
Di dalam sebuah ruangan yang begitu gelap, cahaya mentari sama sekali tak bisa menembus dinding-dinding tebalnya. Udara pun seakan begitu tipis dan lebih terasa abu yang bertebaran di dalam sana. Hawa dingin begitu menusuk, dan membuat kondisi di sekitar tempat tersebut lembang.
Nampak seorang gadis tengah duduk di atas sebuah kursi, yang telah berada di tengah-tengah ruangan tersebut. Badannya terlilit tali yang cukup besar, dan menyulitkannya untuk bergerak.
Sebuah lampu gantung tepat berada di atas kepala gadis yang terikat itu.
Wajahnya tertunduk, dengan mata yang masih terpejam. Helaian rambutnya menjuntai ke depan menutup sebagian wajahnya.
Terdengar suara dari balik pintu, seperti beberapa orang tengah berbicara tentang kondisi gadis malang yang terikat di dalam sana.
“Apa dia ada di dalam?” tanya sebuah suara perempuan.
“Yah. Dia ada di dalam. Kau bisa melihatnya setelah melunasi pembayaran kami,” ucap suara laki-laki.
“Mike! Kau jangan kurang ajar. Jessica itu teman kita. Harusnya kau bisa menganggap ini sebagai bantuan seorang teman,” ucap perempuan lainnya.
“Ini pekerjaan ku. Tidak ada urusan dengan pertemanan,” ujar pria bernama Mike tadi.
“Sudah lah, Yan Yan. Kak Mike benar. Aku sudah memakai jasanya, dan sekarang waktunya aku membayarnya,” ucap perempuan sebelumnya yang adalah Jessica.
Kemudian suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian, wanita itu kembali bersuara.
“Aku sudah mentransfer pembayarannya ke rekeningmu. Aku berikan lebih, karena setelah aku selesai dengan gadis itu, kalian harus mengurus mayatnya,” ucap Jessica.
“Baiklah. Kau boleh masuk,” sahut Mike.
Pria itu pun kemudian membukanya pintu dan mempersilakan Jessica untuk masuk ke dalam, melihat sanderanya yang masih memejamkan mata.
“Apa dia masih belum sadar?” tanya Jessica saat baru selangkah masuk.
“Sepertinya belum,” sahut Mike.
“Yan Yan, bisa ambilkan air untukku?” seru Jessica.
Gadis bernama Yan Yan itu pun pergi dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Jessica. Sedangkan wanita itu terlihat melangkah maju, menghampiri gadis yang terlihat menyedihkan itu.
“Akhirnya, hari ini benar-benar tiba. Lilian Wu, si gadis tak jelas yang selalu mencuri perhatian Kakek Tua Wang, akhirnya bisa ku singkirkan selamanya,” ucap Jessica.
Dia maju dan meraih segenggam rambut gadis yang tak lain adalah Liana, kemudian menariknya ke belakang hingga kepalanya mendongak ke atas tepat di bawah sinar lampu.
“Kau akan mati sebentar lagi. Tapi sebelum itu, aku ingin mendengarmu memohon ampun dengan wajah yang ketakutan, meminta maaf padaku dan berlutut di kakiku. Kita lihat, apa kau masih bisa sombong seperti sebelumnya,” ucap Jessica tepat di depan wajah Liana.
Tak berselang lama, Yan Yan datang membawa seember air dan berjalan menghampiri Jessica.
“Ini airnya,” ucap Yan Yan.
“Siramkan pada jal*ng ini!” seru Jessica.
__ADS_1
“Tapi, bukankah kau ingin membunuhnya? Akan lebih mudah saat dia masih tak sadarkan diri bukan?” tanya Yan Yan.
“Lakukan saja perintahku! Aku tidak butuh pendapatmu di sini,” bentak Jessica.
Yan Yan terlihat tak senang karena dibentak oleh Jessica. Dia hanya diam, dan melakukan apa yang diperintahkan oleh temannya itu.
Seember air meluncur mengguyur Liana yang masih terpejam. Seketika, gadis malang itu pun gelagapan karena banyaknya air yang mengenai wajahnya hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Liana tersengal-sengal berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, dan akhirnya dia pun benar-benar sadar kembali.
“Aku sudah membantu mu sampai di sini. Selanjutnya, aku tidak mau terlibat. Kau urus saja semuanya, dan jangan bawa-bawa aku lagi,” ucap Yan Yan.
Gadis itu pun kemudian pergi meninggalkan Jessica, karena merasa kesal sudah dibentak oleh wanita itu.
Sementara Jessica, dia tak peduli sama sekali dengan rengekan Yan Yan. Sejak tadi, fokusnya hanya pada Liana.
Gadis malang itu terlihat menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari tahu di mana dia berada saat ini. Dia bahkan terkejut saat mendapati tubuhnya yang sudah terlilit tali tambang, sehingga membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana.
“Kau sudah bangun, Lilian?” tanya Jessica dengan tatapan mengejek.
