
“Apa imbalannya jika aku melakukan itu?” tanya Peter.
“Ehm... Mungkin aku bisa menerima Paman sebagai teman,” sahut Liana dengan entengnya.
“Hanya itu?” tanya Peter.
“Memang apa lagi yang bisa ku tawarkan padamu untuk sebuah doa?” tanya Liana balik.
“Bagaimana kalau minum kopi lain waktu?” tawar Peter
“Boleh saja. Asal besok ayahku benar-benar muncul di bandara,” ucap Liana.
“Hei, itu terlalu berat, Nak. Bagaimana doa bisa terkabul secepat itu?” keluh Peter.
“Hanya sebuah doa dan kau minta ditraktir minum kopi? Apa itu tidak terlihat jelas kalau Paman sedang mencari kesempatan padaku?” sanggah Liana.
“Hei, bocah!” seru Peter
Namun, bukannya takut mendengar suara Peter yang tiba-tiba mengeras, Liana justru terkekeh karena berhasil menggoda ayahnya sendiri.
Melihat tawa sang putri, membuat senyum di bibir Peter pun muncul. Rasa kesal karena dikerjai oleh putrinya sendiri, hilang dan berganti perasaan hangat, namun masih menyisakan nyeri yang mendalam.
“Kau ini sangat mudah di goda ya, Paman. Pasti istrimu sangat Posessif karena sifatmu ini,” sindir Liana.
“Aku tidak pernah menikah,” ungkap Peter.
__ADS_1
Seketika, tawa Liana terhenti. Dia menatap tajam ke arah pria itu, seolah tengah meminta penjelasan akan apa yang dikatakannya barusan.
Seperti tahu isi pikiran Liana, Peter pun kembali angkat bicara.
“Aku ini tipe pria yang setia. Seumur hidup hanya mencintai satu wanita, meskipun kami tidak ditakdirkan bersama,” lanjut Peter
“Di... Ehem... Di mana wanitamu itu? Apa dia kabur dengan pria lain?” tanya Liana.
Gadis itu bahkan sempat gugup dan terpaksa berdehem untuk menghilangkan gugupnya.
Peter menggeleng. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh dada sebelah kirinya.
“Di sini. Akan selamanya berada di sini, meski raganya sudah tak ada lagi di dunia ini,” ucap Peter.
Hati Liana kembali bergemuruh. Sesak. Benar-benar terasa sesak. Liana sekuat hati menahan matanya agar tak menangis. Kepalan tangannya semakin kuat hingga kuku jarinya melukai telapak tangannya sendiri.
Dia mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya, agar perasaanya kembali tenang.
“Hah... Baiklah. Sepertinya aku memang harus beristirahat. Aku harap, doamu bisa terkabul esok hari. Aku benar-benar akan menunggu di bandara. Bilang pada Tuhan, agar ayahku datang,” ucap Liana.
Peter tak menyahut, dan hanya melihat Liana yang terus menghela nafas berat. Gadis itu kemudian menoleh dan tersenyum ke arahnya.
“Kau bisa pulang sendiri kan, Paman?” tanya Liana.
Peter mengangguk pelan, sembari mengedipkan kedua matanya.
__ADS_1
Liana berbalik dan menghadap ke arah sang ayah. Dia meluruskan kedua lengannya sejajar dengan kaki, dan membungkuk memberi hormat kepada pria di depannya.
“Aku pamit, Paman,” ucap Liana.
Gadis itu pun kemudian pergi meninggalkan Peter, yang masih kaku karena baru saja menerima hormat pertama dari sang putri. Hatinya berdesir. Saat netranya tak lagi melihat sosok Liana di kejauhan, kakinya seketika lemas dan dia pun jatuh terduduk di kursi yang tadi.
Tangannya berpegangan pada meja, agar tak terjatuh ke bawah. Peter memegangi dadanya yang semakin sakit. Dia bahkan memukul-mukul bagian itu dengan keras, berharap agar sesaknya bisa terurai.
Air mata tak mampu lagi dibendung nya, kala mengingat perbincangannya dengan sang putri.
Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah. Ayah memang tidak pantas menjadi ayahmu. Kamu sudah banyak menderita karena ayah mu ini, batin Peter
Pria itu tak tahu, jika dari balik kegelapan nan jauh di seberang jalan sana, di balik pohon yang berada di pinggiran taman, Liana berdiri memandangi pria itu dengan hati yang hancur.
Gadis itu bahkan ikut menangis tanpa bersuara. Hatinya perih melihat sosok yang sangat ia rindukan, kini tengah menangis seorang diri.
.
.
.
.
Dah dulu ya🤭ntar malem kita lanjut lagi😁mau ngemong bocil dulu ya besties 🥰😘
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