Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pemeriksaan


__ADS_3

Keesokan harinya, Liana dan Falcon duduk di meja makan bersama sang kakek. Wanita itu terlihat begitu pucat setelah semalaman terus saja muntah.


Falcon bahkan sampai khawatir. Namun, Liana selalu mencegahnya saat sang suami ingin membawanya untuk pergi ke rumah sakit saat itu juga, dengan alasan dia tak apa meski tubuhnya terlihat lemas dan peluh dingin bercucuran di sekujur tubuhnya.


Pagi ini pun, Liana harus dibantu oleh Falcon untuk mengelap tubuhnya yang penuh dengan keringat.


Falcon secara khusus meminta pelayan untuk menyiapkan sup ayam hangat penuh nutrisi yang bisa memulihkan tenaga Liana, yang telah terkuras habis semalam.


Namun, saat pelayan membawa setoples acar bawang kesukaan tuan besarnya, Liana seketika merasa mual kembali dan berlari ke arah toilet yang berada di dekat dapur.


Semua orang panik, terlebih Falcon. Sudah semalaman sang istri memuntahkan isi perutnya, hingga cairan lambung yang kekuningan pun ikut keluar. Kini, Liana harus kembali muntah hingga tubuhnya terasa sangat lemas.


Saat sudah lebih baik, dia kembali ke meja makan dan kembali mencium aroma bawang yang menyengat. Liana segera menutup hidungnya dan meminta pelayan menyingkirkan benda itu.


Tak lama setelah kehebohan tersebut, Kakek Joseph duduk di meja makan. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencari acar bawang kesukaannya.


“Maaf, Kek. Hari ini tolong jangan makan acar bawang. Aku tidak tahan dengan baunya,” ucap Liana.


Terdengar helaan nafas panjang dari pria tua itu.


“Bahkan makanan kesukaanku pun dilarang olehmu,” gumam Kakek Joseph.


Dia lalu menikmati hidangan lain yang disajikan oleh koki rumah tersebut, tanpa acar bawang kegemarannya.


“Aku dengar semalam ada yang datang?” tanya kakek di sela sarapan.


“Dia dokter kenalan ku, Lion Law,” jawab Falcon.


Kakek Joseph menatap sekilas wajah cucu perempuannya. Dia bisa menebak jika yang sakit semalam adalah Liana.

__ADS_1


“Bagaimana kondisimu? Apa kau mengalami sesuatu yang serius?” tanya Kakek Joseph.


“Aku sudah tak apa, Kek. Dokter itu memintaku untuk memeriksakan lebih lanjut ke rumah sakit untuk memastikan kondisiku,” jawab Liana.


Gadis itu masih berbicara dengan nada tegas, namun kondisinya yang lemah membuat suaranya terdengar sedikit lirih.


“Baiklah. Selesaikan sarapan kalian dan segera pergi ke rumah sakit. Tidak lucu rasanya kalau kau justru menjadi pasien, saat musuhmu dijatuhi vonis,” ucap Kakek Joseph.


“Baik, Kek,” sahut Falcon.


Mereka lalu melanjutkan makan dengan tenang.


Setelah sarapan, Falcon dan Liana segera menuju ke rumah sakit. Di sepanjang jalan, Liana terus saja memejamkan mata. Falcon dengan penuh perasaan, mengelus rambut istrinya dan membuat Liana semakin terlelap.


“Kau bahkan tidak bisa tidur semalaman karena muntah. Pantas saja kalau sekarang ketiduran,” gumam Falcon.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Melihat Liana sudah tenang dan tak lagi mual-mual, Falcon pun meminta supir untuk memperlambat laju mobilnya agar tidur Liana tak terganggu.


Falcon melihat Liana tidur begitu lelap. Dia tak tega membangunkannya, dan berniat menggendongnya masuk. Namun, baru saja beberapa langkah dari mobil, Liana telah bangun dan meminta suaminya menurunkannya.


“Tapi kau sangat lemah. Biarkan seperti ini saja,” bujuk Falcon.


“Aku tidak mau terlihat tidak berguna. Aku masih sanggup berjalan. Cukup papah aku saja, oke,” pinta Liana.


Akhirnya, pria itu hanya bisa menuruti kemauan istrinya. Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke bagian pendaftaran.


Q melihat kedatangan Falcon saat sedang mengecek daftar pasien di meja perawat yang ada di IGD, yang berada tak jauh dari meja pendaftaran di lobi depan. Dia pun kemudian menghampiri keduanya.


“Masukkan Nyonya ini ke bagian dokter Obgyn,” ucap Q pada petugas pendaftaran.

__ADS_1


“Apa kau yakin?” tanya Falcon.


Pria itu terkejut saat mendengar perkataan dari dokter tersebut.


“Honey, ayo kita pastikan sama-sama, hem,” ucap Liana.


Mendengar hal itu, jantung Falcon tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ada rasa pengharapan di dalam hati, seandainya kemungkinan yang dibicarakan oleh Q dan istrinya adalah benar-benar terjadi.


Mereka pun kemudian dipandu oleh seorang perawat, menuju ke ruang praktek dokter spesialis kandungan.


Di sana, banyak pasangan yang sedang mengantri. Ada yang terlihat seperti pengantin baru, sama seperti Falcon dan Liana. Ada juga wanita dengan perut yang sudah terlihat membesar, dan tengah dielus dengan penuh kasih sayang oleh suaminya. Ada pula yang hamil besar dan terlihat kesusahan, bahkan saat sedang duduk sekalipun.


Liana mengeratkan rangkulan di lengan suaminya. Sementara Falcon, hatinya masih tak tenang, ditambah dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


Dia melihat kursi kosong, dan mengarahkan Liana untuk duduk menunggu di sana. Falcon dan istrinya tak memakai akses VIP, dan ikut mengantri sama seperti pasien lainnya.


Satu persatu pasien dipanggil masuk dan diperiksa oleh sang dokter. Setelah menunggu cukup lama, dan dengan perasaan yang tak menentu, akhirnya kini giliran nama Liana yang dipanggil oleh perawat.


Liana dan Falcon saling pandang dan mereka pun berjalan masuk ke ruangan dokter tersebut.


Nampak seorang dokter wanita duduk dibalik mejanya, dan meminta pasangan itu untuk duduk.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2