
Liana terdiam. Matanya tak lepas dari kedua orang yang sedang berjalan menuruni tangga di depannya. Nampak Kakek Joseph begitu bahagia dan tertawa lepas, ditemani oleh seorang gadis yang sangat Liana kenali.
Tangannya meraih tali bahu tas punggungnya, dan meremasnya dengan begitu kuat, seolah tengah menahan emosi yang saat ini menyerang jiwanya.
Tatapannya begitu tajam ke arah keduanya, dengan wajah yang terlihat dingin dan datar. Senyum yang tadi sempat mengembang, bahkan mata yang tampak berkaca-kaca melihat sosok kakek yang selama ini mencarinya, hilang seketika saat melihat gadis lain yang telah berada di samping kakek tua itu.
“Hahahaha... Kau lucu sekali. Biar kakek tebak, kalau masa kecilmu sangat bahagia dengan bibimu itu,” ucap Joseph yang terdengar dari kejauhan
Liana masih berdiam di tempat, melihat keduanya berjalan menuruni tangga, dengan saling bercanda ria. Genggaman tangannya di tali bahu semakin kuat, hingga urat di punggung tangan pun nampak kehijauan.
Emosinya semakin memuncak, terlebih saat gadis itu nampak mengenakan sebuah kalung yang mirip dengan yang pernah dipakai oleh ibunya, Lilian Wang.
“Bibi sangat sayang pada ku, Kek. Dia bahkan seperti ibu kandung ku,” sahut gadis yang terlihat manja dengan Kakek Joseph.
“Hahaha... Baguslah. Aku sangat senang mendengarnya,” ucap Joseph terbahak.
Kini, mereka telah hampir sampai di lantai bawah, dan pandangan Joseph serta Liana bertemu.
“Oh, anak nakal ini akhirnya kemari juga. Kemana saja kau dua hari ini? Pergi juga tidak pamit sama sekali,” cecar Joseph sambil berjalan menghampiri Liana.
Gadis itu masih diam. Hatinya begitu sakit kala melihat pemandangan yang saat ini ada di depannya.
“Siapa dia, Kek?” tanya gadis yang masih merangkul lengan pria tua itu dengan manja
“Ah, aku lupa kalau kalian baru bertemu. Ini Lilian. Dia adalah arsitek muda di perusahaan kakek. Lilian, kenakan ini cucu kakek yang hilang itu, Jessica,” ucap Joseph dengan tersenyum begitu senang.
Dia tak tau jika ada hati yang teriris begitu sakit, kala mendengar penuturan darinya.
“Oh, karyawan Kakek. Kenapa dia di sini?” tanya Jessica.
“Dia adalah bagian dari rumah ini,” sahut Debora yang tiba-tiba menyela perkataan Jessica.
Terlihat jelas jika kepala pelayanan itu tidak terlalu suka dengan gadis, yang dikenalkan sebagai cucu dari tuan besarnya. Namun, dia masih berusaha untuk tetap bersikap sopan.
Jessica menoleh ke arah Joseph, seolah meminta penjelasan atas perkataan dari Debora tadi.
__ADS_1
“Lilian ini sudah kakek anggap seperti cucu sendiri. Dia sudah banyak membantu kakek selama beberapa tahun ini. Dia juga sering menginap di sini setiap akhir bulan, dan merawat kakek sebelum kamu kembali,” jelas Joseph.
“Oh, jadi begitu. Tapi, sekarang kan sudah ada aku. Jadi, aku rasa dia sudah tidak perlu menyibukkan diri di sini lagi,” ucap Jessica yang begitu angkuh di depan Liana.
“Kau benar. Lebih baik dia fokus pada tugasnya di perusahaan saja. Sekarang, sudah ada kamu di sini yang bisa merawat dan menemani kakek. Kakek sangat bahagia. Hahaha...,” ucap Joseph.
“Dengan senang hati, Kakek,” sahut Jessica dengan semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Joseph.
Debora tak lagi menimpali perkataan kedua orang itu. Namun, dia terus memperhatikan ekspresi Liana yang sedari tadi terlihat begitu suram dan dingin.
