Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Arena sky


__ADS_3

“Baiklah. Sekarang aku akan diam. Terserah kau mau melakukan apapun padaku. Aku janji bahwa aku tak akan membalasmu,” ucap Falcon.


“Tidak! Aku sudah malas. Aku mau keluar dan bermain saja,” sahut Liana kesal.


Dia pun kemudian mengambil jaketnya dan pergi keluar. Falcon kembali berbalik dan segera menyusul Liana yang berjalan dengan cepat. Gadis itu terlihat menuju ke tempat penyewaan peralatan sky yang ada di resort.


Sebelumnya, Falcon telah menyuruh pegawainya membelikan dua set peralatan sky yang baru, khusus untuk mereka setiap kali datang ke tempat tersebut, sehingga tidak akan bercampur dengan bekas orang lain.


Liana nampak sedang memakai papan sky dan Falcon pun duduk di sampingnya.


“Apa kau pernah bermain sebelumnya?” tanya Falcon.


“Bukankah ada kau?” tanya Liana.


“Baiklah. Dengan senang hati aku akan mengajarimu,” ucap Falcon.


Setelah selesai, Falcon mengajak Liana ke arena bermain sky yang biasa di penuhi oleh anak-anak.


Di sana, dia mencoba menuntun Liana yang terlihat begitu kaku saat bergerak di atas   papan luncur saljunya.


“Apa cara mengajarimu ini sudah benar?” gerutu Liana, saat dia tak juga bisa menguasai permainan.


“Sweety, belajar sky itu sama seperti saat seorang anak belajar berjalan. Kalau kamu takut jatuh, kamu tidak akan pernah bisa,” sindir Falcon.


Pria itu sangat tahu jika saat ini istrinya yang keras kepala dan arogan itu, tak ingin terlihat payah di mata orang lain. Liana bahkan sedari tadi tak serius meluncur karena terlihat jelas bahwa dia takut terjatuh dan membuatnya terlihat konyol.


Gadis itu mendengus kesal akan hal itu, sedangkan Falcon berusaha agar tak tertawa, meski wajah Liana yang kesal seperti itu sangat lucu untuknya.

__ADS_1


“Teori dari mana itu? Sudahlah. Lepaskan aku. Aku akan mulai belajar sendiri,” ucap Liana.


Dia menyingkirkan tangan Falcon darinya dan mencoba bergerak perlahan dengan menggunakan tongkat sky.


Nampak seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, sedang meluncur melewati dirinya. Awalnya Liana tak menyadari hal itu, akan tetapi anak tersebut lagi-lagi datang dan melewatinya, seolah tengah memperhatikan Liana.


Anak tersebut tiba-tiba berhenti di depan gadis tersebut.


“Hei, Kakak payah. Kau b*doh ya! Kau bahkan tidak bergerak lebih dari satu meter,” teriak anak kecil itu.


Hal tersebut tentu membuat Liana kesal bukan main. Dia pun membuka kaca mata sky nya dan melotot ke arah anak tersebut.


“Hei, Anak kecil! Kau jangan kurang ajar dengan orang dewasa. Apa orang tua mu tak mengajari sopan santun, hah?” cerocos Liana.


Gadis itu tak Terima dikatakan payah oleh anak kecil itu hingga membuatnya kesal. Falcon maju dan mencoba menenangkan istrinya. Dia pun meminta agar anak kecil tadi segera pergi dari sana, melihat Liana yang terus berteriak-teriak.


Namun, Liana masih tampak kesal. Dia bahkan menyingkirkan tangan sang suami dari pundaknya.


“Sweety, lihatlah. Mereka masih polos. Mereka hanya mengucapkan apa yang mereka lihat. Bukankah itu menggemaskan? Saat kita punya satu, pasti akan menyenangkan,” lanjut Falcon.


“Tidak mau! Aku benci anak kecil! Mereka semua menyebalkan. Selalu berulah. Kotor, berantakan...,” cerocos Liana.


Gadis itu tak melihat raut wajah Falcon saat mendengar semua kata-kata itu dari mulut sang istri. Dia bahkan menarik tangannya dari pundak istrinya.


Liana yang merasakan tak ada gerakan dari suaminya pun kemudian menoleh. Dia baru sadar jika ekspresi Falcon berbeda dari sebelumnya. Liana pun merasa bahwa kata-katanya itu sudah keterlaluan.


Untuk anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua, harusnya mereka menginginkan sebuah kehangatan keluarga. Begitu pun yang dirasakan oleh Falcon.

__ADS_1


Namun, rasa kesal Liana akan anak kecil tadi, membuat emosinya meledak dan mengatakan hal yang diluar prediksinya.


“Honey, maaf aku... Itu.. tadi hanya...,” ucap Liana terbata


Dia bingung harus menjelaskan seperti apa kondisinya tadi. Pria itu kemudian mencoba tersenyum meski terasa begitu masam.


“Kita kembali saja. Hari sudah hampir gelap,” ucap Falcon.


Pria itu meraih tangan sang istri dan menggandengnya untuk kembali ke pondok. Sesampainya di sana, Falcon memilih mandi dan melihat macbook nya, untuk mengecek pekerjaan yang ia tinggalkan beberapa hari ini.


Liana sejak tadi merasa bahwa suaminya telah mengacuhkannya, dan terus mendiamkannya.


Dia berusaha bersikap biasa saja. Gadis itu mencoba mengajak suaminya bicara, namun Falcon hanya menjawab seperlunya saja.


Liana benar-benar merasa sudah tak diperhatikan lagi oleh Falcon. Hanya pada saat makan malam saja, saat mereka memesan beef steak, Falcon menukar piring miliknya yang sudah dipotong-potong kepada Liana, dan mengambil milik sang istri yang masih utuh.


Selanjutnya, dia kembali diam dan bahkan tak menggoda Liana lagi seperti yang selalu ia lakukan.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2