Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Ikut dengannya


__ADS_3

Golden Airport, bandar udara yang berada di Golden City, nampak Liana telah berkumpul dengan rekannya, Nona Shu, yang akan bersama pergi ke Empire State dan mengurus kerjasama dengan Tuan Bob Harvey.


Dia terlihat tengah menunggu di ruang tunggu VIP bandara, menantikan pesawat datang. Mereka berdua terlihat berdiskusi mengenai proyek yang akan mereka tangani setelah penandatanganan kontrak kerja sama dilakukan.


“Sepertinya, kau cukup cepat memahaminya. Semoga, nanti kita bisa memperoleh hasil yang memuaskan,” ucap Nona Shu.


“Aku pun berharap begitu,” sahut Liana.


“Oh iya, ku dengar setelah kita pulang nanti, kakekmu akan mengadakan sebuah pesta. Apa itu benar?” tanya Nona Shu.


“Benarkah? Aku malah belum tau masalah ini,” jawab Liana.


“Ah, aku tak percaya. Kau itu selalu suka menyembunyikan berita besar dari orang-orang,” sanggah Nona Shu.


“Kapan aku begitu?” tanya Liana.


“Aku yakin kau masih ingat soal si penipu yang sok berkuasa tapi bodoh itu,” ucap Nona Shu.


“Siapa yang kau maksud, Kak?” tanya Liana.


“Jessica. Aku baru-baru ini mendengar kalau dia ternyata bukan cucu Presdir Wang. Pasti kau sudah tau itu tapi tak pernah menyinggungnya sama sekali. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, kalau Jessica itu palsu, lalu siapa cucunya yang sebenarnya? Aku yakin kau juga tau akan hal itu,” terka Nona Shu.


“Hish, Kakak. Itu urusan Kakek Wang. Kalau memang dia mau mempublikasikan identitas cucunya, pasti dia akan mengadakan konferensi pers, dan mengumumkan siapa cucunya itu,” sahut Liana.


“Tapi, aku yakin kau tahu soal itu,” cecar Nona Shu.


“Darimana Kakak bisa berpikir seperti itu?” tanya Liana.


“Selama ini, di antara semua karyawan perusahaan, hanya kau dan tuan Jimmy yang punya kaitan dengan Presdir. Bahkan saat kau pertama kali muncul, Tuan Jimmy mengenalkanmu sebagai cucu jauh dari Presdir. Ah, benar. Jangan-jangan, kau memang adalah cucu beliau. Benar begitu kan?” terka Nona Shu lagi.


Liana tersenyum simpul mendengarkan perkataan rekannya tadi.


“Kalau memang benar aku adalah cucu kandungnya bagaimana?” tanya Liana


“Itu akan sangat bagus. Paling tidak, aku bisa memintamu untuk membujuk Presdir Wang agar mau memberi kami libur sedikit lebih panjang di setiap hari raya,” ujar Nona Shu.


Liana terkekeh mendengar permintaan dari rekannya itu. Begitu pun Nona Shu yang ikut tertawa bersama rekan juniornya.

__ADS_1


“Apa kau butuh sesuatu? Aku mau beli kopi sambil menunggu pesawat kita datang,” tawar Liana.


“Americano iced,” ucap Nona Shu.


“Baiklah. Tunggu sebentar,” sahut Liana.


Gadis itu kemudian pergi ke arah cafetaria terdekat.


Dari jarak yang cukup jauh, seorang pria terlihat memakai jaket kulit hitam serta kaca mata dengan warna serupa, tengah duduk dan terus mengikuti arah kemana Liana begerak.


Tangannya terlipat di depan dada dan punggungnya bersandar di kursi, serta kaki yang bertopang sebelah ke atas.


Terlihat dua orang pria lain datang Menghampiri pria berkacamata tadi. Satunya memakai kaus ketat dengan lengan sesiku, sedangkan lainnya mengenakan kemeja bercorak hewan dengan bahas satin yang halus dan mengkilap, serta beberapa kancing bagian atas yang sengaja terbuka.


Ketiga pria itu terlihat begitu tampan, hingga beberapa calon penumpang pesawat yang juga sedang menunggu, terus memperhatikan mereka.


“Bos, ini tiketmu,” ucap si pria berkaus ketat.


