
Gelap telah menguasai, dan sang dewi malam naik menerangi. Di tengah cahaya lampu kota yang seolah ingin menguasai, sinar rembulan pun seolah pias terlihat dari muka bumi.
Liana baru saja selesai mempersiapkan semua berkas yang akan ia bawa besok. Dia bahkan membawanya pulang untuk dipejari lagi di rumah.
Gadis itu kini terlihat keluar dari gedung Wang Construction, dan berjalan ke arah parkiran depan. Setelah kejadian penculikan yang dilakukan. Oleh Henry dan Alice, ada rasa was-was saat Liana berada seorang diri di sebuah tempat yang jauh dari keramaian.
Kantor akan sepi saat jam kerja berakhir pada pukul lima sore, dan sudah pasti parkiran basement akan terasa benar-benar menyeramkan. Awalnya, Liana tak pernah merasa ketakutan di tempat sepi seorang diri, namun kini dia memilih aman agar tak bisa kembali diserang oleh orang tak dikenal. Itu pun atas anjuran dari Falcon.
Gadis itu pun memilih parkiran luar yang selalu terasa ramai, dengan warga yang berlalu lalang di trotoar serta mobil yang melintas di jalan raya. Terlebih lagi, petugas keamanan yang lebih banyak berada di sekitar area tersebut, membuat Liana lebih merasa aman.
Dia berjalan menghampiri Chevrolet nya yang terparkir di sana. Satu-satunya mobil yang terparkir di luar, karena sesungguhnya area tersebut diperuntukkan untuk tamu, dan bukan karyawan.
Nampak beberapa berkas yang masih ia pegang di tangan, dan membuatnya kesulitan untuk membuka pintu mobil. Tiba-tiba, seseorang meraih semua berkas di tangannya, dan membuat Liana menoleh ke arah orang tersebut.
“Kau?” tanya Liana.
“Bukalah!” seru orang itu.
Liana pun segera membuka pintu mobil. Sementara orang itu berjalan ke arah pintu belakang. Dia meletakkan semua berkas tersebut di sana.
“Biar aku yang mengemudi,” serunya lagi.
“Oke,” sahut Liana.
Gadis itu pun berjalan memutar dan duduk di kursi penumpang depan. Sementara orang tadi duduk di belakang kemudi.
“Sedang apa kau kemari?” tanya Liana.
“Kebetulan sedang ada urusan,” sahut orang itu.
Mobil melaju perlahan dijalanan kota Golden City yang diterangi lampu lalu lintas. Suasana mulai ramai dengan kehidupan malam dikota besar tersebut.
“Apa kau kemari sendiri?” tanya Liana.
“Aku kemarin bersama Nine,” sahut orang itu yang tak lain adalah Falcon.
__ADS_1
Liana menoleh ke belakang, mencoba mencari keberadaan sang tangan kana si bos gangster itu. Namun, dia tak mendapati keberadaan mobil yang biasa dipakai Nine.
“Dia sudah ku suruh pulang,” ucap Falcon.
Liana pun segera menoleh ke arah pria di sampingnya.
“Kenapa? Lalu bagaimana kau pulang? Jangan minta aku mengantarmu pulang ya. Besok aku ada penerbangan pagi,” sahut Liana.
Falcon hanya tersenyum tipis.
“Apa kau sudah makan?” tanya pria itu.
“Belum sempat. Aku sangat sibuk menyiapkan semua yang akan ku bawa besok pagi. Bahkan, separuhnya pun ku bawa pulang untuk dipelajari,” jawab Liana.
“Ehm, kalau begitu biarkan aku ikut kau pulang. Aku bisa menyiapkan makan malam untukmu, dan kau juga bisa langsung mengerjakan pekerjaanmu. Lebih efisien dari pada harus makan di luar bukan,” tawar Falcon.
“Ehm, ide bagus. Tapi, kau tidak punya niat lain bukan?” tanya Liana mengantisipasi.
Falcon menoleh sekilas, dan melihat jika gadis itu tengah memicingkan mata ke arahnya.
“Apa kau berharap aku melakuan sesuatu yang lain?” goda Falcon.
“Baik, Tuan Putri,” sahut Falcon.
Liana memalingkan wajahnya seraya menyembunyikan senyum yang tertahan di bibirnya. Namun, Falcon bisa dengan jelas melihat hal itu dari pantulan kaca, dan membuatnya pun ikut tersenyum.
Sekitar lima belas menit waktu tempuh dari Wang Construction, kini keduanya telah sampai di parkiran basement apartemen Liana. Falcon kembali membawakan berkas gadis itu dan berjalan berdampingan ke arah lift.
Keduanya pun masuk ke apartemen. Sesampainya di sana, Liana berjalan ke arah kamarnya.
“Letakkan saja berkasnya di meja ruang tamu,” seru Liana saat berada di ambang pintu.
Gadis itu pun menghilang di balik pintu kamarnya. Sedangkan Falcon, dia meletakkan berkas di tempat yang tadi di katakan oleh Liana, dan kemudian pergi ke dapur.
Dia membuka lemari pendingin dan melihat beberapa bahan makanan yang nampak sedikit layu, karena sudah terlalu lama berada di dalam sana.
__ADS_1
“Wah, apa lemari pendingin di rumah seorang gadis menyedihkan begini?” gumam Falcon.
Dia berjongkok dan mengambil telur serta beberapa bahan lainnya dari dalam sana. Dia pun mencari bahan lainnya di lemari atas dan menemukan mi instan dan bihun. Pria itu mengambil sebungkus bihun dari sana dan meletakkan semua bahan makanan yang diambilnya ke atas dapur.
Falcon terlihat mulai memilah sayuran yang masih layak konsumsi dan membuang sisanya.
“Kapan-kapan, sepertinya aku perlu mengajak dia belanja kebutuhan dapur. Hah, dasar gadis ini,” gumam Falcon.
Hanya sisa sedikit sayuran. Beruntung masih ada jamur yang cukup bagus untuk ditambahkan dalam masakan.
Falcon memilih untuk memasakan sup bihun jamur dan telur gulung untuk makan malam mereka. Dengan terampilnya, pria itu mengolah bahan makanan seadanya itu dengan sangat cekatan.
Setengah jam sudah berlalu, dan Liana pun telah selesai mandi dan berganti pakaian. Gadis itu berjalan ke arah dapur dan mengambil air minum dari dalam lemari pendingin.
“Kau jual saja lemari pendingin mu itu dari pada tidak difungsikan,” sindir Falcon.
Liana nampak meneguk air dan membiarkan cairan itu membasahi kerongkongan nya terlebih dulu.
“Apa maksudmu tidak difungsikan? Aku selalu menyalakannya dan menggunakannya untuk mendinginkan makanan dan minuman,” jawab Liana
“Oh ya? Lalu, kenapa kau biarkan benda itu kotor dan berantakan? Bahkan sayuran pun layu di dalam sana,” sindir Falcon lagi.
“Yah, mau bagaimana lagi. Aku kan sibuk. Lagipula, tidak ada orang yang akan lihat juga,” sahut Liana tak acuh.
“Hei, Nona. Apa aku ini bukan orang?” keluh Liana.
Liana menahan senyumnya dan berlalu dari dapur, meninggalkan Falcon yang masih memasak.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