
Setelah memberi tanda pada Liana, Q kemudian berusaha berkomunikasi dengan gadis itu dari tempatnya berdiri.
“Apa kau baik-baik saja, Kakak ipar?” tanya Q.
Matanya terus melihat ke anak tangga di bawahnya, khawatir ada seseorang yang mendengar pembicaraannya dengan Liana.
“Apa menjadi sandera bisa dibilang baik-baik saja? Pertanyaan mu semakin b*doh saja,” Ejek liana.
“Kalau aku b*doh, kekasihmu itu lebih b*doh lagi. Apa. kau tahu, dia bahkan tak percaya saat aku mengatakan kau diculik,” ucap Q.
“Apa dia tidak akan datang? Jadi, kau kemari ingin menjadi pahlawan dan membuatku tersentuh, begitu?” sahut Liana.
Gadis itu nampak tersenyum mengejek.
“Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahan ku padamu,” ucap Q.
“Kesalahan?” tanya Liana.
Gadis itu masih belum paham maksud perkataan Q. Namun, melihat kondisinya sekarang, gadis cerdik itu pun bisa menebak apa yang sudah terjadi.
“Jadi, kau yang membocorkan semuanya pada musuh? Rupanya di geng Jupiter yang hebat pun ada penghianat rupanya,” sindir Liana.
“Mungkin sekarang masih belum terlambat. Aku hanya bisa menjagamu tetap aman, dan jika sampai akhir mereka tidak datang juga, mungkin aku bisa maju dan membuat jalan untuk mu melarikan diri,” ucap Q datar.
Dia sadar akan kesalahannya dan tak berharap Liana bisa memaafkannya dengan penyelamatan ini.
“Kau hanya seorang diri, sedangkan anjing Moses Jung itu pasti punya banyak pasukan. Kau bisa sampai di sini pun sudah termasuk beruntung. Jangan bermimpi bisa menjadi pahlawan, yang ada kau hanya mati konyol. Pastikan saja salah satu dari kami berdua kembali hidup-hidup, agar usahamu ini tidak sepenuhnya gagal,” ucap Liana dengan entengnya.
__ADS_1
Dia melihat sang ayah masih terus meronta mencoba melepaskan diri. Liana kemudian memikirkan sebuah ide, dan kembali melihat ke arah Q.
“Hei, dokter gadungan. Apa kau tidak punya sesuatu yang tajam di sana?” tanya Liana.
“Sesuatu yang tajam?” tanya Q balik.
“Yah, jika kau punya, berikan padaku, dan ku anggap kau sudah meminta maaf dengan tulus,” sahut Liana.
Q kemudian melihat sekelilingnya. Dia menyadari jika di sampingnya adalah lampu sorot yang sudah rusak. Bagian tengahnya pecah, dan terdapat pecahan kaca yang cukup tajam.
Dia pun mencoba mengambilnya.
“Aku punya ini. Apa kau mau memotong talimu?” tanya Q.
“Apa lagi? Bisa kau kemari dan membukanya?” tanya Liana.
“Kau benar. Mereka bisa meminta seseorang untuk memeriksa kemari dan pasti sangat merepotkan. Baiklah, lempar saja itu kemari!” seru Liana.
Q pun kemudian mencoba melemparkan pecahan kaca itu ke arah Liana.
“Pastikan tepat berada di dekat ku atau ayahku... lah...,” seru Liana.
Namun, rupanya Q melempar sedikit terlalu jauh dari kedua sandra itu.
“Kau ini. Benar-benar menyusahkan saja,” keluh Liana.
Sang ayah berusaha bergeser, namun kakinya yang masih cidera membuatnya hanya bisa bergerak sedikit, bahkan nyaris tak berpindah.
__ADS_1
“Hah... Sudahlah. Biar aku saja yang coba mengambilnya,” keluh Liana.
Liana pun kemudian mencoba mendekat ke arah pecahan kaca itu berada. Dengan susah payah, Liana pun terus mendekat. Namun, karena kedua tangan dan kaki serta badannya terikat oleh tali yang sangat kuat, Liana pun tak bisa menyeimbangkan diri dan terjatuh bersama dengan kursi yang ia duduki.
“Aawwww... Shi*t!” umpat Liana lirih.
Gadis itu terjatuh cukup keras hingga membuatnya memekik ke sakitan, namun ia tahan karena tak ingin ada yang mendengar teriakannya.
Liana merasa dia jatuh tepat di dekat pecahan kaca itu. Dia pun coba meraihnya dengan meminta arahan dari Q, Liana pun akhirnya bisa meraih benda tajam itu meski berkali-kali terluka karena terkena sisi tajam dari kaca saat hendak meraihnya.
Kini, dia berusaha untuk memotong tali agar bisa lepas. Namun, belum juga berhasil, Q kembali membuat Liana terkejut.
“Ada yang datang!”
.
.
.
.
Hari ini sampai sini dulu bestie🥰 besok lanjut lagi 😄
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1