
Sebuah mobil nampak melaju di jalanan Golden City. Nampak si pengemudi berkali-kali menghalau lelehan bening yang meluncur dari matanya.
“Lilian brengs*k! Beraninya dia mempermalukan aku di depan orang-orang. Kurang ajar! Aku benar-benar tidak bisa terima,” ucapnya disela isak yang terus terdengar.
Pandangannya semakin kabur karena matanya terus saja mengalir. Dia pun memilih menepikan mobilnya di sebuah taman yang masih berada di area hunian Bronze District.
Gadis yang adalah Jessica itu, menelungkup kan kedua lengannya dan membenamkan wajahnya di atas kemudi.
Bahunya berguncang, dengan isak yang semakin terdengar jelas. Cukup lama dia menangis di sana, hingga tiba-tiba, sebuah ketukan di kaca mobilnya, mengganggu Jessica.
Gadis itu pun mengangkat wajahnya, dan mengusap kasar pipi yang sudah sangat basah. Dia menoleh ke arah kanan dan terlihat seorang pria berpakaian rapi, tengah berdiri di luar mobilnya.
Jessica pun menurunkan kaca mobilnya, sambil menyeka cairan yang terus keluar dari hidung dan matanya.
“Maaf, saya melihat mobil Anda berhenti cukup lama di sini. Saya khawatir terjadi sesuatu kepada Anda. Apa Anda baik-baik saja?” tanyanya dengan sopan.
Jessica masih terlihat sesenggukan. Bahkan, mata dan hidungnya terlihat begitu merah.
“Yah. Aku baik-baik saja. Tidak usah pedulikan aku,” ucap Jessica.
“Ehm, maaf, Nona. Tapi, tidak baik jika Anda bersedih seorang diri di sini. Bagaimana kalau Anda keluar dan duduk di taman itu bersama saya,” ajak pria itu pada Jessica.
“Tidak. Terimakasih,” tolak Jessica.
Namun, pria itu terlihat mengambil sesuatu dari saku jasnya, dan menyodorkan ke arah gadis di hadapannya.
“Ini kartu nama saya. Maaf, kalau saya sudah lancang mengajak Anda duduk bersama, tanpa memperkenalkan diri terlebih dulu,” ucapnya.
Jessica nampak ragu melihat kartu nama yang diberikan oleh pria itu. Namun, dia akhirnya meraih, dan melihat benda tersebut.
Tertera jabatan direktur di sana. Seketika itu, ekspresi Jessica berubah, meski isak tangis masih terdengar dari mulutnya, dan kembali menoleh ke arah pria itu.
“Baiklah. Aku akan keluar,” ucap Jessica.
Nampak mereka berdua berjalan ke arah salah satu bangku taman yang ada di sana, dan berjarak paling dekat dari mobil mereka.
“Ehm, Nona. Biarkan saya perkenalkan diri dengan benar sekali lagi. Nama saya, Damian Li. Saya direktur dari Li Corp. Sebuah perusahaan penyedia bahan material bangunan,” ucap pria yang tak lain adalah Damian.
__ADS_1
“Nama saya Jessica Yu. Cucu Joseph Wang dari Wang Construction,” sahut Jessica yang terus mengaku cucu dari kakek Joseph.
“Benarkah? Tapi, maaf sebelumnya, Nona. Setahuku, cucu Taun Wang itu Nona Lilian Wu. Bagaimana tiba-tiba Anda bisa mengatakan hal tadi,” tanya Damian.
Jessica tiba-tiba kembali menangis. Dia merengek seperti anak kecil.
Damian pun dibuat kebingungan, terlebih karena pandangan orang-orang di sana melihat aneh ke arahnya, mengira jika dialah yang membuat gadis tiu menangis.
“Ehm, Nona Yu. Tolong jangan seperti ini. Orang-orang akan mengira kalau saya yang sudah membuat Anda menangis,” pinta Damian.
