Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Memanfaatkan


__ADS_3

“Kalian berdua sudah tertangkap!” ucap Liana.


Jessica dan Caroline saling pandang dengan raut wajah khawatir. Namun, dengan cepat wanita paruh baya itu mencoba untuk menyanggah apa yang dikatakan oleh Liana.


“Apa maksudmu kami sudah tertangkap? Memangnya kami melakukan apa?” tanya Caroline takut-takut.


“Aku bisa mendengar dengan jelas, kalau Nona ini menyebut Anda dengan panggilan ibu,” ucap Liana sambil menunjuk Caroline dan Jessica secara bergantian.


“Ibu? Oh jadi cuma karena itu.... Hahahaha... Aku dan dia sudah bersama sejak lama. Sudah tentu dia menganggapku sebagai ibunya. Apa itu salah?” sanggah Caroline.


“Oh, benarkah? Lalu, kenapa aku tadi mendengar nama gadis lain, yang kalian sebut sebagai cucu kandung Tuan Wang?” tepis Liana.


Kedua wanita itu diam dengan raut wajah yang semakin panik. Samar-samar, Liana tersenyum melihat reaksi keduanya, dan kembali memprovokasi mereka.


“Tenang lah. Aku pun punya kepentingan dengan pak tua itu. Masalah kalian, aku tak peduli sedikitpun, selama kalian tak mengusik urusanku. Tapi kalau boleh jujur, kalian datang di waktu yang tidak tepat. Pak tua itu sedang sekarat sekarang. Aku yakin, kalian belum puas menikmati hartanya kan. Apa lagi warisan. Pak tua itu bahkan belum membuat surat wasiat yang mencantumkan nama kalian. Sayang sekali dia akan segera mati,” ucap Liana dengan hati yang begitu dingin.


“Apa? Tuan Wang sekarat? Bagaimana ini, Bu? Aku tak mau kembali ke tempat itu lagi,” rengek Jessica.


“Tenanglah! Tenang! Aku yakin dia hanya menggertak,” sahut Caroline.


“Jadi kalian tak percaya kabar ini? Di rumah ini tidak ada alat komunikasi satu pun. Aku datang dari luar dan dengan baik hatinya memberitahu kalian. Tapi ya sudah, silakan saja. Aku tak peduli. Dengan lima belas persen saham di perusaan Wang Construction, setidaknya aku bisa menjamin hidupku setelah pak tua itu mati,” timpal Liana semakin memanaskan suasana.


“Li... Lima belas persen? Berapa banyak itu?” tanya Caroline yang memang begitu tamak dengan harta.


“Entahlah. Yang jelas, itu bisa menanggung hidup mewah ku sampai tua. Bahkan anak cucu ku juga bisa menikmatinya,” Jawab Liana.


Gadis itu melangkah masuk dan mendekati kedua wanita di hadapannya. Dengan kedua tangan yang terlibat di depan dada, Liana kembali berkata dengan sedikit lirih, tepat di depan wajah Jessica.


“Kalau aku jadi kau, aku akan membujuk pak tua itu untuk melakukan operasi, yang bisa sedikit memanjangkan umurnya. Dia itu keras kepala. Tapi aku yakin, kamu bisa meyakinkannya. Jika dia berhasil selamat, kalian bisa perlahan-lahan mengambil hartanya. Bukankah kau ingin lepas dari mucikari mu itu?” Seru Liana.


Jessica diam. Dalam hati, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Liana.


“Tapi, bukankah lebih bagus kalau dia mati? Untuk apa kami membujuknya?” cecar Caroline.


“Hah! Terserah kalian sajalah. Aku hanya memberi saran. Karena setahuku, wasiat kakek saat ini adalah, menyerahkan semua hartanya kepada dinas sosial pemerintah kota. Apa kalian rela? Kalau aku sih tidak,” sahut Liana.


Meski aku berbohong pun, mereka tak akan tahu. Keadaannya mendesak, pasti mereka tak bisa berpikir panjang dan harus segera mengambil keputusan dengan cepat, batin Liana.


Liana kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kamar tersebut. Saat sampai di depan pintu, dia kembali menoleh ke arah kedua wanita di sana.


“Cepatlah ambil keputusan. Atau kalian akan kembali hidup di jalanan. Semoga berhasil,” pungkas Liana.

__ADS_1


Gadis itu kemudian berjalan pergi dari sana, meninggalkan kedua ibu dan anak itu dengan kekalutan


Liana langsung keluar rumah, dan masuk kembali ke dalam mobil milik Falcon.


“Lama sekali?” keluh pria itu.


“Saat sedang memancing, kau harus bersabar dan bersikap tenang. Jika tidak, ikan akan tahu kalau kail itu berbahaya dan umpan hanya siasat saja,” jawab Liana.


Belum juga keduanya pergi, mereka melihat Jessica dan Caroline berlari keluar rumah, dan menghampiri James yang tengah mengelap salah satu mobil mewah milk Kakek Joseph.


Mereka berdua nampak berbicara pada supir itu, dan kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.


