Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Mengantarkan


__ADS_3

Liana berjalan terseok-seok mengimbangi langkah Falcon yang begitu lebar. Pria itu berjalan keluar dari tempat pribadinya dan membiarkan gadis itu mengejar.


“Falcon! Mereka ada di Grey Town. Kau cukup minta anak buahmu untuk menemukannya saja. Apa itu sulit?” teriak Liana di sela pengejarannya.


Falcon terus berjalan hingga sampai di ujung lorong. Di sana nampak sebuah mobil maybach hitam keluaran terbaru, sudah menunggu dengan pintu belakang yang terbuka.


Ada seorang pria dengan kaus hitam polos dan rambut yang diikat ke belakang, nampak menunggunya di sana.


Falcon segera masuk dan menutup pintu mobilnya sebelum Liana berhasil menyusulnya.


“Jalan!” seru Falcon kepada anak buahnya yang berada di balik kemudi.


Liana tak habis pikir jika pria itu akan begitu saja meninggalkannya di sana.


"FALCON, TUNGGU! HEI, TUNGGU!" teriak Liana.


Liana semakin cepat berlari, namun langkahnya tak bisa mengejar mobil yang sudah melaju kencang di jalanan Grey Town.


“Falcon br*ngsek! Kurang ajar!” maki Liana di tengah nafasnya yang tersengal.


Dia tak mampu lagi berlari, karena jaraknya sudah terlalu jauh. Dia hanya bisa memandang kesal ke arah depan, sambil memegangi kedua lututnya.


“Nonan Wu. Di sini terlalu berbahaya untuk Anda. Ketua meminta ku untuk mengantarkan Anda kembali ke Golden City,” seru seorang pria yang adalah tangan kanan dari Falcon, Nine.


Liana berbalik dan menoleh ke arah Nine, dan menatapnya tajam.


“Antarkan aku ke tempat ketuamu. Sekarang!” seru Liana ketus.


“Maaf, Nona Wu. Sebaiknya Anda menurut, sebelum ketua tidak lagi bermurah hati pada Anda,” sahut pria dengan rambut terikat kebelakang itu.


Mengingat betapa berbahayanya Grey Town, Liana pun memilih untuk kembali ke Golden City, sebelum sesuatu terjadi padanya.


...👑👑👑👑👑...


Di perjalanan pulang, Liana menumpang mobil yang dikemudikan Nine, karena milik Liana masih tertinggal di jalan buntu itu.


Liana terus menatap keluar kaca mobil, dan melihat pemandangan malam di kota abu-abu dari kejauhan.


“Apa permintaanku terlalu sulit untuknya? Bahkan keberadaanku di sana saja bisa dia ketahui dengan cepat, kenapa hanya mencari orang yang sudah tinggal di kota itu saja dia tidak mau?” gumam Liana.


Dia kemudian menoleh ke depan dan melihat pantulan wajah Nine dari kaca spion.


“Jangan diam saja! Aku yakin kamu mendengar ucapanku tadi,” gerutu Liana.


“Maaf, saya tidak berhak menjawab apapun atas pertanyaan Anda, Nona Wu,” sahut Nine.

__ADS_1


“Ckk! Menyebalkan. Lalu mobilku? Bagaimana dengan itu? Semua barang-barang ku masih ada di sana. Kartu pengenal, ponsel semuanya masih di sana” tanya Liana.


“Mobilmu akan diantar ke tempatmu, Nona. Akan kami pastikan semua barangmu juga akan kembali,” jawab Nine datar.


“Hah! Baiklah!” sahut Liana malas.


Gadis itu memilih berhenti untuk saat ini, dan memikirkan langkah selanjutnya.


Sekitar satu setengah jam perjalanan, kini mobil mereka telah memasuki pinggiran kota Golden City.


Liana terlihat memejamkan mata, meski sebenarnya dia masih terjaga. Helaan nafas berat sering terdengar keluar dari mulut gadis itu. Dia terus memikirkan hal ini, karena kepeduliannya terhadap kondisi kesehatan Kakek Joseph.


Tak berapa lama, mobil berhenti. Liana pun membuka matanya dan melihat jika dia sudah tiba di apartemen miliknya.


