Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Penghuni istana


__ADS_3

Di kediaman Keluarga Harvey, Liana disambut dengan sangat baik oleh Tuan Harvey. Namun sayangnya, tidak dengan penghuni yang lainnya.


Saat baru pertama kali masuk, Liana bertemu dengan dua orang wanita paruh baya dengan karakter yang berbeda. Bisa ditebak jika keduanya adalah nyonya pertama dan kedua di kediaman tersebut.


Berlanjut kemudian saat Liana berjalan melewati ruang tengah, dia pun sempat bepapasan dengan salah satu saudara perempuan Falcon, yang entah nona ke berapa, dan terlihat begitu tak peduli serta menatap kekasih Falcon itu dengan sebelah mata.


Kemudian saat menunggu lift, seseorang keluar dari dalam lift pun dengan tanpa mempedulikan keberadaan orang yang ada di depannya.


Mereka cenderung hidup dengan dunia masing-masing. Tak ada interaksi yang hangat antara anggota keluarga. Pantaslah jika Falcon merasa tak betah tinggal di rumah besar itu.


“Kau ini anak kelima kan? Kakakmu semuanya perempuan...,” ucap Liana.


“Mereka bukan kakakku!” sela Falcon cepat.


“Baiklah. Saudara tiri. Benar kan?” tanya Liana.


Gadis itu memilih mengalah karena tak ingin semakin membuat prianya kehilangan mood, apalagi sedari tadi terus berpapasan dengan para penghuni rumah, terlebih dengan semua sikap mereka di depan Liana.


Falcon hanya ber ‘hem' saja menanggapi pertanyaan Liana, membuat gadis itu melepaskan pegangan tangan Falcon, dan merangkul lengan sang kekasih.


Pria itu pun menoleh. Senyum Liana yang begitu manis, membuat hati Falcon yang panas sedikit merasa sejuk. Dia pun membalas senyum Liana dengan mengusap punggung tangan gadis tersebut.

__ADS_1


“Maaf. Aku terbawa suasana rumah. Aku tak pernah merasa pulang setiap kali kemari. Ini seperti bukan rumah, tapi lebih seperti arena persaingan,” ucap Falcon.


“Tak apa. Aku pun pernah merasakan hal seperti ini dulu,” sahut Liana.


Lift terbuka. Mereka berdua pun keluar dari sana dan berjalan menuju ruang kerja sang tuan besar.


“Kau tadi mau bertanya apa tentang saudara perempuan ku?” tanya Falcon.


Mereka telah tiba di sebuah ruangan, dengan dua buah guci besar di samping kiri dan kanannya. Gadis itu sedikit banyak tahu tentang benda-benda seperti itu, yang juga digemari oleh Kakek Joseph.


“Lain kali saja,” sahut Liana.


Gadis itu tahu jika ruangan yang ada di depan mereka adalah ruang kerja sang Presdir Harvey. Falcon pun mengetuk pintu beberapa kali, hingga terdengar sahutan dari dalam.


Falcon pun mengajak Liana untuk masuk ke dalam, dan menemui kakeknya.


...👑👑👑👑👑...


Waktu berjalan dan kondisi di luar semakin gelap. Liana serta Falcon nampak keluar dari ruangan sang presdir dan berjalan menuju lift kembali.


“Kakekmu sangat baik padaku. Lihatkan! Dia tertawa saat bicara dengan ku tadi. Sepertinya, kita tak perlu mengkhawatirkan masalah restu lagi,” ucap Liana.

__ADS_1


“Sudah ku katakan sebelumnya, bahwa aku akan tetap menikahi mu, dengan atau tidak ada persetujuan dari orang tua itu,” sahut Falcon.


“Tapi, aku berharap bisa mendapatkan sebuah pesta pernikahan terbuka dan meriah, serta menjadi pesta termegah sepanjang sejarah hingga membuat semua gadis iri melihatku,” ucap Liana.


Falcon menoleh ke arah gadisnya. Liana tersenyum melihat wajah sang kekasih yang nampak datar itu, dan berusaha bercanda dengannya.


Gadis tersebut mulai terbiasa dengan sikap dingin Falcon saat berada di rumah itu. Berbeda dengan dulu, ketika dia bertanya-tanya tentang sikap tak acuh pria itu, saat makan malam pertamanya di rumah besar Sky Castle bersama Nona Shu, yang membuatnya terus kepikiran hingga pulang ke Golden City.


“Aku harus mandi. Seharian ini memantau proyek, badan ku benar-benar sangat kotor. Apa kau mau ikut dan melihat kamarku?” ajak Falcon.


.


.


.


.


Siang bestie 🥰maaf ya hari ini siang lagi 🙏si kakak lagi panas, jadi mintanya disayang mulu😁hari ini othor kasih 2 aja ya, besok semoga bisa kasih lebih banyak☺


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2