Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Rindu


__ADS_3

Setelah berdebat dengan Lusy, Liana memilih untuk pergi dari area konstruksi dan mencari udara segar, guna menghilangkan rasa kesalnya pada gadis, yang sudah merusak harinya.


Dia berkendara ke Golden Park, di mana banyak orang mencoba mencari ketenangan dan menyembunyikan diri dari kebisingan lalu lintas kota yang begitu padat


Sebuah ruang terbuka hijau, salah satu tempat favorit penduduk di kawasan pusat kota Golden City, yang sarat akan kesibukan dan kepenatan. Hingga kehadiran taman yang sangat luas dengan aturan car free day twenty four seven tersebut, bagaikan oasis yang bisa menyejukkan dan menenangkan mereka.


Terdapat banyak bangku taman yang berada di area Golden Park, serta beberapa arena bermain anak seperti ayunan, papan perosotan, dan banyak lagi yang lainnya.


Golden Park juga memiliki sebuah arena olahraga out door yang sering digunakan untuk berolahraga extrem seperti skateboard, sepatu roda, sepeda, dan beberapa jenis olah raga lainnya.


Ada juga sebuah air terjun yang disetel setiap satu jam sekali, menampilkan semburan air yang berirama dan menjadi salah satu data tarik tersendiri bagi pengunjung taman tersebut.


Di sekitar taman hijau dengan banyak bunga berwarna-warni, juga disediakan berbagai macam toko kebutuhan bagi para pengunjung. Mulai dari minimarket, swalayan, tempat penyewaan alat olah raga out door, restoran dan cafe, serat banyak lagi yang lainnya.


Sebuah mobil Chevrolet nampak terparkir sejak tadi di area parkir yang berada agak jauh dari taman. Tak ada seorang pun yang keluar dari dalam sana.

__ADS_1


Namun, seorang gadis nampak duduk di balik kemudi mobil mewah tersebut, sambil menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi. Dia nampak memejamkan matanya dan bernafas dengan teratur, seolah tengah melepas lelah yang sedang ia rasakan.


Setelah beberapa waktu berlalu, pintu mobil terbuka dan Liana nampak keluar dari dalam mobil, setelah sebelumnya dia berdiam diri di dalam sana untuk beberapa lama.


Dia meraih tas punggung kesayangannya, dan menutup pintu mobil rapat-rapat. Tak lupa ia menekan tombol pengunci otomatis sebelum meninggalkan area parkir dan mobilnya.


Dia kemudian berjalan perlahan, menyusuri jalanan yang dibuat khusus untuk para pedestrian atau pejalan kaki. Di bawah rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan tersebut, dan membuat suasana begitu rindang dan sejuk.


Gadis itu berjalan menuju ke suatu tempat, yang berada di ujung taman, jauh dari keramaian pengunjung lainnya. Dia bermaksud untuk menyendiri dan menghindari tempat yang sudah pasti ramai seperti di pusat taman atau arena bermain anak serta arena olahraga raga.


Banyak warga kota yang bersama-sama dengan keluarganya, tengah menikmati rimbun dan asrinya taman tersebut, dan tak jarang beberapa dari mereka memilih menggosongkan kulit di bawah teriknya mentari siang hari kala itu dengan bermain skateboard, atau sepatu roda.


Anak-anak kecil pun turut bergembira dengan teman sebaya dan juga orang tua mereka yang selalu berada di sisinya. Liana tersenyum getir melihat itu semua. Di dalam hati kecilnya, tersemat rasa iri yang mendalam ketika melihat tawa ruang anak-anak polos di depannya.


Berkali-kali helaan nafas kasar terdengar dari mulut gadis yang gemar menguncir rambut ke atas itu. Dia meraih ponselnya, dan membuka buku kontak. Dia menggulirkan layar ke bawah, namun tak tahu siapa yang hendak dihubunginya, hingga sebuah nama yang tertera di sana membuat ibu jarinya berhenti bergerak.

__ADS_1


Matanya terlihat sendu, kala menatap layar ponselnya itu. Helaan nafas berat kembali terdengar.


โ€œDia bilang masih belum bisa dihubungi. Kenapa aku tiba-tiba merindukannya,โ€ gumam Liana.


.


.


.


.


Hai bestie๐Ÿ˜ hari ini terakhir event lebaran nya ya ๐Ÿ˜„ besok pagi othor bakal umumin pemenangnya ๐Ÿฅณ


Mohon dukungan untuk cerita ini๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah๐Ÿ˜˜


__ADS_2