang asisten, Joseph seketika mengangkat satu jarinya sebagai isyarat, bahwa Jimmy harus tetap diam.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2