
Hari-hari berlalu, dan kehidupan rumah tangga kecil Falcon-Liana pun semakin terasa hangat. Sejak malam pertama mereka di resort sky, sekarang Falcon sering mencuri kesempatan setiap saat untuk bercinta dengan sang istri.
Seperti ketika Liana harus bekerja lembur untuk menyelesaikan disain interior pesanan salah satu pembeli unit hunian mewah Paradise, yang secara khusus meminta wanita berbakat itu untuk mendekorasi huniannya.
Berita mengenai Amber yang membawa-bawa nama Liana, membuat gadis itu secara tak langsung menjadi trending topik teratas akhir-akhir ini. Tak hanya sampai di situ, semua hasil karyanya yang sudah tercipta baik di Golden City maupun proyek terbarunya, hasil kolaborasi dengan The Palace, ikut menjadi sorotan, dan membuat banyak kalangan berbondong-bondong mencarinya untuk memesan rancangan original dari Liana.
Sehingga akhir-akhir ini, dia tak bisa beristirahat dengan baik, dan selalu sibuk dengan peralatan gambarnya entah itu di kantor maupun di rumah.
Untung saja, sang suami selalu mengerti dan melayani Liana dengan baik, meski sifat isengnya tak bisa hilang, dan sering membuat Liana kelabakan di keesokan harinya, karena malam harinya dia bergulat di atas ranjang dengan Falcon.
Saat ini, Liana tengah fokus pada kertas B3, yang biasa digunakan para arsitek untuk menggambar rancangannya.
Falcon mendekat, dan melihat bahwa istrinya masih belum istirahat, bahkan di jam yang sudah cukup larut ini. Dia pun berinisiatif membawakan air minum kepada wanita pekerja keras itu, dan meletakkannya dia meja kecil yang berada dekat dengan meja gambar.
Dia kemudian meletakkan kedua tangannya di pundak sang istri, dan memberikan pijatan pelan di sana.
“Ehm... Nyaman sekali. Kau belum tidur, Honey?” tanya Liana.
“Bagaimana aku bisa tidur, kalau istri ku saja masih sibuk bekerja seperti ini?" jawab Falcon.
“Kau tahu bukan, bahwa akhir-akhir ini aku kebanjiran banyak sekali pesanan disain. Mereka semua mau aku yang mengerjakannya. Rasanya ingin sekali segera menyelesaikan proyek kolaborasi ini dan menjalankan bisnisku. Dengan begini aku bisa menerima semua pesanan atas nama perusahaan dan dibantu oleh yang lain juga,” sahut Liana.
“Lihat! Kau begitu sibuk mencari uang, lalu bagaimana aku bisa dengan tenang tidur sendirian?” ucap Falcon.
Nada suaranya terdengar begitu memelas. Namun entah kenapa, Liana menaruh curiga akan sesuatu.
“Honey, benarkah hanya karena kau tak mau tidur sendirian?” sindir Liana.
Falcon sedikit menunduk dan bicara tepat di dekat telinga Liana.
“Menurutmu?” tanya Falcon.
Sebuah hembusan nafas hangat menyeka daun telinga Liana dan membuat wanita itu merasa geli. Tangan Falcon yang tadi memijat dengan benar, kini mulai menjalar dengan sentuhan-sentuhan aneh di area tengkuk dan pundak Liana.
Wanita itu pun menggeliat karena mendapatkan sentuhan lain dari Falcon.
“Honey,” panggil Liana lirih.
Suaranya terdengar gemetar. Sejak malam pertamanya dengan Falcon, entah kenapa seluruh tubuhnya mendadak berubah menjadi sangat sensitif, setiap kali diusap dengan lembut oleh suaminya.
N*fsu seketika naik dan membuat pangkal pahanya terasa tak nyaman hingga menjadi basah.
“Honey, aku... eehhmm... Sedang sibuk...,” ucap Liana terbata.
__ADS_1
“Aku tahu. Aku hanya ingin membantumu agar merasa sedikit relax,” sahut Falcon.
Jemarinya telah menelusup masuk ke dalam piyama tidur Liana, mengusap lembut perut rata wanita itu, dan naik hingga menyentuh bukit hangat nan menggoda sang istri yang masih terbelenggu.
“Honey... Ehhmmmmm... Stop, please...,” rintih Liana.
Namun, Falcon tak mau mendengarkan. Dia terus menggoda Liana dengan sentuhan-sentuhan lembut di tubuh sang istri.
Dia membuka kaitan bra di belakang punggung, dan membuat kedua bukit itu terbebas. Rem*san demi rem*san diberikan oleh Falcon, membuat Liana semakin menggelinjang di atas kursi kerjanya.
