
“Halo,” sapa Liana.
“Hai, Liana. Ku kira kau tidak akan mengangkat teleponmu,” sahut suara di seberang.
“Untuk apa kau menghubungiku lagi?” tanya Liana ketus.
“Maaf untuk kejadian sebelumnya. Aku belum sempat menemuimu lagi dan sudah lebih dulu harus kembali. Aku dengar, saat ini kau sedang berada di Empire State,” ucapnya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Liana.
“Ehm... Kenny. Yah, aku tau dari Kenny. Kau tau kan kami para wartawan serba tahu semua hal,” jawabnya.
Terdengar jelas jika Christopher gugup saat ditanya Liana perihal asal informasinya. Gadis pintar itu pun tak serta merta percaya, namun juga tak terlalu peduli tentang kejujuran pemuda itu.
“Baiklah. Aku memang di Empire State, seperti yang kau tahu aku di sini karena pekerjaan,” ucap Liana.
“Aku tahu. Bukankah hari ini hari terakhir kalian? Ehm... Yah aku tahu itu dari...,” sahut Christopher menggantung.
“Kenny. Apa kau mau bilang begitu? Anggap saja aku b*doh dan mudah dibohongi,” sela Liana.
Hening sejenak. Pemuda itu seperti enggan untuk kembali berucap. Namun, sedetik kemudian, dia kembali bersuara.
“Ehm... Maaf kan aku. Aku tahu kau masih kesal karena kelakuan Lusy yang kasar. Itu semua salah ku karena tidak bisa mengurusnya,” ucap Christopher.
“Aku tidak peduli, Chris. Itu urusanmu dengan perempuan itu. Lagipula sepertinya kalian cocok. Kenapa tidak kau terima saja dia?” ujar Liana datar.
“Hah, baiklah. Lupakan saja. Liana, apa kita bisa bertemu sekarang? Aku benar-benar ingin bicara padamu. Ada yang ingin ku sampaikan. Aku serius. Ada hal penting yang harus kau tahu secepatnya,” pinta Christopher.
“Maaf, Chris. Tapi sepertinya aku belum memiliki waktu. Mungkin lain kali,” ucap Liana.
__ADS_1
“Tapi...,” sahut Christopher.
“Aku harus pergi. Ku tutup dulu teleponnya,” seru Liana.
“Ini tentang ayahmu!” pekik Christopher.
Liana seketika menghentikan gerakannya dan kembali mendengarkan ucapan dari pemuda itu.
“Ini tentang ayahmu,” ulang Christopher.
Ayah? Ada apa dengan ayahku? batin Liana.
“Ayahmu sedang dalam pelarian. Dia sedang diburu oleh keluarganya,” ucap Christopher.
“Di mana kau sekarang?” tanya Liana.
“Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Liana memastikan.
“Ayahmu bernama Peter Chen. Satu marga denganku, dan Aku sangat mengenal ayahmu. Kau harus percaya padaku,” ucap Christopher.
Liana nampak ragu. Namun, rasa ingin tahunya mendorong dirinya untuk mengiyakan ajakan dari seniornya tersebut.
“Baiklah! Aku akan datang nanti malam,” sahut Liana.
“Aku akan menunggumu,” ucap Christopher.
Liana pun segera memutus sambungan telepon. Dia nampak mengela nafas beberapa kali dengan berat.
Ayah. Ada apa denganmu? Kenapa orang itu mengatakan bahwa dia tahu tentangmu? Harus kah aku percaya padanya? batin Liana.
__ADS_1
Dia menggenggam erat ponselnya dan menempelkan di dagu. Keceriaannya terpaksa teralihkan oleh kabar yang baru saja disampaikan Christopher padanya, hingga membuat hatinya tak tenang.
Cukup lama dia termenung di depan gedung The Palace, hingga akhirnya dia sadar dan melihat ke arah seberang.
Di sana, nampak Falcon sudah berdiri di tepi jalan. Liana tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kekasihnya itu.
Liana pun kembali menyimpan ponsel ke dalam tas punggungnya, dan melangkah menuju ke tempat penyeberangan.
Pikirannya masih diliputi rasa penasaran dan kekhawatiran akan nasib sang ayah, hingga dia terus menunduk dan tak melihat sekitarnya. Falcon yang berada tepat di seberang pun tak ia hiraukan. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Lampu masih merah, dan Liana berhenti di belakang lampu lalu lintas. Beberapa saat kemudian, lampu berubah hijau pertanda waktunya menyeberang bagi pejalan kaki.
Namun, baru beberapa langkah gadis itu berjalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan cepat ke arahnya. Sebuah jeritan membuat gadis itu tersadar namun terlambat. Mobil itu sudah sangat dekat dengannya.
LIANAAAAAAAA!
.
.
.
.
Nah... nah... ada apa ini???? 😱😱😱😱
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1