Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Insting


__ADS_3

“Apa yang Anda maksud adalah saya, Nyonya?” ucap si gadis cantik itu.


Suara tersebut sontak membuat Amber membeku. Dia yang tadi terlihat begitu percaya diri, kini berubah diam. Bahkan tatapan matanya pun tertunduk. Dia benar-benar merasa terancam dengan kehadiran Liana di sana.


Gadis itu berjalan bersama kekasihnya, Falcon, sambil membawa sebuket bunga yang sudah di taruh dalam sebuah vas.


“Maaf, Tuan Harvey. Saya terlambat karena ingin menyiapkan bunga ini terlebih dahulu,” ucap Liana.


Gadis itu pun kemudian meletakkan vas yang berisikan bunga-bunga liar yang ia petik dari taman nyonya ketiga di tengah meja makan. Dominasi warna ungu, jingga dan putih, membuat kesan berbeda di meja makan yang biasanya selalu sepi, dan hanya menghidangkan menu makan saja.


“Siapa kau berani berbuat seenaknya di rumah ini? Apa kami mengenal mu? Singkirkan semua sampah ini dari meja makan!” seru seorang nona yang duduk di sebelah kiri Amber.


Liana memperharikan semua anggota keluarga yang telah berada di sana. Semuanya tampak tak peduli dengan keributan ini.


Benar-benar keluarga yang sakit, batin Liana.


Dia memperhatikan pola duduk masing-masing orang, dan gadis cerdas itu pun bisa menebak jika nona yang berbicara angkuh padanya tadi adalah nona pertama di keluarga ini, dengan kata lain, putri sulung dari Amber.


“Ehm... Maaf. Anda pasti Nona pertama bukan? Anda sebagai cucu tertua di kediaman Harvey ini, seharusnya lebih tahu di banding semua adik-adik Anda, tentang bagaimana menciptakan suasana yang harmonis di meja makan, dengan sentuhan bunga-bunga yang indah. Bukankah hal itu sering dilakukan oleh para anggota keluarga bangsawan. Ku dengar, ibu Anda juga seorang keturunan bangsawan. Apa beliau lupa mengajarkan kepada Anda akan hal itu?” ucap Liana.

__ADS_1


Nyonya kedua yang duduk di depan Amber pun tak kuasa tersenyum dan hampir tertawa, jika Amber tak melihat ke arahnya dengan tatapan tajam dan membuat si nyonya kedua meng*lum bibirnya rapat-rapat.


“Hanya masalah bunga. Tidak perlu diributkan sampai seperti ini,” seru Amber datar.


“Tapi, Mom...,” rengek si putri sulung.


“KUBILANG CUKUP YA CUKUP. Apa kau sekarang tak bisa mengerti bahasa manusia?” bentak Amber pada putri sulungnya itu.


Wanita itu bahkan menoleh dan manatap tajam ke arah sang putri yang duduk tepat di sebelahnya.


Pandangan matanya kemudian tertuju pada Liana yang masih berdiri di tempat. Gadis itu terus melihat ke arah Amber dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas, dengan tatapan mengejek.


“Pelayan, hidangkan makanannya! Kalian berdua duduklah,” seru Tuan Harvey.


Pria tua dengan insting tajam itu, mampu melihat ketakutan di mata Amber. Dia baru kali ini melihat wanita arogan itu mau menekan egonya di hadapan orang asing, seolah orang itu memiliki sesuatu yang berbahaya dan bisa mengancamnya jika dia tidak menjaga sikap.


Falcon menarikkan kursi untuk Liana dan mempersilahkan gadis itu duduk di samping kiri sang tuan rumah, sedangkan dia kembali berjalan memutar dan duduk di samping kanan kakeknya.


Dia melihat Liana yang kini telah duduk di seberangnya dengan tatapan menyelidik. Dia pun tadi sempat melihat senyuman licik di bibir gadisnya, saat Liana beradu pandang dengan Amber Callister, sang ibu tiri.

__ADS_1


Apa yang aku lewatkan kali ini, Sweety? batin Falcon.


Dia terus memperhatikan Liana. Gadis itu makan hidangan pembuka dengan begitu santainya, sambil sesekali berbincang ringan dengan Tuan Harvey.


Liana menyadari jika kekasihnya itu terus memperhatikannya, dan dia pun balas menatapnya dan memberikan sebuah kerlingan mata ke arah Falcon, seolah tengah mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


.


.


.


.


neng, mulutmu itu lho, nek ngomong kaya bon cabe level 50🤣🤣🤣🤣


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2