Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sebuah bayangan


__ADS_3

Pelayan istana Sky Castle membawa Liana dan Nona Shu ke sebuah kamar tamu yang berada di lantai satu. Dia membukakan pintu dan mempersilakan kedua gadis itu masuk.


“Silakan, Nona-nona. Ini ruang istirahat Anda,” ucap si pelayan.


“Terimakasih,” sahut Nona Shu.


Wanita itu masuk, dan diikuti oleh pelayan tadi. Di dalam sana, si pelayan menjelaskan tentang ruangan tersebut.


Kamar tamu itu memiliki ukuran yang sangat luas untuk sebuah tempat singgah. Ranjangnya pun berukuran king size dengan fasilitas walk in closet, kamar mandi yang dilengkapi bath tube dan sangat mewah.


Pelayan itu pun bahkan menjelaskan mengenai bagian luar kamar saat membuka jendela kamar tersebut. Angin sepoi-sepoi masuk mendinginkan kamar tamu, meski telah di pasang penghangat ruangan.


“Di sebelah sana ada area sport center dan di belakangnya ada area menunggang kuda. Jika Anda ingin berenang, Anda bisa menuju ke sisi kanan rumah,” ucap pelayan itu.


“Sepertinya kami tidak perlu dengan semua fasilitas tersebut. Kami hanya sebentar saja di sini,” sahut Nona Shu.


Wanita itu merasa sangat tidak sopan, jika tamu kecil seperti mereka berlaku seenaknya di istana sultan seperti ini.


“Tuan besar selalu menginginkan agar tamunya betah dan mau datang kembali kemari. Beliau akan semakin senang jika Anda semua memakai apa yang kami sediakan di rumah ini,” tutur si pelayan


“Baiklah kalau begitu. Nanti kami coba berkeliling melihat-lihat. Terimakasih,” ucap Nona Shu.


“Sama-sama. Saya permisi dulu,” sahut si pelayan.


Dia pun keluar meninggalkan Nona Shu. Namun, saat pelayan itu keluar, Nona Shu tak mendapati Liana di depan kamar. Dia mencoba mencari di kamar mandi dan walk in closet, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Liana.


“Dimana gadis itu?” gumam Nona Shu.


Saat dia hendak keluar, tiba-tiba saja Liana muncul dari arah pintu dan mengagetkannya.


“Dari mana saja kamu, Lilian?” tanya Nona Shu.


“Aku hanya melihat-lihat sekeliling. Rumah ini benar-benar lebih mirip istana. Sangat besar dan luas,” ucap Liana.


“Yah, dan pelayan itu meminta kita menikmati semua fasilitas yang ada,” sahut Nona Shu.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu. Ini masih sore. Kita istirahat sebentar lalu berkeliling saja. Bagaimana?” Ajak Liana.


“Ide bagus. Kalau begitu aku mau mandi dulu,” ucap Nona Shu.


“Baiklah,” sahut Liana.


Nona Shu pun mengambil sebuah pakaian bersih dari dalam koper dan membawanya ke kamar mandi. Di dalam sana, sudah ada handuk dan bathrobe. Saat mencari Liana tadi, dia telah melihat sekilas isi kamar mandi tersebut.


Sedangkan Liana, gadis itu memilih untuk membuka pintu samping dan keluar ke arah teras. Di sana terdapat sepasang kursi lengkap dengan meja kecil, yang menghadap ke sebuah taman bunga di samping rumah.


Meski kecil, namun taman tersebut di tumbuhi bunga-bunga liar yang terawat. Mirip dengan suasana di Sky Escape milik Falcon, yang pernah ia datangi sebelumnya.


Apa tadi aku hanya salah lihat? batin Liana.


Beberapa saat yang lalu, ketika dia baru saja sampai di istana Sky Castle, pelayan membawa mereka ke sebuah kamar tamu yang berada di lantai satu. Saat itu, Liana tidak segera masuk ke dalam, melainkan memperhatikan kondisi sekitar.


Ketika si pelayan tengah menjelaskan di dalam sana, Liana hendak masuk dan ikut mendengarkan. Namun, telinganya menangkap suara berisik dari arah depan, seperti seseorang yang menolak untuk diikuti.


Gadis yang serba ingin tahu itu pun urung masuk dan malah berjalan kembali ke arah pintu masuk yang tadi dilewatinya.


