Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Bersandar


__ADS_3

Gelap telah menyapa bumi, bulan mulai naik ke peraduannya, dan lampu telah menggantikan sebagian peran mentari untuk menyinari sejengkal tanah di bumi.


Malam ini, angin terasa cukup dingin, mengingat musim salju yang tinggal hitungan hari lagi akan segera tiba.


Tahun ini, Liana akan melewati musim putih itu di kota kelahiran sang kekasih, Empire State, meskipun sang kakek nanti pasti akan memintanya untuk pulang dulu ke Golden City.


Saat ini, gadis cantik nan cerdik itu tengah berjalan ke arah taman bunga liar, milik mendiang nyonya ketiga keluarga Harvey.


Di sana, nampak sedikit berbeda dari sebelumnya, mengingat saat ini telah masuk musim gugur akhir, dimana banyak tumbuhan mulai menggugurkan bunga dan daunnya.


Hanya tersisa beberapa bunga yang masih mekar dengan indahnya, dan menghiasi taman tersebut. Diantaranya, bunga marry gold, snow drop, lavender, krisan, wisteria, lilac, dan beberapa tanaman lainnya.



...marry gold...



...Krisan...



...Lavender...


__ADS_1


...Dandelion...


Liana masuk ke dalam kebun bunga, dan duduk di bangku kecil yang berada di tengahnya. Gadis itu menyilangkan lengannya seolah tengah memeluk dirinya sendiri. Ia mengusap-usap lengannya yang terasa dingin.


Dia mendongak ke atas, melihat bulan bersinar terang dengan indahnya di langit sana. Dia teringat akan pertemuannya tadi dengan Amber, dan kata-katanya yang penuh dengan provokasi.


Tatapan mata yang tadi begitu tajam dan berani, kini tiba-tiba saja berubah menjadi sendu, kala wajah sang bunda yang hanya bisa ia lihat lewat potretnya, terbayang jelas di matanya.


Tunggulah, Bu. Aku pasti akan membuat semua yang sudah membuat hidupmu menderita, membayar perbuatan mereka berlipat-lipat lebih menyakitkan, batin Liana.


Sebulir bening menetes di pipi mulusnya, saat bayangan penderitaan sang ibu kembali terngiang di benaknya. Betapa sengsaranya seorang wanita hamil, dengan kondisi fisik yang lemah, jauh dari keluarga dan orang terkasih. Hidup dalam pelarian dan kekurangan. Kesakitan menghadapi persalinan seorang diri. Rasa sakit menyergap hatinya, hingga sesak kembali ia rasakan di dada.


Dalam kesedihannya itu, seseorang tiba-tiba datang dan menyelimiti tubuhnya dari belakang. Liana yang terkejut pun menoleh, dan melihat seorang pria tampan dengan rambut yang masih terlihat sedikit basah berdiri di sana.


Tangan pria itu terulur, dan mengusap lelehan bening yang masih tersisa di sudut mata Liana dengan ibu jarinya.


Liana tersenyum, dan menepuk tempat di sampingnya, seolah ingin pria itu duduk di sana.


Pria tersebut pun menurut dan berjalan memutar, kemudian duduk di tempat yang diberikan oleh gadis itu.


Saat pria itu duduk, Liana langsung menyandarkan kepalanya di pundak sang pria. Pria tersebut pun merangkul pundak Liana, dan melingkarkan lengan lainnya di depan gadis itu.


“Mandimu cepat sekali,” ucap Liana pada pria yang duduk di samping, yang tak lain adalah sang kekasih, Falcon.


“Aku hanya khawatir kalau gadisku sendirian terlalu lama di rumah ini,” sahut Falcon.

__ADS_1


“Ehm... Baumu enak sekali. Benar-benar membuatku nyaman,” ucap Liana.


“Hirup lah semuanya, agar kau terus merasa tenang,” sahut Falcon.


“Aku selalu tenang. Tadi aku hanya teringat ibuku saja. Melihat bunga-bunga di sini, aku berpikir kenapa ibu kita harus menjalani hidup yang begitu sulit hanya karena seorang wanita serakah?” ucap Liana.


“Apa karena tadi kita bertemu dengan nyonya pertama?” tanya Falcon.


Liana menghela nafas berat memikirkan pertemuannya dengan Amber.


“Hah... Jangan bahas dia lagi. Aku hanya ingin menikmati waktu ini bersama mu saja,” sahut Liana.


Gadis itu pun memejamkan matanya, sembari meresapi aroma sabun Falcon yang begitu maskulin dan lembut.


.


.


.


.


Siang bestie 🥰paketan datang


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2