Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Aku ingin imbalan


__ADS_3

Setelah perbincangannya di telepon dengan Falcon, Liana mengetuk-ngetukkan ponsel ke dagu, seolah tengah berpikir sesuatu.


“Sepertinya bukan keputusan tepat untuk menanyakan soal orang itu pada Falcon. Sejak semalam, aku kebingungan harus bertanya pada siapa tentang masalah ini. Tidak mungkin aku meminta Chip atau Long untuk memberitahuku perihal orang itu. Dokter menyebalkan itu juga tak mau memberitahukannya padaku,” gumam Liana.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan membuatnya tersadar. Liana melihat siapa orang yang tengah menelponnya kali ini.


Sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas dengan seringai licik khas Liana.


Luar biasa. Kau muncul di waktu yang sangat tepat. Apa ini kontak batin antara saudara? batin Liana.


Gadis itu segera menempelkan kembali ponselnya ke telinga.


“Halo, Sepupu,” sapa Liana.


“Aku belum terbiasa mendapat panggilan seperti itu dari mu, Liana,” sahut orang yang kali ini menelepon Liana, Christopher.


“Kau harus terbiasa mulai sekarang, Chris. Karena kita memang sepupu. Ada apa kau meneleponku?” tanya Liana.


“Aku hanya ingin bertanya kabar tentang pamanku. Apa dia baik-baik saja?” tanya Christopher balik.

__ADS_1


“Kenapa kau tak bertanya pada Wartawan Liem? Bukankah dia adalah informan mu?” cecar Liana.


“Sudah. Tapi dia bilang kalau kau yang berjaga di sana. Lagi pula, Dia sedang mencoba menyelidiki sesuatu yang ku minta, jadi tidak memantau kondisi pamanku,” jawab Christopher.


“Apa yang dia selidiki?” tanya Liana penasaran.


“Kau akan tahu nanti. Sekarang, katakan bagaimana kondisi paman ku,” sahut Christopher.


“Dia sudah membaik. Tak lama setelah aku datang, dia sadar. Terakhir ku lihat, dia sudah bisa berjalan meski harus menggunakan tongkat. Tapi setidaknya, dia sudah sedikit demi sedikit pulih. Hanya itu saja yang ku tahu,” jawab Liana seperlunya.


“Jadi maksudmu, kau sekarang tak sedang bersamanya?” tanya Christopher dengan suara sedikit mengeras.


Pemuda itu kemudian diam, begitu pun Liana. Beberapa saat kemudian, Christopher kembali bersuara.


“Bagaimana pun kecewanya kau pada pamanku, tapi dia itu tetap ayahmu. Berbaik hatilah padanya. Aku sangat mengetahui bagaimana penderitaannya selama ini. Jangan sampai kau menyesal karena sudah melukai hatinya,” ucap Christopher dengan suara yang lebih rendah.


“Apa kau sedang memarahiku sekarang? Kedengarannya seperti aku adalah orang yang sangat jahat. Hei, Chris. Apa kau ingat sudah berapa lama aku di sana? Aku ini bukan lagi anak hilang yang tak akan ada orang yang mencari. Kalau mereka sadar aku pergi terlalu lama, pasti semua akan curiga, dan kemungkinan kecurigaan mereka akan sampai di telinga orang-orang suruhan kakekmu itu. Apa kau mau persembunyiannya terungkap? Bisa saja telepon ku, mobilku, bahkan apartemen ku telah di pasangi alat penyadap. Informasi bisa bocor kapan saja,” jelas Liana.


“Bukankan Tuan muda ke lima mu itu orang yang sangat hebat? Mana mungkin dia melewatkan kemungkinan besar yang sangat mencolok seperti itu? Aku yakin kalau saat ini, kau pun sedang dikawal ketat oleh anak buahnya,” ucap Christopher.

__ADS_1


“Ah... Kau benar! Kekasihku itu memang sangat protektif. Baiklah. Kau bisa abaikan satu kemungkinan itu. Yang jelas, pamanmu sekarang sudah membaik. Aku hanya berusaha bersikap biasa saja agar tak mengundang kecurigaan dari musuh. Dokter yang merawatnya dan juga pelayan ku akan melapor secara berkala kepadaku. Kau tenang saja,” tutur Liana.


“Baiklah. Aku mengandalkan mu untuk menjaga pamanku,” ucap Christopher.


“Maaf, Tuan muda Chen. Tapi aku butuh imbalan atas permintaan mu itu,” sahut Liana.


“Imbalan apa?” tanya Christopher.


.


.


.


.


Apa yah kira-kira imbalan yang diminta Liana? 🤔


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2