Liana pun memicingkan matanya, mencoba melihat dengan jelas siapa yang berada di depannya.
“Jessica? Apa itu kau?” tanya Liana.
“Yah, ini aku. Kenapa? Sudah mulai takut?” sahut Jessica.
“Apa ini perbuatanmu?” tanya Liana memastikan.
Jessica kembali mendekat dan sedikit membungkuk ke depan Liana.
“Kalau iya, memangnya kenapa? Apa kau kira, aku tidak bisa membalas semua perbuatanmu,hah?” ejek Jessica.
“Apa kau sadar? Ini tindakan kriminal! Kau bisa di penjara jika ketauan melakukan hal ini. Sebaiknya kau lepaskan aku sekarang juga,” bujuk Liana.
Namun bukannya takut, Jessica justru tertawa terbahak-bahak hingga matanya berair.
“Melepaskanmu? Setelah susah payah aku menangkapmu dan membuatmu seperti ini, kau malah memintaku untuk melepaskanmu? Hahahahha... Jangan mimpi Lilian,” sahut Jessica.
Dia terus menertawakan Liana, yang berusaha membuatnya untuk melepaskan gadis itu. Liana terus meronta ingin lepas dari ikatan yang membelenggunya.
“Jadi, ini pembalasan yang kau maksud tempo hari?” tanya Liana.
Jessica terdiam. Dia kembali membungkuk menatap tajam langsung ke manik hitam Liana.
“Jangan meremehkanku. Ini bahkan belum dimulai. Kita nikmati pelan-pelan saja, sampai kau bisa mengingat ini bahkan ketika sudah di neraka,” ucap Jessica.
“Kau ... Apa kau mau membunuhku? Jessy, kita bisa bicara baik-baik. Tidak perlu bertindak seperti ini. Ayolah,” pinta Liana.
__ADS_1
Gadis itu terlihat gemetar saat membayangkan kematian yang mungkin sebentar lagi akan menghampirinya.
Namun, Jessica kembali meraih rambut Liana dan menjambaknya dengan keras. Gadis itu bahkan sampai memekik kesakitan.
“Kau minta bicara baik-baik? Apa kau pernah berhenti memprovokasi ku dan bicara baik-baik? Kau selalu membuat hidupku susah. Kau bahkan sudah membuat kakek memandangku sangat buruk,” ucap Jessica tepat di depan wajah Liana.
“Jessica ... A... aku tau aku salah. Tapi, kau juga harus ingat, kalau aku masih memegang rahasia kalian. Apa kau lupa? Aku akan memberikannya padamu, asal kau mau melepaskanku,” pinta Liana bernegosiasi.
Jessica melepas rambut Liana dengan kasar hingga membuat kepala gadis itu terhuyung ke belakang.
PLAAAAKKKK!
Sebuah tampatan tiba-tiba mendarat di pipi Liana dengan sangat keras. Gadis itu tak segera menoleh. Nampak lidahnya menjulur menyentuh sudut bibinya yang terasa perih.
“Ssshhh!” Liana mendesis karena menyentuh luka yang diakibatkan oleh tamparan tersebut.
Gadis itu merasakan asin di dalam mulutnya, pertanda bahwa ada darah yang mengalir keluar dari sana.
Gadis itu pun meludah ke samping, dan menoleh menatap tajam ke arah Liana.
“Kau melakukan kesalahan. Aku sudah meminta baik-baik agar kau melepaskan aku. Tapi kau malah berlaku kasar padaku. Apa kau tidak takut rahasiamu dan ibumu itu terungkap?” ucap Liana dengan tatapan nyalang.
“Kau pikir, kau bisa apa sekarang? Kau sudah terikat dan terkurung di tempat asing. Masih bisa mengancamku? Aku rasa kau sudah mulai hilang akal,” ejek Jessica.
Gadis itu berjalan memutar dan berhenti di belakang Liana. Kedua tangannya menyentuh pundak gadis di depannya.
“Apa kau kira, dengan rekaman itu kau bisa terus mengancamku dan ibuku? Kau salah,” ucap Jessica lirih.
Liana menoleh ke samping. Dia melihat jika Jessica kembali berjalan, dan kini sudah berada di hadapannya.
“Sekarang, karena waktu mu sudah tidak banyak, aku akan memberi tahu mu rencanaku yang saaaaangat luar biasa. Tapi sebelum itu, aku ingin memperjelas, bahwa sekarang kau sudah kalah!” ucap Jessica dengan nada mengejek.
Liana hanya diam dengan tatapan yang begitu tajam. Tangan yang masih terikat di belakang terlibat mengepal kuat, dengan rahang yang sudah sangat mengeras.
.
.
.
.
Maaf bestie othor baru pulang dari puskesmas🙏antrinya panjang bener dah😅lagi musim orang sakit kali ya🤭
Meskipun up nya nggak teratur waktunya, tapi yakinlah, othor akan selalu up tiap hari meski cuma 1 bab😁🤭
So, tungguin aja ya bestie 😘
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