Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Gejolak


__ADS_3

"Bagaimana kalau Tuhan lama mengabulkan permintaan ayahmu?” tanya Falcon.


“Berarti Tuhan itu pembohong. Ayahku minta secepatnya, kenapa dia harus lama memberinya? Bukankah semua orang bilang DIA itu maha bisa?” sahut Liana enteng.


Falcon kembali terkekeh dan Liana pun tertawa. Tiba-tiba, angin berhembus sedikit kencang. Liana merasa tubuhnya sedikit tidak enak.


Falcon yang menyadari bahwa istrinya tiba-tiba diam pun mencoba mengkonfirmasi kondisi wanita itu.


“Sweety, kau tak apa? Apa ada yang membuatmu tak nyaman?” tanya Falcon.


Liana tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan perutnya. Badannya mendadak terasa panas dan kepalanya pusing. Bahkan, perutnya pun sedikit bergejolak seolah asam lambungnya meningkat.


“Sweety,” panggil Falcon.


“Honey, sepertinya aku sudah terlalu lama di luar. Ayo kita masuk ke dalam,” ajak Liana.


Falcon pun dengan penuh perhatian menuntun sang istri untuk kembali ke dalam rumah. Namun, baru beberapa langkah, Liana merasakan dorongan kuat dari dalam tubuhnya yang meminta untuk dikeluarkan.


HOEEEEKKKK!


“Sweety,” panggil Falcon panik.


HOEEEEKKKK!


Liana semakin merasa tak nyaman dan segera berlari ke arah kamar mandi. Dia berjongkok di depan closet, bahkan tanpa menutup pintu kamar mandi tersebut.


Dia terdengar sedang memuntahkan menu makan malam yang tadi ia makan bersama kakek dan juga suaminya.


Falcon pun segera menyusul sang istri yang terlihat kesakitan. Dia mencoba memijat tengkuk Liana, berharap bisa mengurangi sedikit rasa tak nyamannya.


Sekitar setengah jam, Liana masih berada di depan closet, hingga dia terpaksa duduk bersimpuh di depan benda menjijikan itu.


Tubuhnya terkulai lemas di sana, membuat Falcon merasa khawatir. Melihat sang istri telah berhenti muntah, Falcon kemudian menggendong Liana ke tempat tidur dan membaringkan tubuh lemasnya.

__ADS_1


“Kenapa tiba-tiba Seperti Ini? Apa Mungkin Karena terlalu lama di luar?” tanya Falcon.


Liana menggeleng.


“Entahlah. Perutku rasanya sangat tidak enak. Tenggorokanku hampir terbakar asam lambung,” sahut Liana lirih.


Keringat dingin terlihat muncul deras di pelipisnya. Falcon pun menyekanya dengan ujung sweaternya.


“Tunggu sebentar. Aku akan meminta seseorang membuatkan minuman hangat untuk mu,” ucap Falcon.


Liana pun mengangguk. Pria itu kemudian meninggalkan Liana menuju ke lantai bawah, untuk meminta seseorang membuatkan minuman pereda mual.


Namun, tak ada seorang pelayan pun yang terlihat masih terjaga di jam selarut itu. Akhirnya, Falcon pun berinisiatif mencari resep lewat situs online tentang minuman yang ia maksud, dan mencoba membuatnya sendiri.


Saat dia sedang sibuk di dapur, kepala pelayan yang baru tiba-tiba muncul dan melihat suami nonanya tengah sibuk di sana.


“Tuan muda, apa Anda butuh sesuatu?” tanyanya.


“Jangan lupa bawakan handuk dan air hangat juga ke atas. Sepertinya dia butuh itu juga,” seru falco.


“Baik, Tuan muda. Silakan Anda menunggu di atas saja,” sahut kepala pelayan itu.


Falcon pun mengangguk dan kembali ke kamar. Saat masuk ke dalam, dia tak melihat Liana di atas tempat tidur. Kemudian, dia mendengar suara dari arah kamar mandi.


Dia pun segera berlari dan mendapati jika istrinya kembali muntah di depan closet. Falcon ingat jika Liana sudah sangat lemas dan kelelahan, namun dia justru kembali muntah.


Setelah beberapa saat kemudian, Liana kembali berhenti muntah dan digendong oleh Falcon kembali ke tempat tidur.


Saat itu, pintu diketuk dan pria tersebut meminta orang itu untuk masuk. Rupanya, kepala pelayan yang datang untuk membawakan apa yang diminta oleh Falcon tadi.


Dia kemudian meletakkan semuanya di atas nakas, dan melihat wajah nonanya yang tampak begitu pucat.


“Apa Nona sedang sakit? Anda terlihat tidak sehat. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa Anda?” tawar kepala pelayan.

__ADS_1


Liana menggeleng.


“Aku tak apa. Mungkin hanya masuk angin saja,” ucap Liana.


“Tapi sepertinya saran kepala pelayan ada benarnya, Sweety. Kau tidak terlihat baik-baik saja. Aku khawatir padamu,” seru Falcon.


“Aku sudah tak apa-apa. Kau jangan berlebihan seperti itu,” sahut Liana.


Gadis itu masih saja keras kepala, meski kondisinya sudah begitu lemas dan pucat. Karena sudah selesai mengerjakan perintah, kepala pelayan pun kembali keluar.


Falcon meraih gelas yang dibawa oleh kepala pelayan dan meminumkannya pada Liana. Setelah itu, dia mengelap wajah Liana dengan handuk dan air hangat, untuk menyeka keringat dan sisa muntahan di wajah pucat wanita itu.


Setelah selesai, Falcon meminta Liana untuk berbaring dan mencoba beristirahat. Namun, baru saja berbaring, Liana merasakan perutnya kembali bergejolak. Dia pun kembali melompat dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamar mandi.


Falcon kembali dibuat panik saat istrinya kembali muntah. Dia pun segera menyusulnya, dan melanggar aturan di rumah besar itu yang melarang siapapun menggunakan ponsel atau alat komunikasi lainnya.


Dia segera menghubungi seseorang, sambil terus memijat tengkuk istrinya.


“Datang ke Dream Hill dalam tiga puluh menit!” seru Falcon.


Dia kemudian mematikan ponselnya dan kembali fokus pada Liana.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2