Nampak beberapa pria berjas hitam, berjalan ke dalam rumah. Mereka berjalan menuju ke arah lift. Terlihat seseorang yang berada di antara pria-pria berjas, seolah mereka sedang mengawalnya.


Hatinya tiba-tiba berdegup cepat saat melihat orang tersebut. Dia bahkan tak sempat melihatnya dengan jelas, namun seperti ada rasa yang sangat kuat yang tiba-tiba muncul.


Apa mungkin itu dia? Apa urusannya dia berada di sini? Apa aku hanya berhalusinasi? batin Liana.


Pintu lift telah tertutup dan sudah naik sedari tadi ke atas, membawa orang-orang itu. Merasa tiba-tiba hatinya tak nyaman, Liana pun memutuskan untuk kembali ke kamar tamu yang sudah disiapkan untuknya.


...👑👑👑👑👑...


Setelah selesai membersihkan diri, Liana memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah utama. Gadis yang selalu mengenakan pakaian casual itu pun mengajak rekannya untuk ikut berkeliling dengannya.


“Apa kau yakin ini sopan?” tanya Nona Shu ragu.


“Bukankah Kakak yang terlihat begitu antusias dengan rumah ini?” tanya Liana balik.

__ADS_1


“Apa jelas terlihat?” tanya Nona Shu.


“Ehm, sangat,” sahut Liana mengangguk.


“Hehehehe... Kau tau, aku hanya gadis biasa yang berasal dari keluarga biasa. Karirku yang bagus membuat taraf hidup keluargaku dan aku berubah. Tapi tetap tak bisa dipungkiri, jika aku hanya seorang gadis miskin dari pinggiran kota. Jadi, hal-hal mewah seperti ini, sangat membuatku antusias. Berbeda dengan mu,” ucap Nona Shu.


“Hish, Kakak. Apa kau lupa, aku bahkan berasal dari kota kecil yang jauh lebih tertinggal dari Golden City. Kebetulan saja aku berakhir bertemu dengan Kakek, sampai bisa mendapat kesempatan bagus dalam hidupku,” sahut Liana.


“Kau ini, selalu saja merendah. Tapi, itu yang aku suka dari mu. Si tuan putri yang rendah hati,” puji Nona Shu.


“Cukup pujianya. Kepalaku semakin berat nanti,” sanggah Liana.


Keduanya pun terkekeh bersama. Setelahnya, mereka pun memutuskan untuk melihat-lihat sekitar. Seperti yang dijelaskan oleh pelayan sebelumnya, bahwa di sebelah kanan ada sebuah kolam renang yang berundag tiga, dengan area santai di tepi kolam yang luas dengan tanaman palem yang meneduhkan.


Kemudian mereka berkeliling kembali ke arah belakang, di mana terdapat sebuah bangunan terpisah yang transparan. Dari luar, biasa dilihat bahwa di dalam sana merupakan tempat untuk berolahraga, lengkap dengan semua alat-alat kebugaran yang canggih dan modern.


Saat berjalan-jalan, netra Liana melihat taman bunga kecil yang berada di samping kamar tamu yang mereka tempati saat ini.


Dia pun berjalan ke arah sana, sementara Nona Shu memilih bertanya-tanya kepada pelayan, yang kebetulan mereka temui, mengenai bagian-bagian rumah yang bisa mereka lihat.


Saat Liana sampai di taman itu, dia seolah teringat kembali dengan pulau terpencil yang dulu pernah ia datangi bersama Falcon. Di tempat ini pun, bunga-bunga liar tumbuh dengan sangat baik, bahkan dirawat setiap hari agar keindahannya bisa menghiasi salah satu sudut istana megah tersebut.


Dia pun berjalan semakin masuk ke dalam taman, dan berjalan di antara bunga-bunga liar. Tangannya terulur ke samping dan menyentuh setiap tanaman yang ia lewati.


Matahari bersinar begitu terik sore itu, hingga membuat bayangan pun bisa terlihat dengan jelas. Dari tempat ia berdiri, Liana melihat sebuah bayangan seseorang, yang tengah berdiri di balkon lantai atas. Gadis itu pun mendongak, dan matanya seketika membulat, saat melihat siapa yang sedang berdiri di atas sana.


.


.


.


.


Cuma mau bilang, 2 bab lagi ntar ya bestie😁

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2