Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kau lebih tahu


__ADS_3

Kondisi Liana berangsur pulih dalam perawatan Falcon. Gadis itu terus berada di tempat tidur dan tak boleh bergerak sedikitpun atas perintah dari pria itu.


Bahkan untuk urusan ke kamar mandi pun, Falcon akan menggendong Liana dan menunggunya di depan pintu.


Gadis itu sedikit kesal dengan sikap protektif dari kekasinya itu, namun dalam hati terasa hangat dan kadang dia tersenyum sendiri melihat sikap Falcon itu.


Saat ini, Liana sedang duduk bersandar di atas tempat tidur, sedangkan Falcon, pria itu pamit keluar untuk mengambilkan makan malam.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan tampak Falcon datang dengan mendorong sebuah kereta makanan, di mana sudah terhidang beberapa menu yang disiapkan oleh koki di kastil tersebut.


Dia mendorongnya masuk dan menutup kembali pintu sebelum mendekat ke arah tempat tidur.


Dari tempat Liana berada, bisa tercium dengan jelas aroma masakan yang menggugah selera.


“Ehmm... Apa kau yang masak semua ini?” tanya Liana.


“Bukan. Aku meminta juru masak membuatkan makanan bergizi untuk mu. Q bilang kau harus banyak makan, agar tenaga mu kembali pulih dengan cepat,” ucap Falcon.


Pria itu mengambil meja kecil dan meletakkannya di atas kaki Liana, dan menata makanan di atasnya.


Nampak gadis itu menelan ludah saat melihat makanan-makanan yang menggiurkan selera makannya itu.

__ADS_1


“Makanan bergizi ini kelihatan sangat lezat. Aku harap rasanya pun tak mengecewakan,” ucap Liana.


Falcon tersenyum dan memberikan sendok pada gadis itu. Liana pun segera meraihnya dan mulai mengambil makanan dan menyuapkannya ke mulut.


“Ehm... Ini benar-benar lezat! Tak ku sangka ada makanan bergizi yang selezat ini. Ehm...,” puji Liana.


Gadis itu makan dengan lahapnya, hingga bibirnya penuh dengan saus dan krim yang menempel di sana.


Falcon hanya menggeleng melihat nafsu makan gadisnya yang begitu besar, namun masih saja mengelak dan berpura-pura tak suka makan.


Dia mengambil sebuah serbet yang memang sudah disiapkan sebelumnya, dan membantu Liana mengusap sisa makanan yang menempel di sekitar mulutnya.


“Bisa tidak kau makan dengan sedikit elegan?” sindir Falcon.


“Hei, Tuan muda. Aku ini pekerja lapangan. Aku lebih sering bergaul dengan kuli bangunan ketimbang orang kantoran. Jadi, mana ada makan dengan elegan? Kau ini bercanda saja,” sahut Liana dengan entengnya.


Falcon hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban dari kekasihnya yang tak pernah mau mendengarkan perkataan orang, dan selalu merusak momen romantis yang dia ciptakan.


“Kau benar! Aku lupa kalau gadisku ini limited edition. Makanlah yang banyak biar kau cepat sehat,” seru Falcon.


Dia kembali mengelap mulut gadisnya yang belepotan, dan hanya geleng-geleng melihat tingkah Liana.

__ADS_1


Seusai makan, setelah membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan gadis itu sewaktu makan, kini Falcon tengah duduk di samping Liana, sambil merangkul pundak gadisnya itu.


Sementara Liana, dia dengan nyamannya menyandarkan kepala di bahu sang kekasih, sambil menggenggam tangan Falcon yang satunya.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Falcon.


Mereka terus diam cukup lama, sejak Falcon duduk di atas tempat tidur. Liana enggan untuk membuka percakapan yang mengarah pada masalah yang saat kini sedang ia hadapi.


Namun rupanya, Falcon justru terlebih dulu membuka suara.


“Bukankah kau lebih tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini?” sahut Liana.


.


.


.


.


Met pagi bestie 🥰sarapan datang🤭maaf ya agak siang 😁

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2