Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Perbincangan ayah dan anak


__ADS_3

Hari-hari berganti, dan ini sudah hari ke lima Liana berada di pondok pantai itu bersama si kecil Paulo dan juga Ella, merawat Peter yang sedang terluka parah.


Sejak kepergian Kenny dan Q hari itu, ditambah kepergian Falcon pada esok harinya, tak ada lagi orang yang datang ke tempat tersebut.


Kondisi Peter berangsur-angsur mulai pulih. Dia bahkan sudah bisa bergerak sedikit demi sedikit. Dia pun mulai berlatih berjalan, meski masih harus menggunakan tongkat sebagi alat bantunya.


Semua obat-obatan dan keperluan lainnya, sudah diurus oleh Paulo yang bertugas sebagai satu-satunya penghubung mereka dengan daratan utama.


Tempat ini selain tersembunyi dari pandangan mata, juga memiliki keunikan yang didapat dari teknologi canggih dukungan dari geng Jupiter di Grey Town.


Berkat bantuan Chip, sang hacker andalan geng tersebut, Q bisa menghapus keberadaan pulau karang tersebut dari radar satelit. Bahkan, meskipun mereka menggunakan alat komunikasi dari tempat tersebut, jejaknya hanya akan terlacak di tempat lain secara acak, yang dapat mengecoh orang-orang yang berusaha mencari keberadaan mereka.


Satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan tempat tersebut hanyalah dengan mengintai. Oleh karena itu, semua orang sangat berhati-hati agar tidak mengundang kecurigaan dari pihak lain.


Hari sudah mulai gelap, dan kapal si kecil Paulo belum juga nampak datang dari daratan utama. Siang tadi, anak kecil itu mengatakan akan pergi mengambil barang-barang keperluan mereka, namun hingga sekarang belum juga kembali.


Liana terlihat duduk di teras rumah panggung, yang hampir sepekan ini menjadi tempat tinggalnya bersama sang ayah.


Dia terus melihat ke arah laut lepas, seolah tengah menunggu kedatang si kecil yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Berharap dia kali ini membawa kekasihnya datang padanya.


Meski Liana dan Paulo kerap kali terlihat tidak akur, namun sebenarnya kedua orang itu peduli satu sama lain. Hanya saja, melihat sikap Paulo yang masih anak-anak dan Liana yang terkadang kekanakan, membuat dua orang itu selalu cekcok.

__ADS_1


Saat pandangannya terus tertuju pada laut di depannya, seseorang datang menghampiri dan menyelimuti tubuh Liana dengan sebuah selimut tebal.


“Di sini dingin. Aku takut kau masuk angin dan tak bisa lagi merawatku,” ucap Peter.


“Aku tidak selemah itu. Asal kau tahu, tubuh ku ini tahan banting,” sahut Liana ketus.


Gadis itu melilitkan selimut dan menutupi seluruh tubuhnya yang memang sudah mulai kedinginan. Ia mengangkat kakinya dan meringkuk di atas kursi rotan, seraya membungkus diri dengan benda tebal itu.


“Apa kau sedang menunggu kekasihmu yang sudah pergi berhari-hari itu? Apa kau yakin dia itu tipe pria yang setia seperti ku?” tanya Peter seolah mengejek pacar putrinya.


“Yah, setidaknya dia bukan pria pengecut yang hanya bisa lari dari kenyataan,” sahut Liana tak kalah pedas.


Peter terkekeh, meski tawanya terdengar begitu hambar dan getir.


Namun, samar-samar Liana masih bisa mendengarnya. Ada kesedihan yang lebih dalam dari sekedar menyesal. Ada kerinduan yang menyesakkan dada setiap kali pria itu menyinggung masa lalunya dengan Lilian, kekasihnya.


Liana bahkan bisa merasakan sakitnya hati pria itu, dan bahkan tak jarang membuat matanya panas dan berair, seperti saat ini.


Gadis itu pun segera menghalau lelehan itu agar tak jatuh dan membuatnya malu.


“Sebaiknya kau masuk dan beristirahat. Orang sakit tidak baik berlama-lama berdiri di luar,” seru Liana ketus.

__ADS_1


“Hei, Nak. Apa kau tidak bisa lihat kalau aku sudah lebih baik sekarang? Aku sudah tidak terlihat seperti pasien sekarang lagi,” tutur Peter.


“Yang benar saja. Untuk bangun dari posisi tidur saja masih begitu kesusahan. Duduk saja perlu banyak persiapan. Berjalan pun masih seperti itu, kau bilang sudah tidak terlihat seperti pasien sekarat?” cecar Liana.


Peter hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ocehan dari sang putri. Dia pun akhirnya berjalan perlahan menuju ke arah pintu.


Namun, saat dia sampai di ambang pintu, Peter berhenti dan menoleh ke arah Liana berada.


“Hei, Nak. Mau dengar sebuah cerita?”


.


.


.


.


Hari ini kurang satu lagi yes 😉 tungguin bestie.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2