“Sepertinya umpanku berhasil,” gumam Liana.


“Apa kau berhasil mengusir mereka pergi dari sini?” tanya Falcon.


“Tidak. Aku masih butuh bantuan mereka untuk menolong Kakek. Sementara cukup begini saja dulu. Kita tunggu sampai kakek berhasil dioperasi, baru aku akan jalankan rencana selanjutnya,” ucap Liana.


"Tindakan mu terlalu lambat, Nona," keluh Falcon.


"Hei, Tuan. Posisi ku saat ini serba sulit. Mereka berpikir kalau aku ini picik. Mereka menganggap aku iri dengan keberadaan Jessica di sini. Kalau aku gegabah, itu hanya akan menjadi bumerang buat ku. Apa kau paham?" jelas Liana.


Setidaknya, aku sudah punya satu senjata. Meskipun ini tidak cukup untuk dijadikan bukti, tapi setidaknya bisa untuk membujuk seseorang, batin Liana.


Gadis itu nampak menggenggam erat ponsel yang sedari tadi berada di tangannya.


...👑👑👑👑👑...


Beberapa hari berlalu sejak saat itu. Liana yang masih dianggap orang luar, hanya sesekali menengok kakeknya di rumah sakit, dan tak pernah bertahan di sana lebih dari tiga puluh menit.


Melihat keberadaan Jessica di sana, membuatnya muak, dan ingin cepat-cepat pergi. Namun, setidaknya dia bisa merasa lega untuk saat ini, karena kakeknya sudah berhasil dioperasi.


Saat ini, Liana tengah mengurus proyek Golden Hospital, setelah proyek apartemen warga sudah berjalan setengahnya.


Dia selalu sibuk meninjau lapangan hingga jarang berada di kantor. Dia pun sering bertemu dengan orang-orang dari perusahaan rekanan, penyuplai bahan baku bangunan, yang hendak mencari jalan pintas agar bisa diterima bergabung dengan proyek tersebut.


Namun, sifat Liana yang disiplin, idealis dan profesional, tak menghiraukan bujukan mereka sama sekali. Tak jarang mereka membujuk gadis itu dengan menghadiahi beberapa barang, namun dengan tegas Liana menolaknya, dan justru mem-black list perusahaan yang berbuat seperti itu. Sehingga secara otomatis, mereka sudah dipastikan tak akan bisa ikut dalam proyek tersebut.


Hari itu, dia bertemu lagi dengan pria bernama Damian, saat baru saja tiba di lokasi proyek apartemen. Liana baru selesai meninjau lokasi proyek Golden Hospital. Pria itu mengatakan jika dia sedang berjalan-jalan di dekat sana, dan kebetulan melihat Liana datang


“Nona Wu. Kita bertemu lagi di sini,” ucap Damian.

__ADS_1


Liana menoleh dan melihat ke arah pria itu. Dia berusaha untuk tetap ramah, meskipun Liana sudah tau jika semua itu hanya akal-akalannya saja.


“Oh! Hai, Tuan Li. Kebetulan bertemu di sini. Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?” tanya Liana ramah.


Liana baru saja keluar dari mobil, dan memakai helm serta masker penutup wajah, sebelum memasuki area pembangunan.


“Aku sedang berjalan-jalan di sana, dan kebetulan melihat mobilmu datang. Makanya aku kemari,” ucap Damian sambil menunjuk ke arah sebuah taman tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


“Benarkah? Kebetulan sekali,” sahut Liana.


Kau kira aku bodoh. Jelas-jelas aku melihat kau baru saja keluar dari kedai itu. Kau sengaja menunggu ku kan, batin Liana.


Di saat mereka berbincang, nampak seorang pria dengan rompi berlogo perusahaan datang menghampiri Liana. Dia tak lain adalah mandor proyek yang bertanggung jawab mengawasi dan mengatur para pekerja.


Damian memutuskan untuk membiarkan Liana yang tengah memberikan arahan kepada seorang mandor lapangan, untuk memperhatikan ruang hijau di bangunan tersebut, karena proyek telah memasuki tahap penataan ruang di setiap unitnya.


Setelah Liana selesai berbicara dengan mandor tersebut, Damian kembali mendekatinya.


“Ku dengar, kalian akan segera menjalankan proyek Golden Hospital. Apakah sudah menentukan rekanan untuk menyuplai bahan materialnya? Kebetulan, aku mempunyai teman yang punya perusahaan di bidang itu. Kalau kau mau, aku bisa merekomendasikannya padamu,” ucap Damian.


Liana nampak tersenyum tipis di balik masker penutup wajahnya.


Apa sekarang kau sudah mau membuka kedok mu? batin Liana.


.


.


.


.


Hari ini othor up 1x doang ya😁jangan nungguin lagi🤭besok pun sama cuma 1x😄


Mau healing dulu, Jalan-jalan biar tetep waras dan nggak oleng🤣


Kalian juga jaga kesehatan fisik dan mental ya😊happy weekend 😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2