
“Apa kau tak punya ponsel? Apa harus berlari seperti itu?” tanya Nine yang saat itu juga berada di sana.
“Maaf, Kak Nine. Aku sudah berusaha menghubungi mu, tapi ponselmu sedang tidak aktif sejak tadi,” jawab si pria yang merupakan salah satu anggota geng Jupiter.
Nine nampak menyentuh saku celananya dan menyadari bahwa ponselnya memang tak ada. Dia kemudian teringat jika ponsel itu tengah diisi daya di dekat mini bar, yang ada di tempat tersebut.
“Kau kan bisa menghubungi bos langsung?” tanya Nine lagi menutupi kekikukkannya.
“Tapi, bukankah yang tau nomer bos cuma Anda dan Kak Long saja,” jawab si pria itu.
Nine lagi-lagi harus malu karena kata-katanya selalu dijawab dengan benar oleh anak buahnya sendiri.
“Kau kan bisa menghubungi Long dan memintanya menyampaikan pada bos?” seru Nine lagi.
Long yang sedari tadi melihatnya pun hanya bisa menahan tawa sambil garuk-garuk pelipisnya yang tak gatal sama sekali. Dia sangat geli melihat wajah Nine yang seolah merah padam akibat malu di depan semua orang.
“Hahahahh... Sudahlah, Nine. Sudah. Kau ini membuatku sangat geli. Hahahha...,” ucap si germo nyetrik.
Long pun akhirnya meledakkan tawanya melihat Nine yang terus mendebat anak buahnya sendiri.
Falcon yang sedari tadi duduk diam di sana pun, kemudian membuka suara.
“Cepat katakan, ada hal gawat apa?” tanya Falcon menghentikan semua keriuhan di tempat tersebur karena ulah Nine dan anak buahnya.
“Salah satu anggota kita ada yang melihat orang-orang ketua Jung, saat ini sedang berada di Golden City,” lapor anggota geng.
“Apa? golden city? Bos, apa mereka masih mengejar mu? Apa dia tahu kalau kau sering ke sana dan menemui Nona Wu?” tanya Long.
Falcon meminta Long untuk tetap diam dengan isyarat jari telunjuknya.
“Katakan yang lengkap. Sedang apa mereka di kota itu?” tanya Falcon.
“Mereka terlihat tengah mencoba mengepung wartawan laki-laki itu, Bos” tutur anggota geng.
“Wartawan? Maksdumu, Tuan Muda Chen?” tanya Long.
“Benar. Dia adalah Wartawan Chen yang kami awasi atas perintah dari Bos waktu itu,” ucap anggota geng.
“Lalu, apa yang terjadi? Apa dia tertangkap?” tanya Falcon.
“Tidak, Bos. Wartawan itu berhasil lolos. Setelah itu, kami berperncar mengikuti si wartawan dan juga orang-orang Ketua Jung. Saat mereka kehilangan wartawan itu, mereka pergi ke tempat tinggalnya, namun tak ada siapa pun di sana, karena wartawan itu pergi ke tempat temannya untuk bersembunyi,” ungkap anggota geng.
“Jadi, mereka mulai bergerak lagi. Tapi, bukankah itu sudah sangat lama sejak mereka menemukannya di Metropolis? Kalau bukan karena foto anonim waktu itu, aku juga tidak akan bisa melacaknya. Tapi, kenapa kali ini sampai bisa terlacak?” gumam Falcon.
“Bos, apa mungkin kita perlu mencari tahu?” tanya Nine.
__ADS_1
Falcon tampak mengetuk-ngetuk pelipisnya, sambil berpikir apa yang sedang dilakukan mantan ketua geng Jupiter itu.
“Kau awasi terus wartawan itu. Jika orang-orang si Pak tua Jung itu hanya ingin menyeretnya pulang ke rumah, maka biarkan saja,” seru Falcon.
“Baik, Bos,” sahut si anggota geng.
Dia pun kemudian pergi dari tempat tersebut, meninggalkan ketiga orang paling tinggi di geng itu.
Setelah anak buahnya pergi, Falcon terlihat masih memikirkan sesuatu. Nine yang jeli pun bisa menangkap hal itu dan mendekat ke arah bosnya.
“Nine, seperinya kita perlu melakukan tindakan pencegahan” ucap Falcon
“Apa maksudmu dengan memperketat penjagan pada Nona Wu?” tanya Nine.
Terdengar helaan nafas berat dari mulut sang ketua gangster. Tangannya turun dan menautkan kesepuluh jarinya tepat di depan dada, dengan kedua sikunya bertumpu pada sisi sofa.
“Aku khawatir mereka mengetahui kedekatan Tuan Muda Chen dengan Lilian, dan memanfaatkan gadis itu untuk membuatnya mau pulang. Kita tau jika mereka tak akan pernah melepaskan orang yang sudah mereka tangkap begitu saja,” ucap Falcon.
