Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Diabaikan


__ADS_3

Mobil van yang membawa Liana dan Alice telah keluar dari area parkir basement. Q pun segera masuk ke dalam mobilnya, dan mengejar mobil van tersebut, agar tak kehilangan jejak mereka.


Dia sekilas melihat kereta dorong kebersihan yang sebelumnya, berada di sudut parkiran dengan kantung sampah yang sudah terlepas. Dia yakin, jika Liana tadi berada di dalam kantung tersebut, dan saat ini pasti sudah dibawa pergi oleh kawanan Alice.


Saat di dalam mobil, Q kembali mencoba menghubungi sang kakak, namun lagi-lagi tak mendapat jawaban. Dia hendak menghubungi Falcon, tapi akhirnya ia urungkan karena pasti ketua geng itu akan kembali menolak panggilannya.


Q pun akhirnya mengubungi Nine, yang saat ini sedang berada di Empire State. Dia yakin jika itu Nine, pasti akan direspon oleh Falcon. Pada deringan pertama, panggilan Q segera diterima oleh sang tangan kanan ketua geng Jupiter itu.


“Halo,” sapa Nine.


“Halo, Kak Nine. Ini aku, Q,” sahut Q cepat.


“Ada apa dengan suaramu? Apa ada masalah?” tanya Nine.


“Kakak ipar... Maksudku, Nona Wang. Dia di culik oleh Alice,” tutur Q.


“Apa? Kenapa bisa terjadi? Di mana Bos? Bukankah dia selalu ada di sampingnya?” tanya Nine ikut panik.


“Sepertinya ada pengecoh. Bos pergi meninggalkan kakak ipar sendirian, dan saat aku sampai di sana, Alice sudah membawanya pergi. Dia menyamar sebagai cleaning service rumah sakit,” tutur Q.


“Lalu, di mana kau sekarang? Apa kau sudah memberitahukan bos atau kakakmu?” tanya Nine.


“Aku sekarang sedang mengejar Alice. Mereka berdua tak bisa ku hubungi. Bisakah kau bantu aku memberitahu mereka kabar ini?” pinta Q.


“Baiklah. Kau berhati-hati. Jangan sampai tertangkap oleh mereka,” seru Nine.


“Baik. Aku mohon bantuanmu,” sahut Q.

__ADS_1


Dia pun menutup teleponnya, dan kembali fokus pada jalanan. Dia terus mengikuti kemana arah mobil van itu pergi.


Tak lama dia mengikutinya, mobil tersebut terlihat melewati jalanan yang menuju ke arah dermaga besar.


Namun tiba-tiba saja, mereka berbelok dan masuk ke jalan kecil yang menuju ke Heaven Forest. Jalanan semakin bergelombang dan berbatu. Kontur tanahnya pun semakin becek dengan genagan air dimana-mana.


Mereka menuju ke sisi utara hutan, di mana terdapat sebuah menara tua di tepi tebing karang, yang dulunya berfungsi sebagai mercusuar.


Q menghentikan mobilnya dari jarak yang cukup jauh, agar anak buah Alice tidak menyadari keberadaannya. Dia bahkan memasukkan mobilnya ke hutan, agar kendaraannya itu tersamar oleh pepohonan di sana.


Dia kemudian berjalan mendekat ke arah menara tua, dan melihat bahwa Alice tengah memerintahkan anak buahnya memindahkan sebuah kantung besar ke dalam menara.


Dari arah dalam, terlihat seorang pria keluar menghampiri Alice.


“Henry,” gumam Q lirih, bahkan nyaris berbisik.


Di layar, muncul nama sang ketua geng. Sepertinya Nine telah berhasil menghubungi Falcon.


“Halo, Bos. Apa kau sudah menerima pesannya? Aku...,” ucap Q langsung.


“Apa ini perintah dari Moses Jung lagi? Apa dia memintamu untuk mengecoh dan membuat kami Kebingungan?” sela Falcon.


Q seketika diam. Dia ingat kalau Falcon baru saja menghajarnya habis-habisan, karena dia telah membocorkan informasi keberadaan Peter pada mantan ketua mereka.


Binar di mata dokter tersebut seketika meredup. Wajahnya pun berubah datar dan dingin.


“Apa kau akan selamanya menganggap ku penghianat? Aku hanya sekali ini membocorkan informasi pada Ketua Jung, dan itu pun atas pertimbangan yang matang,” tanya Q.

__ADS_1


Miris memang, saat sebuah kesalahan membuatnya dijauhi dan bahkan ditolak kehadirannya oleh orang yang selama ini dekat, dan bahkan sudah seperti keluarga baginya. Begitu pula yang dirasakan oleh Q saat ini.


Saat genting seperti ini pun, informasi darinya tak dipercaya sama sekali.


“Dengan kau yang seperti ini, aku semakin yakin jika di sana adalah lokasi penyekapannya,” ucap Falcon.


“Apa kakakku melihat Henry di sana?” tanya Q cepat.


Falcon diam.


“Apa kau bisa menghubungi penjaga di rumah sakit?” lanjut Q.


Tiba-tiba, terdengar bunyi mobil yang di rem mendadak.


“Jika kau masih tak percaya, lanjutkan saja ke sana. Tapi, aku tak menjamin apa yang akan terjadi pada Nona Wang saat kau terlambat menyadarinya,” ucap Q.


Panggilan pun terputus.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2