Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Marah


__ADS_3

Liana maju menghadang para pria berpakaian serba hitam, yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kediaman pribadi Joseph Wang yang seharusnya memiliki tingkat keamanan tinggi, serta tak mudah dimasuki oleh sembarang orang.


Namun, kali ini, bahkan satu orang penjaga pun tak ada yang terlihat menghalangi atau menangkap mereka semua.


“Nona, sebaiknya Anda minggir. Kami tidak ada urusannya denganmu,” seru pria yang terlihat sebagai pimpinan orang-orang itu.


“Kalau kau berani mengacau di tempat ini, maka kalian berurusan denganku,” ucap Liana tegas.


“Kami tidak akan mengacau, asalkan kalian serahkan pelacur itu dan ibunya. Kami janji akan segera pergi jika kalian membiarkan kami membawa mereka,” ucap si pemimpin.


“Pelacur?” gumam Joseph sambil menoleh ke arah belakangnya, di mana Jessica dan juga Caroline berada.


“Anak muda. Jangan sembarangan memanggil cucu ku itu dengan sebutan hina seperti itu. Dia hidup dengan baik selama ini. Dia tak mungkin seperti itu,” ucap Joseph berusaha membela Jessica.


Namun, pria itu kemudian mengambil sesuatu dari saku jasnya, dan melemparkan ke hadapan semua orang.


“Lihatlah foto-foto itu. Dia sudah menjadi pelacur selama dua tahun ini, karena ibunya berhutang banyak di cassino kami,” ungkap pria itu.


Nampak jelas bagaimana penampilan serta kegiatan Jessica, selama bekerja di klub malam milik kelompok Falcon selama ini. Pakaian minim serta sikap manja dengan semua pria, membuat Joseph meradang.


“Apa?” Joseph menatap nyalang ke arah Caroline yang nampak ketakutan.


Kakek tua itu seolah tengah menyalahkan semua itu kepada Caroline, yang dinilainya telah menjerumuskan Jessica.


Sedangkan Liana memilih diam, alih-alih membela Kakek Joseph, dengan kehadiran orang-orang itu, dia pun bisa membongkar kedok kedua wanita penipu yang sudah mengambil posisinya dengan cara curang, tanpa harus berusaha sendiri.


Kakek tua itu nampak memegangi dadanya. Dia kembali kesakitan, dan hal itu membuat Liana panik.


Gadis itu segera memanggil Debora yang berada di paviliun belakang.


“Nyonya Deby! Nyonya, kakek kambuh lagi! Nyonya!” teriak Liana sekencang-kencangnya.


Tak lama kemudian, Debora datang berlarian dan melihat jika tuan besarnya kembali kesakitan.


“Cepat panggil bantuan!” pekik Liana dari kejauhan.


Tanpa berkata lagi, Debora pun segera memanggil tim medis untuk memberikan penanganan kepada Kakek Joseph.


Sementara di dekat gazebo samping, para pria itu maju dan hendak menyeret paksa Jessica dan juga Caroline pergi dari tempat tersebut.


Namun, di tengah rasa sakitnya, Joseph menghalangi mereka dan justru bersedia menebus Jessica dari mereka.

__ADS_1


“Kakek! Tolong jangan banyak bicara dulu. Ini bukan waktunya untuk khawatir tentang masalah lain,” seru Liana yang merasa sedih, melihat kakeknya lebih peduli dengan orang lain ketimbang dirinya sendiri.


“Lilian, tolong ... Bilang ... Pada Jimmy ... Untuk memberikan mereka uang ... Berapapun... Asalkan ... Mereka mau ... Melepaskan... Jessy,” ucap Kakek Joseph terbata, dengan nafas yang tersengal-sengal.


Liana menutup matanya rapat, menghalau bulir bening yang sepertinya hendak menerobos jatuh dari pelupuk matanya.


Helaan nafas berat bahkan terdengar dari mulut gadis itu. Dengan tangan yang mengepal kuat, dan dada yang bergemuruh penuh dengan kekesalan, Liana pun menuruti permintaan Kakek Joseph.


“Lepaskan mereka! Kami akan berikan berapa pun untuk menebus pelacur itu dari kalian!” ucap Liana dengan menekankan kata pelacur, dan membuat Jessica merasa tertampar.


“Kami tidak bisa percaya begitu saja dengan sekedar perkataan. Kami butuh sebuah bukti,” ucap pria itu.


Tanpa berpikir panjang, Liana pun melemparkan kunci mobil mewahnya kepada salah satu dari mereka, dan menjadikannya sebagai jaminan.


