Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Mencari jalan


__ADS_3

Di tengah pesta, Liana merasa tak tenang sama sekali. Pikirannya terus tertuju pada sosok yang sebelumnya ia lihat di salah satu sudut ruang acara.


Meski begitu, gadis pintar itu terus berusaha untuk menyapa setiap hadirin yang datang dan mengucapkan selamat kepadanya. Dia tak mau jika masalah pribadinya merusak citra sang kakek.


Dia berusaha menekan egonya dan mengesampingkan perasaannya sampai acara benar-benar telah selesai.


“Selamat, Nona Wu, ah... Maaf. Sekarang saya harus memanggil Anda Nona Wang. Benar begitu bukan?” ucap salah seorang tamu.


“Saya minta maaf karena Anda menjadi kebingungan seperti ini, Tuan,” sahut Liana.


“Hish! Aku belum terlalu tua untuk menjadi bingung hanya karena masalah nama,” sanggah si tamu tadi.


“Yah, aku berharap Anda selalu berjiwa muda dan sehat, agar kita bisa terus bekerja sama, Tuan,” sahut Liana.


“Hahahaha... Kau memang gadis yang menarik. Sekali lagi kuucapkan selamat. Semoga kelak, kau bisa melanjutkan perusahaan dan membawanya semakin sukses lagi,” ucap sang tamu


“Terimakasih banyak, Tuan. Silakan nikmati acaranya,” sahut Liana.


Gadis itu kembali berjalan dan menyapa setiap hadirin yang datang. Satu persatu menyalami Liana dan mengucapkan selamat kepadanya.


Hingga malam semakin larut, namun pesta belum juga usai. Liana semakin tak bisa menahan lagi perasaannya untuk mencari pria yang sudah membuat hatinya tak tenang.


Kakek Joseph pun bisa melihat hal itu dari wajah Liana yang sudah tak bersemangat lagi. Pria tua itu pun mendekat ke arah cucunya, yang saat itu sedang duduk di salah satu meja tamu.


“Apa kau lelah?” tanya sang kakek.


Liana menoleh dan tersenyum ke arah kakeknya.


“Hanya belum terbiasa dengan acara yang begitu panjang ini,” sahut Liana.


Kakek Joseph pun ikut duduk bersama cucu satu-satunya itu.


“Yah, kau memang selalu kabur di tengah acara, setiap kali ada pesta yang kau hadiri,” sindir Kakek Joseph.


“Kakek tau sendiri bukan, kalau aku sangat tidak suka acara seperti ini,” sahut Liana.


“Yah itulah dirimu. Tapi mulai sekarang, kau harus biasakan itu,” seru Kakek Joseph.


“Baikah,” sahut Liana.


“Malam ini, kau sudah bekerja keras. Istirahatlah. Biar sisanya kakek yang urus,” seru sang kakek.


Liana tersenyum tipis ke arah Kakek Joseph, dan mengangguk padanya.


Setelah mendapat ijin dari sang kakek, gadis itu pun segera pergi ke luar aula. Namun, dia tak lekas kembali ke kamarnya, ke rumah maupun ke apartemennya.


Dia pergi ke resepsionis dan menanyakan mengenai seseorang yang sejak tadi terus menggangu pikirannya.

__ADS_1


“Maaf, apa tamu atas nama Fal... Ehm... Maksudku, Alexander Harvey menginap di sini?” tanya Liana.


“Mohon tunggu sebentar,” sahut sang resepsionis.


Setelah beberapa lama, resepsionis itu kembali menghadap ke arah Liana.


“Maaf, Nona. Tamu atas nama Alexander Harvey baru saja check out beberapa saat yang lalu,” ucap sang resepsionis.


“Benarkah?! Ehm... Baiklah, terimakasih,” sahut Liana.


Setelah mendapatkan informasi tentang pria itu, liana pun segera menuju ke arah depan. Dia memanggil sebuah taksi dan meminta membawanya ke sebuah tempat.


“Tolong bawa aku ke Grey Town!” seru Liana.


“Apa Anda yakin, Nona? Ke Grey Town malam begini dengan pakaian seperti ini?” tanya sang supir taksi.


“Tolong antarkan saja saya ke sana,” seru Liana lagi dengan tegas.