“Benar, Bos. Kalau tidak dijual utuh, bisa jadi dijual organ tubunya. Mereka memang kejam,” timpal Long.
Pria nyentrik itu bahkan sampai bergidik ngeri.
“Lalu, apa rencanamu, Bos?” tanya Nine.
“Tambah orang untuk mengawasi Lilian, dan pastikan dia terjaga dari orang-orang Pak tua Jung itu,” seru Falcon.
...👑👑👑👑👑...
Di Dream Hill, Liana dan kakek Joseph menghabiskan waktu seharian, berdua menikmati suasana tenang di mansion besar itu.
Liana mencoba menunggang kuda kesayangan sang kakek di sekitar danau, ditemani oleh Morgan, yang kebetulan pada saat itu sedang berada di dekat kandang.
Kakek Joseph hanya melihat dari samping arena berkuda, ditemani oleh Debora yang datang membawakan kursi untuk pria tua itu duduk, dan melihat cucunya bersenang-senang.
“Lilian pasti bangga dengan putrinya. Dia tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan cerdas,” ucap Kakek Joseph.
“Benar, Tuan. Nona muda mewarisi kecerdasan Anda, sedangkan wajah dan pembawaannya yang selalu ceria serta baik kepada semua orang, diturunkan oleh Nona Lilian,” sahut Debora.
Joseph nampak mengangguk-angguk setuju dengan perkataan sang kepala pelayan.
“Apa kau tau, dia tak mau di panggil Nona muda. Jimmy yang mendengarnya sendiri,” ucap Kakek Joseph.
“Lalu, bagaiman kita memanggilnya, Tuan? Apa kah hanya nama saja seperti sebelumnya? Itu sangat tidak sopan,” timpal Debora.
“Lilian Wu hanyalah nama yang kuberikan sewaktu dia masih berpura-pura amnesia. Sedangkan nama aslinya adalah Liana. Kau dan yang lain bisa memanggilnya Nona Liana saja mulai sekarang. Mungkin itu lebih dia suka,” jawab Kakek Joseph.
__ADS_1
“Baiklah,” sahut Debora.
Keduanya kembali melihat ke depan dan menyaksikan Liana menunggang kuda. Keahliannya yang satu itu semakin baik, seiring dia belajar dari waktu ke waktu setiap kali berkunjung ke mansion keluarga Wang.
Dia bahkan bisa menunggang kuda beriringan bersama Morgan, tanpa memintanya untuk menuntun dari bawah.
Setelah cukup lama berada di belakang, kini Liana mengajak kakeknya kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Dia dengan penuh kasih sayang, memapah satu-satunya keluarga yang masih tersisa di dunia.
Debora berjalan di belakang bersama dengan Morgan, yang membawa kursi kembali ke dalam rumah.
Sesampainya di rumah utama, Morgan dan Debora kembali mengerjakan tugas masing-masing, sedangkan Liana mengantarkan kakeknya ke kamar.
Dia memuntun pria tua itu hingga naik ke tempat tidur. Liana pun menyelimutinya dengan benar agar kakek merasa hangat.
Kakek Joseph duduk bersandar di head board, sambil menggenggam tangan cucunya.
“Terimakasih, karena kau sudah mau pulang ke rumah, Nak,” ucap kakek.
“Sudahlah, Kek. Jangan dibahas lagi. Yang dulu biarlah menjadi masa lalu. Yang penting sekarang, Kakek sudah tau semuanya dan mau menerima ku. Sebaiknya, kakek istirahat dulu. Aku akan melihat Kakek ketika makan malam nanti,” sahut Liana.
“Lalu, kau mau kemana?” tanya Kakek Joseph.
“aku juga mau istirahat dulu, Kek. Perjalanan dari Golden City ke mari cukup melelahkan. Ditambah bermain kuda dengan Morgan tadi,” jawab Liana.
“Jangan ke paviliun belakang lagi. Tempat mu bukan di sana. Aku sudah meminta Debora untuk menyiapkan kamar lain untuk mu,” seru Kakek Joseph.
“Apa itu adalah kamar bekas Jessica?” tanya Liana.
Gadis itu terlihat tidak senang, saat membayangkan jika dirinya harus menempati bekas kamar pelacur itu. Namun, Kakek Joseph segera menggeleng.
“Tempatilah kamar ibumu, Nak. Kamu pantas berada di sana,” ucap Kakek Joseph.
.
.
.
.
Met pagi bestie 🥰🥰🥰🥰met hari senin🥳🥳🥳🥳🥳
Ayo mana vote kalian😊 kasih ke Liana sini😁😁😁😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