
Setelah sekitar setengah jam lebih, Liana baru keluar dari kamar mandi. Air di tempat tersebut cepat menjadi dingin, karena kondisi sekitarnya yang bahkan tertutup oleh tumpukan salju tebal.
Wanita itu berjalan ke arah lemari dan mengambil baju gantinya. Setelah berendam air hangat, tubuhnya terasa kembali segar dan rasa sakit yang tadi menggangunya pun berkurang.
Liana mengenakan pakaian hangat kembali karena cuacanya sangat dingin, di tambah semalaman dia tak mengenakan pakaian apapun. Dia tak mau sampai jatuh sakit dan merepotkan Falcon.
Setelah selesai berganti pakaian dan menyisir rambut, Liana keluar dari kamar dan melihat suaminya berbaring di depan televisi. Ada satu troli makanan yang baru tiba. Sepertinya Falcon lah yang memesan makanan tersebut.
“Honey, apa yang sedang kau lihat?” tanya Liana.
Gadis itu pun duduk di samping suaminya, dengan sebuah bantal yang ada di pangkuan. Falcon yang melihat istrinya datang pun seketika berpindah dan berbaring dengan kepala di atas pangkuan sang istri.
Liana pun secara alami mengusap lembut surai hitam Falcon.
“Hanya melihat berita saja,” sahut Falcon.
“Apa ada berita menarik?” tanya Liana.
“Hari ini sidang pertama kasus Amber digelar,” jawab Falcon.
Liana nampak menghela nafas panjang saat mendengar penuturan dari suaminya.
“Minggu depan, sidang akan kembali digelar dan saat itu, kau dan ayahmu akan dihadirkan sebagai saksi,” ucap Falcon.
“Aku harap semuanya segera berakhir, dan kami bisa kembali hidup dengan tenang,” sahut Liana.
__ADS_1
Falcon kemudian berbalik dan menghadap ke atas, tepat di bawah wajah istrinya.
“Lusy juga akan datang. Apa kau siap menghadapi gadis itu?” tanya Falcon.
“Sudah seharusnya, bukan? Cepat atau lambat, aku harus meluruskan semuanya dengan gadis itu. Tidak peduli apa hasilnya, aku harus menghadapi dia,” ucap Liana.
Falcon mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi sang istri. Namun, gerakannya berhenti dan berpindah pada rambut panjang Liana.
“Kenapa rambutmu masih basah? Apa kau tak membawa hair dryer?” tanya Falcon.
“Mana ku tau harus membawa benda merepotkan itu,” sahut Liana ketus.
“Kau ini. Biar ku pinjam dari petugas resort,” seru Falcon.
Dia pun bangun dan kembali ke kamar, untuk menghubungi petugas layanan kamar. Dia meminta dibawakan alat pengering rambut untuk istrinya.
Perlakuan Falcon benar-benar lembut dan penuh kesabaran. Liana merasa begitu dimanjakan oleh suaminya.
“Honey, apa kau tidak akan masuk kerja? Bukankah kau bilang kita hanya akan berlibur sehari saja di sini?” tanya Liana.
“Aku sudah meminta Nine untuk mengatur ulang jadwal ku hari ini, dan mengundurnya menjadi besok. Lagipula, aku masih ingin bersama mu, berdua menikmati masa-masa pengantin baru seperti ini. Apa kau tidak suka?” tanya Falcon balik.
“Tentu aku suka. Baiklah. Kalau begitu hari ini sampai besok, kau hanya boleh mengurusiku dan tidak boleh melirik ponselmu sama sekali,” seru Liana.
“Ehm... Tunggu sebentar,” sahut Falcon.
__ADS_1
Dia kemudian meraih ponsel yang ada di saku celananya, dan mengubungi seseorang.
“Halo, Nine. Kakak iparmu melarang ku melihat ponsel. Tolong jangan ganggu aku sampai besok pagi, oke,” ucap Falcon.
Dia kemudian mematikan ponselnya dan menonaktifkan benda tersebut.
“Selesai,” ucapnya.
Liana terkekeh melihat tingkah sang suami yang begitu menuruti semua keinginannya. Dia pun menoleh dan mengecup singkat bibir sang suami.
Mereka saling melempar senyum, dan Liana kembali menghadap ke depan. Falcon pun meneruskan kegiatannya mengeringkan rambut sang istri.
Setelah selesai, Falcon pamit untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu mereka makan siang bersama. Liana seolah malas pergi kemanapun, karena rasa tak nyaman yang masih ia rasakan di area intinya, dan meminta Falcon untuk makan di pondok saja.
.
.
.
.
hari ini segini dulu bestie, mau lanjut ngipit sate lagi🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