Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Perhatian


__ADS_3

Liana berjalan ke arah ruang tamu dan duduk di atas karpet. Dia meletakkan gelas air minumnya, dan mulai meraih berkas yang diletakkan Falcon tadi.


Satu persatu berkas tersebut dipelajarinya dengan teliti. Sebenarnya, itu semua bukan urusan sang arsitek, hanya saja, si serba ingin tahu ini ingin selalu memberikan sesuatu yang terbaik dan tampil sempurna di setiap kesempatan dan kerja samanya.


Sehingga, meski pun membuatnya harus pusing, tapi dia terus mempelajari hal tersebut.


Bau harum dari masakan yang telah matang, mulai menyeruak menggelitik indera penciuman Liana. Seketika, hal itu memicu syaraf di organ pencernaannya untuk meminta diisi. Bunyi perut berkeruyuk terdengar dan membuat Liana menghentikan kegiatannya.


Gadis itu terlihat meregangkan otot tangan serta lehernya yang terasa kaku, setelah beberapa saat berkutat dengan berkas di depannya.


Dia pun berdiri dan melihat jika sang bos gangster itu tengah menata makanan di tempat makan. Liana melangkah mendekat menghampiri Falcon dan duduk di kursi makan.


Dia menghirup dalam-dalam bau harum dari masakan yang sudah hampir tersaji sepenuhnya. Liur seketika menggenang di dalam rongga mulut, membuatnya meneguk kembali masuk ke kerongkongan.


“Cuci tanganmu dulu!” seru Falcon.


“Ck! Iya, iya! Kau ini cerewet sekali,” keluh Liana.


Gadis itu pun masuk ke dapur dan mencuci tangan di wastafel. Dia melihat jika belum ada minuman di atas meja, dan berinisiatif mengambilkan untuk mereka berdua.


Setelah semua beres, keduanya pun duduk berdampingan di meja makan, yang terbuat dari beton dan terhubung dengan dapur.



Falcon mengambilkan nasi ke mangkuk dan menyerahkannya pada Liana. Gadis itu pun menerimanya dengan senang hati. Setelah itu, dia mengambilkan untuk dirinya sendiri.


Liana mengambil sebuah telur gulung dan mencicipi nya sedikit.


“Ehm, ini sangat lezat. Sepertinya kau harus coba buka kedai makanan. Mungkin saja akan laku keras,” seru Liana.


Falcon menuang sup ke dalam mangkuk kecil dan meletakkannya di samping gadis itu.


“Benarkah? Coba juga supnya. Hati-hati masih panas,” sahut Falcon.


Liana pun mencicipi sup bihun jamur yang terlihat begitu segar dan sedari tadi terus membuat Liana menelan liur.


“Wah... Kau ini sebenarnya ketua gangster atau koki handal sih? Tanganmu ini lebih cocok meracik makanan dari pada mengokang senjata api,” ucap Liana.


Tangannya terus menyuapi mulutnya sendiri dengan makanan yang dimasak oleh Falcon. Nampak sekali jika gadis itu begitu menikmati hidangan tersebut.

__ADS_1


“Nikmatilah hasil karya tangan ajaib ku ini. Tidak setiap hari kau bisa makan masakanku kan,” seru Falcon.


“Hei, Tuan. Aku rasa, siapapun istrimu, dia pasti sangat senang mendapat sumai yang bisa diandalkan seperi ini,” sahut Liana.


Gadis itu tak tau jika ekspresi wajah Falcon berubah seketika, kala mendengar perkataannya barusan. Dia bahkan menghentikan tangannya menyuap makanan, karena memikirkan perkataan gadis itu.


Istri? Menikah? Apa aku bisa? Apa itu mungkin? batin Falcon.


Dia menoleh ke arah Liana, dan melihat betapa lahapnya gadis itu makan semua makanan yang disajikan di hadapannya. Senyum terbit di wajah tampan itu, dan tangannya seketika terulur dan mengusap lembut puncak kepala Liana.