Kepala pelayan itu sempat berpikir, jika Liana memiliki hubungan dengan pelayan bernama Vivian, saat melihat betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat foto Lilian dan juga Vivian dua hari yang lalu, hingga membuat gadis itu bahkan menangis dan akhirnya pergi tanpa berkata-kata lagi.
Sepatunya pun bahkan tertinggal dan membuatnya berkeliaran di luaran sambil bertel*njang kaki.
Namun, hari berikutnya, justru sebuah kejadian tak terduga terjadi. Seorang wanita dan seorang gadis datang bersama dengan Jimmy dan mengaku jika mereka adalah adik dan putri angkat Vivian, yang tak lain adalah cucu kandung Kakek Joseph.
Melihat ekspresi Liana yang seolah penuh misteri saat menatap tuan besar dan gadis yang mengaku cucunya itu, membuat Debora masih menaruh kecurigaan atas diri gadis, yang selama waktu lebih dari dua tahun itu menemani hari-hari kesepian Joseph.
Kini, bahkan Joseph tak lagi melihat keberadaan Liana dan lebih memperhatikan Jessica yang selalu bersikap manja padanya.
Mereka berjalan menuju ke taman samping, di mana terdapat gazebo, tempat favorit Liana untuk menggambar sketsa di waktu lampau, saat dia masih menjadi pelayan di rumah itu.
Dari arah tangga, terlihat seorang wanita paruh baya, berjalan menuruni tangga dengan dandanan ala sosialita, namun sangat jelas begitu kampungan dan norak.
Dia berjalan menghampiri Debora dan Liana yang masih berdiri di bawah sana.
“Ehm, kepala pelayan, siapa gadis ini?” tanya wanita itu dengan pandangan merendahkan.
Wanita ini selalu menilai orang dari penampilannya, terlebih saat melihat Liana yang seperti gadis biasa, dengan celana jeans dan kemeja serta inner putih polos di dalamnya.
“Dia adalah bagian dari mansion ini, sama seperti yang lain, dan namanya Lilian,” jawab Debora.
“Oh, cuma pelayan,” gumam wanita yang tak lain adalah Caroline.
Dia kemudian berjalan pergi, namun sejurus kemudian, dia berhenti dan kembali menoleh ke arah Liana berada. Wanita itu memperhatikan lagi wajah gadis tersebut, terlebih tatapan matanya yang terlihat begitu tajam.
__ADS_1
Dia seolah teringat dengan sosok gadis yang dulu pernah membuat hidupnya kacau. Namun, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan kembali berbalik lalu melanjutkan jalannya.
“Tidak mungkin. Anak si*lan itu tidak mungkin bisa berubah menjadi wanita secantik itu,” gumam Caroline.
Liana sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun, sejak melihat tuan besar di rumah itu bersama dengan jessica. Debora pun menepuk pundak gadis itu seolah tau apa yang sedang dipikirkan Liana.
“Terimalah! Tuan sudah bahagia karena menemukan cucunya. Jangan merasa iri karena perhatiannya tersita pada gadis itu, dan tak mempedulikanmu lagi,” ucap Debora.
Wanita itu kemudian pergi kembali ke belakang, dan melanjutkan tugasnya yang tadi sempat terhenti.
Liana hendak pergi dari tempat itu, namun dari arah luar, terdengar keributan yang disebabkan oleh sekelompok orang, yang menerobos masuk pagar rumah besar itu.
Terdengar keributan dari arah taman samping yang bisa dilihat dari halaman depan. Liana pun berjalan menuju ke tempat, di mana Kakek Joseph dan kedua wanita penipu itu berada.
Terlihat di sana, beberapa pria berpakaian serba hitam nampak mengacau, dan berbicara dengan keras kepada kakek tua itu.
Liana maju dan menghadang sekelompok pria tersebut.
“Serahkan pelacuran ini pada kami!” seru salah satu pria itu.
Terlihat jika Jessica dan ibunya bersembunyi di belakang Kakek Joseph, yang bahkan terlihat kebingungan dengan situasi ini.
“Apa mau kalian? Jangan coba-coba mengacau di rumah ini!” pekik Liana yang berdiri dengan berani, di depan kakek tua dan kedua wanita itu.
.
.
.
.
Sudah selesai hutang ku hari ini😁 jangan lupa kopinya buat temen melek🤭🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