
Sebulan berlalu sejak saat Liana bertemu dengan Peter. Setiap hari dia terus datang ke taman itu dan berharap agar bisa kembali bertemu dengan sang ayah. Namun, setiap hari juga Liana kembali harus pulang dengan kekecewaan karena yang ditunggu tak kunjung datang.
Golden Hospital telah setengah rampung dan mulai proses pemasangan partisi ruangan di dalam gedung serta jendela dan masalah sirkulasi udara di dalam bangunan.
Minggu ini, tepatnya besok, dia akan melakukan perjalan ke Empire State bersama tim perencanaan, untuk melihat lahan yang akan menjadi tempat dibangunnya proyek Paradise, yang bekerja sama dengan The Palace, perusahaan yang dipimpin oleh Kakek Falcon, Bob Harvey.
Sementara itu, pekerjaannya di Golden Hospital, akan ditangani oleh rekan setimnya yang lain.
Tahap observasi ini sangatlah penting, mengingat semua informasi yang didapat bisa menjadi acuan dan patokan, tentang bagaimana bangunan akan dibuat dan bahan apa yang sesuai untuk digunakan.
Seperti halnya saat akan membangun Golden Hospital, informasi sekecil apapun bisa sangat penting untuk kelangsungan proyek tersebut. Jika sampai terjadi kelalaian pada saat observasi lahan, makan bisa dipastikan bangunan akan mengalami kecacatan baik penurunan pondasi, retakan atau masalah lain seputar bangunan.
Sehingga, Liana tak mau sampai kecolongan sedikit pun, mengingat berapa pentingnya proyek Paradise ini baginya.
Di samping itu, Liana sudah berencana mendirikan cabang perusahaan miliknya sendiri di kota tersebut, setelah proyek dengan The Palace selesai, seperti taruhannya dengan sang kakek tempo hari.
__ADS_1
Hari ini, Liana telah mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya esok hari ke Empire State. Dalam hati, dia berharap bisa bertemu Falcon saat berada di sana. Terlebih, dia tahu jika pria itu tengah bekerja di The Palace, perusahaan yang bekerja sama dengannya.
Namun sayangnya, Liana tak bisa memberitahukan lebih dulu kepada Falcon tentang keberangkatannya ke sana, karena terkendala tidak adanya alat komunikasi di antara mereka bedua.
Saat ini, gadis itu masih menunggu kemunculan sang ayah di Golden Park.
Ini hari terakhir ku menunggumu di sini. Esok, aku akan pergi ke ibu kota. Ku mohon, kali ini muncullah. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku tak akan bertanya apapun padamu. Aku akan sabar menunggu sampai kau mau mengatakan semuanya padaku. Kumohon, muncullah Ayah, ratap Liana dalam hati.
Gadis itu sangat berharap bisa bertemu dengan ayahnya sebelum keberangkatannya ke Empire State.
Baru saja dia berbelok hendak ke luar dari tempat parkir, tanpa sengaja, pandangannya menangkap sosok yang sangat familiar dari balik kaca spion mobilnya.
Liana pun seketika menghentikan laju mobil dan menoleh ke belakang.
Benar saja, seorang pria nampak berjalan ke arah swalayan yang berada tak jauh dari tempatnya berada.
__ADS_1
Liana pun segera keluar dari mobil dan berlari ke arah toko tersebut. Karena berlari cepat, Liana pun kehabisan nafas dan berhenti tepat di depan pintu swalayan.
Dia membungkuk dan bertumpu pada lututnya yang gemetar, sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Liana kemudia mencoba berdiri tegap, dan meraih gagang pintu. Dia menghirup nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini๐๐
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah๐