“Bawa mobilku sebagai jaminan. Jika uangnya sudah ada, aku akan antarkan sendiri kepada kalian dan sekaligus mengambil kembali mobilku,” ucap Liana dengan berani.


Mereka saling pandang, dan akhirnya melepaskan kedua ibu dan anak penipu itu.


“Ayo kita pergi!” ucap si pemimpin.


Seperginya mereka, tak berselang lama, tim medis datang dengan menggunakan helikopter rumah sakit pusat pemerintah kota.


Setelah memberikan pertolongan pertamanya, mereka pun segera membawa Kakek Joseph menuju ke rumah sakit.


...👑👑👑👑👑...


Di rumah sakit, Kakek Joseph segera dilarikan ke UGD. Tak berselang lama, Jimmy tiba dan mendapati Liana tengah duduk menunggu seorang diri di depan ruang gawat darurat tersebut.


“Lilian, bagaimana kondisi tuan besar? Kenapa dia bisa kambuh secepat ini?” cecar Jimmy, begitu dia tiba di hadapan Liana.


“Paman, apa paman yakin kalau gadis itu adalah cucu kakek? Berdasarkan apa?” tanya Liana lirih hampir seperti bergumam.


“Apa yang kau katakan?” tanya Jimmy yang tak jelas mendengar perkataan Liana.


Terdengar helaan nafas berat dari bibir gadis itu.


"Apa saja yang dikerjakan semua penjaga di rumah itu? Kenapa orang asing bisa masuk begitu saja ke dalam sana. Benar-benar keterlaluan," ucap Liana kesal.


Dia menilai jika Jimmy sudah lalai menjaga keamanan rumah besar dream hill.


"Maafkan aku. Ini tak akan terjadi lagi. Tapi, apa yang sudah mereka lakukan sampai tuan besar seperti ini?" tanya Jimmy lagi.

__ADS_1


“Tadi ada yang tiba-tiba datang dan menerobos masuk ke rumah besar kakek. Mereka mengatakan jika gadis yang mengaku cucu kakek, adalah pelacur yang lari dari tempat mereka. Kakek syok, dan membuatnya kambuh lagi,” ungkap Liana.


“Apa? Pelacur?” tanya Jimmy.


“Apa Paman tidak menyelidiki latar belakang mereka? Kenapa tiba-tiba mereka bisa datang dan dengan mudahnya mengaku sebagai cucu kakek yang hilang? Atas dasar apa, Paman?” cecar Liana dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


Jimmy bahkan terkejut melihat reaksi Liana yang belum pernah dilihatnya selama ini. Liana yang dikenalnya adalah gadis tangguh yang suka bersikap seenaknya sendiri. Gadis pemberani yang bahkan tak takut dengan semua tantangan dan ancaman yang diberikan oleh tuan besarnya.


Namun, kali ini dia justru melihat raut kecewa dan sedih sekaligus di wajah cantiknya.


“Lilian, apa ada yang salah denganmu?” tanya Jimmy bingung.


Liana cepat-cepat membuang muka, dan mendongak ke atas, sambil mengerjapkan mata untuk menghalau bening yang kian menumpuk di pelupuk mata agar tak lantas menetes.


“Kakek meminta Paman untuk menyiapkan sejumlah uang untuk menebus Jessica dari para pemburu pelacur itu,” seru Liana dengan suara yang ia tahan agar tak terdengar bergetar.


“Pelacur?!” seru Jimmy yang merasa tak percaya dengan yang dikatakan oleh Liana.


Gadis itu pun semakin merasa jengah dengan kebodohan, yang telah dilakukan oleh sang asisten dan juga kakeknya itu.


Sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas dengan senyum yang terlihat begitu miris.


“Apa hanya karena kalung?” tanya Liana.


Gadis itu menatap lurus ke arah Jimmy, seolah ingin menuntut penjelasan tentang semua ini.


“Apa hanya karena dia memakai kalung yang sama dengan nona muda, lalu kalian langsung membenarkan pengakuan mereka? Bagaimana dengan tes DNA? Apa Paman begitu bodoh membawa masuk orang tak jelas ke dalam rumah kakek dan membuat keributan di sana?” cecar Liana yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi.


Rasa sedih, kecewa dan hancur bercampur menjadi satu, saat melihat sepupunya yang justru mengambil alih posisi yang seharusnya menjadi miliknya saat ini.


.


.


.


.


Nah kan, marah dia kayak pembaca yang dari semalem emosi😅


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2