“Makanlah dengan perlahan. Kau bisa tersedak nanti,” seru Falcon.


“Ehm..,” sahut Liana bergumam sambil mengangguk.


Pria itu pun kembali makan, meski ada sesuatu yang mengganjal dihatinya karena perkataan Liana.


Setelah selesai makan, Liana yang bertugas untuk mencuci piring kotor, sedangkan Falcon, pria itu meminjam kamar mandi untuk mencuci muka dan buang air kecil.


Setelah selesai mencuci piring, Liana kembali duduk di ruang tamu, dan hendak melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Dia fokus ke arah berkas-berkas tersebut dan tak menghiraukan lagi kondisi sekitar. Falcon yang sudah selesai dengan urusannya pun, kini berjalan ke arah Liana, dan duduk di sofa.


“Aku harus mempelajari semua ini dulu sebelum tidur,” sahut Liana singkat.


“Kenapa tidak kau baca nanti di pesawat saja?” tanya Falcon.


Tangannya meraih remot tv dan menekan sebuah tombol untuk menyalakannya.


“Aku tidak bisa fokus membaca saat berada di atas kendaraan,” sahut Liana tanpa menoleh.


“Oh, begitu rupanya. Apa ini penerbangan pertama mu?” tanya Falcon.


“Ku kira kau tau semua tentangku,” sindir Liana.


“Hei, Nona. Apa kau pikir aku semaniak itu? Tidak semua hal tentang dirimu aku tau. Ada hal-hal yang aku memilih tak tau,” sanggah Falcon.


“Oh ya? Memang apa yang kau tak tau?” tanya Liana.


“Ukuran ****** ***** dan bra mu,” sahut Falcon cepat.

__ADS_1


“Apa?!” pekik Liana.


Dia seketika menoleh ke arah Falcon dan memelototi pria itu. Dia meraih sebuah bantal dan meleparnya ke arah Falcon.


Pria itu justru tertawa terbahak melihat wajah kesal Liana.


“Hahahaha... Kau sendiri yang bertanya, jadi apa salahnya aku jawab. Benar kan? Hahahaha...,” ucap Falcon.


“kurang ajar! Sudah jangan ganggu aku lagi! Tonton saja benda kotak itu!” seru Liana.


Gadis itu kesal bukan main dengan pria itu. Dia pun tak lagi menghiraukan Falcon dan kembali fokus ke pekerjaannya.


Keduanya pun memutuskan untuk tak saling menggangu dan sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga tepat pukul sepuluh malam, Falcon yang sedari tadi menyaksikan acara televisi yang sama sekali tak menarik baginya, mendapati jika Liana telah tertidur pulas.


Gadis itu masih duduk di tempatnya, dengan kepala yang terkulai di atas meja, dan tangan yang masih penuh dengan berkas.


Falcon mematikan TV dan mencoba mengangkat tubuh Liana. Gadis itu nampak begitu pulas hingga tak merasakan jika dia tengah digendong oleh seorang pria.


Dengan hati-hati, Falcon membawa Liana ke kamar tidurnya, dan membaringkan gadis itu di sana. Tak lupa ia menarik selimut untuk menghangatkan gadis itu.


Falcon nampak duduk di tepi ranjang, sambil terus memperhatikan wajah tenang Liana yang terlelap. Tangannya terulur, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis, yang tanpa sadar telah mengusik ketenangan hatinya.


Tatapannya menyiratkan kekhawatiran akan gadis yang sedang tidur itu. Sebuah helaan nafas kasar terdengar dari mulutnya. Dia pun menaikkan kakinya ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di head board, tepat di samping Liana.


Tangannya terus mengusap surai hitam gadis tersebut, akan tetapi pandangannya terlihat kosong menerawang ke depan.


Tidurlah. Kau harus mengumpulkan banyak tenaga. Karena tempat yang akan kau tuju, penuh dengan kejutan besar yang akan membuatmu lelah, batin Falcon.


.


.


.


.


Udah 3 bab ku up sekaligus, besok lanjut lagi ya😉


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2