Jessica pun menghentikan tangisnya, dan berubah menjadi isakan kecil.
“Maaf. Aku hanya teringat perjalanan hidupku yang berat. Aku hilang sejak kecil, dan baru-baru ini bisa kembali menemukan siapa keluargaku yang sebenarnya. Tapi, saat aku datang, rupanya sudah ada Lilian yang bertingkah, dan menganggap bahwa dirinya juga cucu kakek. Dia bahkan selalu menindas ku setiap kali kakek tak ada,” adu Jessica mencari simpati Damian.
“Benarkah? Jadi, Nona Wu itu bukan cucu kandung Tuan Wang?” tanya Damian memastikan.
Jessica hanya mengangguk pelan.
Tepat dugaan ku. Dari pada mengejar Lilian yang sangat keras kepala, lebih baik aku mendekati dia yang sepertinya lebih mudah didapatkan. Apalagi, dia adalah cucu Tuan Wang yang asli. Pasti akan mempermudah jalanku nantinya, batin Damian.
Pria itu terus bertindak seperti seorang pendengar yang baik bagi Jessica. Sedangkan gadis itu, terus saja mengadu kepada pria yang baru saja ditemuinya itu, tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Damian.
Sore hari di kediaman Kakek Joseph, di perbukitan Dream Hill, Jessica nampak baru saja kembali dari luaran sana.
Wajahnya masih terlihat merah dengan mata yang sembab. Saat itu, Kakek Joseph tengah duduk di ruang tamu, sambil membaca koran harian.
Dia melihat kedatangan Jessica dan seketika memanggilnya untuk menemani duduk sebentar.
“Baru pulang, Nak?” tanya Joseph kepada gadis yang dianggapnya cucu.
“Iya, Kek,” jawab Jessica lemas.
Seketika itu, Joseph menangkap gurat kesedihan di wajah gadis yang masih berdiri di depannya itu.
“Duduklah. Ceritakan ada kejadian apa di kantor, sampai kau terlihat sangat sedih,” seru Kakek Joseph.
Bukannya menjawab, Jessica justru menghambur dan memelul pinggang pria tua itu.
__ADS_1
Joseph pun semakin khawatir dengan hal yang telah menimpa gadia itu, hingga membuatnya seperti ini.
Dengan lembut, Kakek Joseph mengusap puncak kepala Jessica, dan mencoba menenangkan gadis itu
“Kau bisa ceritakan semua ke kakek. Ada apa? Apa kau mengalami kesulitan? Katakanlah!” ucap Joseph.
“Tapi, Kakek janji jangan marah. Kakek percaya kan padaku,” rengek Jessica.
“Baiklah. Coba ceritakan ada apa?” tanya Joseph sekali lagi.
Jessica pun menceritakan kejadian yang dialaminya di area proyek pembangunan gedung apartemen. Dengan sedikit memutar balikkan fakta, Jessica seolah menyalahkan semuanya kepada Liana.
Dia bahkan tak mengatakan jika Liana telah menolong nya, melainkan hanya mengatakan jika gadis itu telah mempermalukannya di depan banyak orang.
“Begitu ceritanya, Kek,” pungkas Jessica.
Kakek Joseph nampak diam dengan raut wajah yang sulit di tebak. Namun, sekejap kemudian, dia kembali mengusap lembut surai coklat terang Jessica, dan tersenyum hangat ke arah gadis itu.
“Kalau memang seperti itu, nanti biar kakek yang akan menegurnya. Kau tenang saja ya. Sekarang, kembalilah ke kamar mu. Bersihkan dirimu dan istirahatlah,” seru Joseph.
“Ehm, terimakaaih, Kek,” sahut Jessica.
Dia sekali lagi memeluk kakek Joseph, dan nampak mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas.
Rasakan kau Lilian. Kita lihat, apa yang akan kakek lakukan untuk menghukummu, batin Jessica.
.
.
.
.
Tinggal 1 lagi ya utangku hari ini😊tungguin yah
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