Pria berkaca mata hanya menunjuk ke arah meja, pertanda jika tiket tersebut diletakkan di sana saja.


Kedua pria yang baru saja datang itu pun duduk bergabung dengan si pria berkaca mata.


Ya, ketiga pria itu tak lain adalah Falcon, Long dan juga Nine. Kedua anak buah sang gangster tengah berada di bandara atas perintah dari bos mereka.


“Aku juga merasa ini terlalu berbahaya untuk mu, Bos. Di sana ada Ketua Jung, dan juga... Kau tau sendiri siapa lagi yang sudah pasti akan mengincarmu ketika kau datang ke sana,” bujuk Nine.


“Bagus kalau kalian tau di sana berbahaya. Jadi, sudah jelas bukan alasan kenapa aku harus ikut kesana,” jawab Falcon.


Pandangannya terus mengawasi setiap gerak gerik Liana, kemanapun gadis itu pergi. Bak elang yang selalu mengawasi anak itik yang menjadi sasarannya.


“Tapi, Bos. Bagaimana kalau Lunar Group...,” ucap Long.


“Aku akan berhati-hati agar mereka tak mengetahui keberadaan ku di sana,” sela Falcon cepat.


“Aku sudah siapkan dua tiket. Kau pilih antara aku atau Long yang akan ikut kesana menemanimu. Kami tidak bisa membiarkanmu pergi seorang diri ke sana, Bos,” ucap Nine.


“Apa aku ini tampak seperti anak kecil bagi kalian? Aku bisa menjaga diriku sendiri!” seru Falcon.

__ADS_1


Dia sedikit kesal dengan sikap kedua orang kepercayaannya karena terlalu protektif, meski sang ketua gangster tau jika yang mereka lakukan semata-mata karena peduli akaakan keselamatannya.


“Kalian kembali saja ke Grey Town. Di sana akan kacau jika kalian berdua tidak ada. Aku hanya akan pergi beberapa hari saja, bukan selamanya,” ucap Falcon.


“Tapi, Bos...,” sahut Long.


“Dari dulu aku tidak pernah membantah omonganmu. Tapi kali ini, jika kau keras kepala, aku akan melakukan pembangkangan untuk yang pertaman kalinya,” potong Nine.


Sang tangan kanan terdengar serius dengan ucapannya. Falcon paham betul akan sifat dari kedua orang kepercayaannya itu. Mereka selalu menurut, dan tak peduli sesalah apa keputusannya, mereka tetap melaksanakan tanpa keraguan sedikit pun.


Kali ini, keduanya terlihat membujuk sang bos agar mau memikirkan perkataan mereka.


“Apa kalian harus berbuat sejauh ini?” tanya Falcon.


“Keputusan ada di tanganmu, Bos. Tapi kami pun punya keputusan kami sendiri,” ucap Nine.


Pria yang selalu berwajah datar namun berparas tampan itu, terus mendesak Falcon agar membawa salah satu dari mereka berdua, untuk menjaga ketua geng mereka saat di ibu kota negara.


Dengan penuh pertimbangan, Falcon pun akhirnya memutuskan untuk membawa Nine turut serta ke Empire State.


“Kalau begitu, aku akan antar kalian sampai masuk ke pesawat, baru akan kembali ke Grey Town. Kau bisa serahkan semua urusan di sana padaku, Bos,” ucap Long.


Si germo nyentrik ini pun tak kalah sadis dan kejam dari Nine, sehingga bisa juga diandalkan untuk mengurus grup. Hanya saja, perangainya yang gemar bersama wanita, membuat Falcon menugasi sang tangan kiri sebagai seorang mucikari. Hal tersebut pun tak lepas dari permintaan adik Long, Q (kyu), yang meminta Falcon agar melindungi kakaknya.


Dari kejauhan, nampak Liana dan Nona Shu tengah mengangkat koper serta tas mereka, dan berjalan ke arah boarding pass. Mereka melakukan pengecekan tiket serta passport dan masuk ke dalam.


“Sudah waktunya kita pergi. Long, aku serahkan urusan di sini padamu!” seru Falcon kepada kedua anak buahnya.


.


.


.


.


Siang bestie, yg dua lagi malem aja ya😁kepala agak oleng nih🙈

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2