
Petang itu, Long membawa sepasukan geng Jupiter untuk menuju ke hutan timur. Mereka bermaksud mendatangi tempat yang dulu digunakan Henry untuk menyekap Liana.
Long meminta anak buahnya untuk berhenti sedikit jauh dari lokasi, dan bergerak dengan hati-hati menuju ke tempat tersebut.
Mereka memilih untuk berjalan kaki agar tidak mengundang perhatian kelompok lawan.
Setelah menyusuri hutan, kini mereka tiba di dekat sebuah bekas konstruksi gedung yang terbengkalai. Tampak beberapa orang berjaga di depan sana, seolah memang ada sesuatu yang mereka jaga di dalam tempat tersebut.
“Bos, dilihat dari jumlah yang berjaga di luar, pasti di dalam ada semakin banyak orang. Bagaimana kalau kita intai dulu, dan melihat situasi di sana sebelum menyerang mereka?” ujar salah satu anak buah Long.
“Majulah. Kami akan menunggu di sini,” seru Long.
Pria itu pun mengangguk dan segera bergerak mendekat, untuk melihat kondisi di dalam tempat tersebut.
Tak berapa lama kemudian, anak buah tadi kembali, dan melaporkan tentang kondisi di dalam pabrik itu.
“Bagaimana?” tanya Long.
“Di luar ada kira-kira dua puluh orang yang berjaga di sekitar, dan bagian atap. Di dalam, ku lihat ada lebih banyak lagi orang, dan sebuah ruangan yang mereka jaga dengan ketat,” tutur anak buah itu.
“Lalu, apa mereka benar-benar anak buah Henry? Atau Ketua Jung?” tanya Long.
“Jika dilihat dari tato di punggung tangan mereka, itu sama dengan orang-orang yang dulu menculik kakak ipar. Kemungkinan, mereka memang anak buah Henry atau Ketua Jung,” ungkapnya.
__ADS_1
“Baiklah. Kita mundur dulu. Minta Chip kirimkan pasukan bantuan kemari,” seru Long.
“Baik, Bos!” sahut anak buah yang lain.
Long pun menarik kembali pasukannya ke tempat mereka menyembunyikan mobil, dan menunggu bala bantuan datang untuk menyerang markas musuh.
Sementara menunggu, sang germo mencoba menghubungi Falcon, dan memberitahukan kondisi di sana.
“Halo, Bos. Kami sudah berada di lokasi pabrik,” lapor Long.
“Bagaimana kondisi di sana?” tanya Falcon datar.
Long merasakan perubahan pada nada bicara sang ketua. Nampaknya, Falcon yang kecewa pada Q, turut melimpahkannya kepada Long.
“Menurut anak buah kita yang mengintai lokasi, ada sekitar kurang dari tujuh puluh orang yang menjaga di sana. Mereka memiliki ciri-ciri yang sama dengan anak buah Henry, yang dulu pernah menculik kakak ipar. Sepertinya, tempat ini memang benar-benar digunakan untuk menyandera Peter Chen,” ucap Long.
Sambungan terputus.
...👑👑👑👑👑...
Di rumah sakit, Falcon yang baru saja menerima telepon dari Long, saat ini sedang berada di luar ruang rawat Liana. Pria itu sengaja keluar, karena tak mau mengganggu waktu istirahat sang kekasih.
Dia kemudian kembali masuk ke dalam, dan melihat kondisi Liana. Gadis itu masih tertidur, karena berada di bawah obat penenang.
__ADS_1
Sejak melihat jasad Paulo, hampir setiap kali Liana membuka mata, gadis itu terus saja menangis. Selain mengkhawatirkan nasib sang ayah yang saat ini entah berada di mana, dia juga sangat menyesal dan merasa amat bersalah, karena sudah melibatkan orang-orang yang tak bersalah serta membuat mereka ikut menderita karenanya.
Falcon mengusap surai hitam legam itu, dengan terus menatap wajah pucat Liana. Helaan nafas berat jelas terdengar dari mulut Falcon, saat melihat kondisi kekasihnya saat ini yang begitu memprihatinkan.
Kecupan lembut mendarat di kening Liana. Dengan perlahan, Falcon mengusap pipi gadis itu dengan punggung tangannya.
Aku akan bawa kembali ayahmu, dan ku pastikan siapapun yang sudah membuat mu seperti ini, akan habis di tanganku, batin Falcon.
Dia kemudian berjalan keluar, dan menghampiri anak buahnya yang juga ikut berjaga di luar ruang rawat Liana.
“Kalian tetap di sini, dan jangan sampai membiarkan siapa pun masuk ke dalam. Sekalipun itu perawat atau dokter, kalian harus pastikan gadis itu tetap aman. Mengerti!” seru Falcon
“Siap, Bos,” sahut kedua anak buahnya.
Falcon pun lalu berjalan menjauh, dan hendak menyusul Long ke tempat yang diyakini adalah tempat di mana Henry, sang tangan kanan Moses Jung itu menyekap Peter Chen.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