Tangan yang lainnya turun ke bawah, masuk ke dalam celana tidur sang istri yang bermotif kuda poni.
Dia meraba hutan legam mengkilap yang tumbuh subur di sana, hingga menutup lembah nan indah penuh kenikmatan.
Sementara bibirnya, terus menjalari leher jenjang Liana, menjilatnya serta menyesapnya hingga terdengar suara indah keluar dari mulut wanita itu.
Liana mencengkeram kuat pinggiran kursinya, menahan gejolak yang saat ini menyerangnya. Sentuhan sang suami benar-benar bagaikan arus listrik yang menyengat langsung ke titik intinya.
“Honey, jangan di sini,” pinta Liana.
Mendengar permintaan Liana tadi, Falcon pun menyeringai dan seketika menghentikan semua aksinya.
“As you wish, Sweety,” sahut Falcon.
Liana melingkarkan kedua lengannya di leher Falcon, sambil terus memagut bibir sang suami, hingga mereka tiba di kamar.
Falcon perlahan mendudukkan Liana di atas kasur empuk, yang selalu menjadi saksi cinta mereka setiap harinya.
Liana meraih kancing baju tidur Falcon, dan satu persatu mulai ia buka. Begitupun sebaliknya, Falcon membuka satu persatu kancing piyama sang istri hingga hanya menyisakan bra yang sudah tak terpasang dengan benar.
Liana melepas penutup dadanya dan melemparnya asal. Dia merangkul leher Falcon, dan mereka pun kembali berciuman. Perlahan namun pasti, Falcon kini telah mengungkung Liana di bawah tubuhnya.
Dia meraih celana tidur sang istri dan menariknya ke bawah. Liana mengangkat pinggulnya untuk membantu sang suami melepasnya, dan menendang sisanya yang telah berada di ujung kaki.
Falcon pun melepaskan miliknya hingga keduanya kini telah benar-benar polos.
Saat bibir mereka masih saling memagut, menyesap dan bertukar saliva, Falcon mengarahkan miliknya ke inti Liana yang sudah terbuka lebar. Dengan sekali hentakan, senjatanya telah masuk sepenuhnya memenuhi ruangan hangat tersebut.
Pria itu bergerak memacu miliknya di dalam Liana, hingga membuat sang istri mendes*h nikmat.
“Honey,” panggil Liana disela rintihannya.
“Call my name, Sweety. Call my name,” seru Falcon.
__ADS_1
“Aahhhhh.... Lexxxx.... Ehmmm.... Alex...,” panggil Liana.
Entah kenapa, saat mendengar istrinya memanggil namanya itu di sela percintaan mereka, membuta h*srat Falcon semakin naik. Dia pun bergerak dengan ritme yang lebih cepat, menghujam milik Liana hingga membuat wanita itu terus mendes*h di bawah suaminya.
Hingga tiba saatnya Liana menegang, dan miliknya terasa mencengkeram kuat senjata Falcon. Pria itu tahu jika istrinya telah mencapai puncak.
Dia pun kemudian memacu dengan lebih cepat hingga mereka pun bersama-sama mengerang panjang, tanda pelepasan terjadi bersamaan.
Falcon ambruk di atas tubuh sang istri. Nafasnya tersengal-sengal dengan degupan jantung yang tak beraturan.
Liana masih memeluk tubuh Falcon dengan penyatuan yang belum terlepas. Falcon membenamkan wajahnya di pundak sang istri, dan membuat nafas hangatnya menyapu area tersebut.
“Honey, apa kau lelah?” tanya Liana di sela deru nafasnya yang masih tak berkejaran.
Falcon mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah Liana.
“Ada apa, hem? Apa kau memerlukan sesuatu?” tanya Falcon.
Liana nampak mengul*m senyum sambil menggigit bibir bawahnya. Sebuah seringai pun muncul di bibir Falcon, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.
Dia kemudian kembali naik dan mengungkung Liana, lalu menatap lekat wajah wanita itu.
“Apa kau mau lagi?” tanya Falcon.
Liana pun membalas tatapan itu. Dengan inisiatifnya, dia melingkarkan lengannnya di leher sang suami, dan dengan manjanya berucap.
“One more, please,” pinta Liana.
“As you wish, Beib,” sahut Falcon.
Keduanya pun kembali berciuman, dan malam panas itu kembali terulang entah hingga berapa kali.
.
.
.
.
Hai bestie ☺maaf ya kemarin bolos up🙏😅hari ini aku bakal update banyak2 buat kalian😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