Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Aku tak peduli


__ADS_3

Di dalam pesawat, setelah burung besi itu sudah stabil terbang di udara, Falcon meminta seorang awak kabin menyiapkan menu makan siang untuk sang istri. Namun, Liana nampak tak berselera dan hanya mengaduk-aduk hidangan yang di sajikan.


Akhirnya, Falcon pun meminta istrinya untuk beristirahat di dalam kamar tidur, akan tetapi lagi-lagi Liana menolak dan tetap duduk di kursi yang berhadapan dengan suaminya itu.


Falcon mengira jika saat ini, Liana pasti sedang memikirkan tentang keluarganya yang baru saja ditinggalkan di Negara bagian A.


Gadis itu nampak terus diam, sambil memandang keluar jendela pesawat, dengan bertopang dagu dan tatapan yang kosong.


“Sweety, apa secepat ini kau sudah merindukan keluargamu?” tanya Falcon.


Pria itu meraih tangan sang istri dan mengecup punggung tangannya lembut. Dia beranjak dari kursinya dan duduk di samping sang istri, dan menuntun kepala gadis itu agar bersandar di bahunya.


“Sedikit. Tapi, yang mengganggu pikiranku adalah kelaurgamu. Bagaimana mereka akan menerima pernikahan kita?” tanya Liana.


Falcon mengecup puncak rambut sang istri, dan mengusap lengan gadis itu dengan lembut


“Aku sudah pernah katakan, bukan? Aku tetap akan menikahimu, dengan atau tanpa restu dari mereka. Aku tak peduli sama sekali dengan keluarga itu. Karena yang akan selalu ku ingat adalah, mereka sudah membuangku. Jadi, apapun yang ku lakukan,tak ada urusannya dengan mereka,” ucap Falcon.


Liana melingkarkan lengannya di pinggang sang suami, yang selalu terasa nyaman untuknya.


“Lalu, setelah tiba di Empire State, kita akan tinggal di mana?” tanya Liana.


“Aku sudah membeli sebuah apartemen di pusat kota untuk tempat tinggal sementara kita. Tempatnya dekat dengan asramamu yang dulu, sehingga bisa memudahkanmu untuk menemui mereka kapanpun. Aku juga sudah mencari lokasi yang bagus untuk kantor mu nanti,” jawab Falcon.


Mendengar hal itu, Liana mendongak menatap lekat wajah suaminya.


“Benarkah? Waw... Kau bahkan sudah mempersiapkan kantor untuk ku. Terimakasih, Honey,” ucap Liana.

__ADS_1


“Apa begini caranya berterima kasih pada suamimu, hah?” keluh Falcon.


Wajahnya sengaja dibuat cemberut, dan membuat Liana mengerutkan kening.


“Lalu?” tanya gadis itu.


Falcon menyeringai. Dia seketika mengangkat Liana dan membuat gadis tersebut duduk di atas pangkuannya. Liana memekik karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari suaminya itu.


“Cium aku!” seru Falcon.


“Di sini? Bagaimana kalau ada yang... Ehm...,” Liana tak bisa meneruskan ucapannya.


Mulutnya telah dibungkam oleh Falcon, yang sejak tadi gemas dengan tingkah Liana yang ingin menghindar. Tangannya menahan tengkuk gadis itu agar ciuman mereka tak mudah lepas.


Awalnya, Liana yang terkejut mencoba memberontak, namun lama kelamaan dia pun membalas ciuman suaminya.


Lenguhan lirih muncul dari mulut gadis itu dan membuat Falcon semakin berh*srat. Lidahnya terus mengejar Liana dan menyapu seluruh rongga mulut sang istri.


Gigitan kecil di bibir Liana membuat gadis itu merasa bibirnya telah kebas. Falcon meninggalkan bibir ranum merah muda itu, dan berpindah ke bawah, menyusuri dagu hingga berahkir di leher.


Sentuhan bibir dan sapuan nafas hangat yang mengenai kulit Liana, membuat gadis itu semakin melenguh di atas pangkuan suaminya.


Sebuah sesapan di leher, membuat suara indah ke luar dari mulut Liana, dan membuat Falcon semaki terpacu.


Tangannya tak lagi bisa diam. Satu tangan menahan punggu gadisnya, dan satunya lagi mulai menelusup ke dalam gaun sang istri.


Usapan lembut di area paha Liana, membuat dia tak bisa duduk tenang. Sebuah rem*san di bok*ngnya, menimbulkan geleyar aneh di sekujur tubuh, yang berujung di pangkal pahanya, membuat gadis itu semakin bergerak-gerak tak tenang.

__ADS_1


Bibir Falcon semakin turun hingga ke ceruk leher dan tulang selangka Liana. Jejak-jejak merah bertebaran di sana, seolah pria itu ingin menandai bahwa Liana adalah miliknya.


Tangan Falcon bergerak ke depan, dan meraba perut datar Liana. Gadis itu semakin gelisah, namun begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


“Honey,” panggil Liana lirih di sela des*hannya.


“Panggil namaku, Sweety. Panggil namaku,” seru Falcon.


“A... Alex... Ehm... Alex...,” panggil Liana.


Falcon semakin menggila. Dia pun menurunkan tali bahu istrinya, dan membuat kedua bukit yang terbalut itu sedikit terlihat.


“Honey... Jangan di sini,” pinta Liana.


Gadis itu sudah sepenuhnya dikuasi oleh h*srat. Wajahnya memerah dengan mata yang terlihat sayu. Falcon sampai kesulitan menelan ludahnya saat melihat gadisnya yang seperti itu.


Dia pun mengangkat tubuh Liana dan membawanya masuk ke dalam kamar.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2