Sang supir pun diam dan mulai melakukan taksinya membelah jalanan. Butuh waktu tempuh sekitar satu jam untuk sampai di ibu kota negara bagian A, yang berada di tepi pantai bertebing.


Sesampainya di sana, Liana meminta supir tersebut menuju ke sebuah tempat hiburan terbesar di wilayah itu, yang merupakan milik gang Jupiter.


Liana segera turun dari taksi,saat mobil itu berhenti di depa pintu masuk tempat hiburan tersebut.


Dengan masih mengenakan gaunnya, Liana masuk ke dalam sana dan seketika menarik perhatian semua orang.


“Salam, Kakak ipar,” sapa pria itu.


“Di mana Long?” tanya Liana cepat.


“Bos Long sedang keluar,” sahut pria itu.


“Kemana?” tanya Liana lagi.


“Sepertinya ada pertemuan mendadak di markas. Semua orang pergi ke sana,” jawab pria tadi.


“Apa kau sibuk?” tanya Liana.


“Kebetulan aku diminta untuk berjaga di sini. Kalau Anda mau, aku bisa memanggilkan taksi dan memintanya membawa Anda ke sana,” usulnya.


“Bijaklah. Aku minta tolong,” sahut Liana.


Mereka pun kembali keluar. Pria tadi memanggilkan sebuah taksi dan Liana segera pergi dengan taksi itu.


Tak berselang lama, dia tiba di depan sebuah gedung tua yang merupakan markas dari geng Jupiter. Liana pun naik ke atas. Di sana terlihat banyak orang berkumpul di setiap lantainya.


“Kakak ipar?” sapa salah satu dari mereka.

__ADS_1


“Apa Falcon di sini?” tanya Liana.


“Nona Wu?” Tiba-tiba, seseorang dari belakang mengejutkannya.


“Nine, di mana Falcon?” tanya Liana.


“Dia sudah pergi. Kami baru saja selesai berbicara dengannya,” ucap Nine.


“Apa? Kemana dia pergi?” tanya Liana.


“Dia tidak memberitahu kami. Bahkan kami pun dilarang mengikutinya,” jawab Nine.


“Dia sudah menyerahkan urusan geng ini pada Nine. Dia benar-benar sudah terjebak di istana kakeknya,” sahut Long yang tiba-tiba muncul.


“Apa maksudmu?” tanya Liana.


“Kau tanyakan saja padanya. Aku yakin dia masih berada di kota ini,” seru Long.


Liana memicingkan matanya mendengar perkataan dari sang tangan kiri Falcon. Keningnya berkerut, namun kemudian, dia berbalik dan segera berlari.


Semua orang hanya melihat kepergian Liana, begitu juga dengan Nine dan Long.


“Apa kau yakin mengatakan hal tadi pada Kakak ipar?” tanya Nine.


“Biarkan mereka selesaikan masalah di antara mereka. Kita cukup urus urusan kita. Aku yakin, mereka butuh waktu untuk bicara berdua,” ucap Long.


...👑👑👑👑👑...


Di tempat lain, Liana yang sudah keluar dari gedung segera berlari menuju ke pemukiman yang terabaikan. Sepatu hak tinggi yang menyulitkan geraknya, ia tenteng di tangannya sambil terus berlari. Ia mencoba menemukan jalan masuk ke tempat yang dulu pernah ia datangi, saat pertama kali tiba ke kota tersebut.


Saat itu, dia tengah dikejar oleh tiga orang pria yang bekerja sama dengan seorang wanita untuk merampoknya. Dia melihat ke setiap celah di antara rumah, dan mengingat jalan menuju ke tempat tersebut.


Dengan gaun yang cukup membuatnya kesulitan berjalan di celah yang sempit. Melewati kumpulan para preman yang terus melihat ke arahnya dengan tatapan yang buas, namun gadis itu sama sekali tak peduli. Yang dia pikirkan sekarang adalah menemukan tempat tersbut.


Hingga akhirnya, dia menemukan celah dengan jalan yang menurun. Dia berhenti dan mengatur nafasnya terlebih dulu, sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.


.


.


.


.


lebaran dan deket banget besties 😊sudah mulai mudik belum ini? sambil mudik jempolnya bisa dong kasih dukungan ke novel ini😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2