“Wah, bahkan tempat tinggalku pun kalian sudah mengetahuinya. Tapi, aku minta kalian mencari satu orang saja tidak mau. Menyebalkan!” keluah Liana.


Dia pun segera keluar dari mobil, sebelum Nine membukakan pintu untuknya. Gadis itu berjalan meninggalkan Nine begitu saja, dan naik ke lantai di mana unitnya berada.


...👑👑👑👑👑...


Di sebuah tempat hiburan malam, nampak seorang pria tengah duduk di sofa, dengan banyak wanita yang berpakaian hampir telanjang di sisi kiri dan kanannya.


Kedua wanita itu nampak menggelayut manja, sambil mengusap-usap dada si pria yang terbuka.


Tiba-tiba, pintu diketuk dan seseorang masuk ke dalam. Pria dengan rambut dikuncir ke belakang, masuk bersama seorang lagi yang memakai kemeja berpola harimau berbahan satin.


“Kalian berdua keluarlah!” seru pria berkemeja harimau, kepada kedua wanita seksi itu.


Mereka berdua pun pergi keluar, dan meninggalkan ketiga pria itu di sana.


“Bos, aku sudah mengantarnya sampai apartemen dengan selamat,” ucap Nine yang baru saja datang setelah mengantar Liana.


“Tumben sekali kau peduli pada seorang gadis, Bos? Apa dia istimewa?” tanya Long, si pria berkemeja pola harimau.


Kedua pria itu duduk di kursi yang kosong di samping Falcon.


“Dia adalah gadis yang menolong Bos saat penyerangan di Golden City,” sahut Nine.


“Apa?! Kenapa tidak diajak ke sini, Nine? Aku kan juga ingin melihat seperti apa gadis itu?” cecar Long.


“Aku punya tugas untuk mu, Long!” seru Falcon.


“Apa itu?” tanya Long.


“Kau pergilah temui Nyonya tua Mo. Minta dia melakukan sesuatu untuk kita,” seru Falcon.

__ADS_1


“Apa kau berubah pikiran, Bos?” tanya Nine.


“Cukup cari tahu saja dan jangan terlibat untuk sekarang. Ingat, urusan kita dulu dengan anak buah Jimmy empat tahun lalu. Mereka pasti tidak akan percaya apa yang kita berikan kepada mereka setelah saat itu,” ucap Falcon.


Nine pun diam. Sementara Long seketika paham maksud dari pembicaraan ini.


“Baiklah. Aku akan segera menemui wanita tua itu dan memintanya mencari informasi mengenai pelayan bernama Vivian itu lagi,” seru Long.


Pria itu pun pergi meninggalkan kedua rekannya.


Seperginya Long, Nine kembali membuka suara.


“Kudengar, mereka ada di sini? Bukankah info terakhir mereka ada di Metropolis?” tanya Nine.


“Yah, dan kita punya pendatang baru dari sana. Mari kita serahkan semuanya kepada Nyonya tua Mo untuk mencari tau,” ucap Falcon.


...👑👑👑👑👑...


Golden City, hari itu Liana tengah berada di kantornya. Dia sedang mempelajari berkas mengenai lahan yang akan dijadikan proyek berikutnya.


Dia melihat jika lahan tersebut terbilang baik, melihat dari laporan tim lapangan yang telah mensurvei tempat tersebut.


Perijinan serta masalah pembebasan lahan pun sudah ditangani dengan baik, tinggal pembuatan model bangunan yang akan dikerjakan oleh tim produksi.


Bahkan, di dalam laporan itu, sudah ada daftar perusahaan vendor yang ingin ikut serta dalam pembangunan gedung tersebut, salah satunya perusahaan pengada bahan material bangunan.


Liana melihat satu persatu daftar perusahaan tersebut yang disertai dengan nama perwakilan dari masing-masing perusahaan itu.


Tak disangka, Liana justru menemukan sebuah nama yang tidak asing baginya.


“Ehmm, jadi begitu rupanya. Baiklah, kita lihat seberapa bagusnya dirimu, Tuan,” gumam Liana dengan mata yang menatap lurus ke nama itu.


.


.


.


.


Maaf othor kesiangan🙏😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2