
Kenny membawa Liana menuju ke rumah panggung satu-satunya yang ada di tempat tersebut.
Sebuah jalan yang terbuat dari kayu yang berjejer, terlihat menuju ke arah teras rumah panggung itu.
Dinding dan atapnya terbuat dari anyaman jerami. Meski terlihat ringkih, namun bahan tersebut bisa kuat menahan terpaan angin laut di sekitar tempat tersebut terutama di malam hari.
Bahkan saat hujan turun pun, atap jerami tak akan mudah bocor karena rembesan air. Lantainya terbuat dari papan kayu yang tebal, serupa dengan jalan setapak yang menuju ke rumah tersebut.
Di terasnya terdapat empat buah kursi rotan untuk bersantai, menikmati pemandangan laut yang indah dengan air yang jernih bak cermin yang luas.
Sebuah lonceng angin dari bambu terpasang menghiasi salah satu sisi teras, dan menimbulkan bunyi khas pantai.
Meski tempat tersebut berada di tengah laut, namun terlindung dari ombak besar karena dikelilingi oleh tebing batu yang tinggi, serta karang yang nampak berjejer tak beraturan bak pagarnya.
Kini, mereka telah sampai di rumah panggung tersebut. Kenny membukakan pintu dan mempersilakan Liana untuk masuk ke dalam.
Dengan perlahan-lahan, Liana melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah tersebut. Dia mencoba menyiapkan diri, untuk menghadapi kemungkinan pahit yang bisa saja ia dapatkan di sana tentang kondisi sang ayah.
Dia berjalan semakin masuk, dan terlihat sebuah ruangan yang luas dengan beberapa bean bag yang nyaman khas tempat berlibur, lengkap dengan meja dan juga televisi.
__ADS_1
Sepertinya meski terpencil, namun fasilitas di sini tak kalah lengkap dari resort-resort yang ada di tempat liburan lainnya.
Terdapat dua buah kamar, di sisi kiri dan kanan, yang dipisah oleh lorong yang menuju ke arah belakang.
Nampak anak kecil tadi berjalan masuk dan duduk begitu saja di atas salah satu bean bag, dan menyalakan televisi dengan tenangnya, seolah ini adalah rumahnya sendiri.
Kenny kembali memimpin jalan, dan membuka sebuah kamar yang berada di sisi kanan.
“Beliau ada di dalam,” ucapnya.
Liana pun maju dan berdiri di depan pintu. Jantungnya semakin berdegup kencang. Dalam hati, dia berdoa agar apa yang akan dilihatnya tak semenakutkan bayangannya.
Ketika dia sampai di ambang pintu, dia melihat pria yang tengah terbaring di atas kasur kecil, yang hanya dialasi sebuah tikar dari anyaman daun pandan.
Selang oksigen pun tak luput dari hidung pria itu.
Liana menutup mulutnya dengan kedua tangan, saat melihat sosok ayah yang beberapa waktu lalu terlihat begitu tampan, kini harus terlihat semenyedihkan ini dengan luka lebam yang hampir memenuhi setiap jengkal tubuhnya.
Hatinya sakit melihat perjuangan sang ayah demi untuk bertemu dengannya. Air mata pun tak bisa lagi di tahan. Liana menangis dalam diam. Hanya suara sesenggukannya saja yang sesekali terdengar.
Dia bahkan tak menyadari keberadaan seseorang di dalam sana, yang tengah merawat luka-luka di tubuh ayahnya.
“Kenny, siapa yang kau bawa kali ini? Tolong jangan berisik di sini!” ucapnya.
__ADS_1
Dia baru saja selesai mengganti perban dan telah membereskan semua peralatan medisnya. Dia kemudian bangkit berdiri dan kembali menutup pintu kamar tersebut, agar pasien bisa beristirahat dengan tengah.
Namun, saat dia menoleh dan melihat gadis yang saat ini tengah berdiri mematung sambil menangis tepat di depan pintu, dia seolah mengenalinya, dan mencoba mengingat sosok yang sepertinya familiar itu.
Orang tersebut pun berdiri dan berjalan mengitari gadis yang masih diam menahan tangisnya itu. Tiba-tiba, dia seolah teringat siapa gadis yang saat ini berdiri di depannya tersebut.
Dengan telunjuknya, dia menunjuk ke arah Liana dengan ekspresi terkejut.
“Kau!?”
.
.
.
.
Siapa lagi itu besties 🤔jawabannya besok ya 🤭😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1