
Kejadian malam itu kini sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Bahkan tak sedikit media asing yang juga berdatangan, dan ingin meliput berita tentang keterlibatan salah satu anggota keluarga Callister, bangsawan dari Negeri Ratu Elisa dalam kasus penculikan seorang arsitek muda jenius di pesisir utara negara bagian A.
Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Kakek Joseph, yang sejak awal memang curiga dengan kabar hilangnya Peter, yang menggemparkan namun justru seolah disembunyikan darinya, dan membuat pria tua itu meminta untuk datang ke rumah sakit Northern Hospital saat itu juga.
Tanpa menunggu pagi menjelang, Presdir Wang pun bergerak dari kediamannya di Dream Hill menuju rumah sakit tempat sang cucu tengah dirawat.
Sesampainya di sana, Jimmy mengamankan jalan masuknya agar wartawan tak mengerubungi sang tuan. Waktunya masih belum tepat untuk memberikan penjelasan kepada awak media mengenai apa yang sudah terjadi.
Dengan menggunakan kursi roda, Jimmy berjalan sambil mendorong Pak tua Wang menuju ke ruang rawat sang nona, yang saat ini telah dijaga ketat oleh sepasukan anak buah Falcon.
Sesampainya di depan kamar sang cucu, anggota geng Jupiter yang berjaga, nampak tak mengizinkan kedua pria itu masuk ke dalam ruang rawat Liana.
“Dia adalah Tuan Wang. Kakek dari Nona Liana. Tolong biarkan kami masuk,” ucap Jimmy.
Long yang kebetulan baru saja hadir di sana, memberi instruksi kepada penjaga untuk membiarkan orang-orang itu masuk ke dalam.
Jimmy pun kembali mendorong kursi roda sang tuan, dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Di sana, terlihat Liana yang sedang terbaring di atas tempat tidur, ditemani oleh seorang pria yang duduk di sampingnya, dengan kepala yang terkulai di dekat perut Liana.
Tangan kedua orang itu saling menggenggam, dan keduanya pun tengah tertidur dengan lelap.
Namun, falcon yang selalu dilatih waspada, seketika terbangun saat merasakan kehadiran orang lain di dalam ruangan tersebut.
Dia pun menoleh ke samping dan mendapati Jimmy serta Kakek Joseph yang sudah berada di sana, dan melihat ke arah dirinya dan juga Liana.
“Presdir Wang,” sapa Falcon.
__ADS_1
Pria itu bangun dan membungkuk memberi hormat kepada pria tua itu.
“Apa sebenarnya yang sudah terjadi?” tanya Kakek Joseph.
Falcon melihat sekilas ke arah Jimmy. Sang asisten itu tak bersuara namun hanya mengangguk kecil, seolah memberi persetujuan kepada Falcon untuk memberitahukan semua kejadian yang sebenarnya.
Sang ketua gangster itu pun berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, mempersilakan kedua tamunya untuk ikut duduk bersama.
Pria itu pun kemudian menceritakan semua yang terjadi, dari mulai Peter yang tiba-tiba menghilang dari tempat persembunyian, hingga Liana yang juga diculik dari rumah sakit saat pemulihan dari syok yang dideritanya.
Hingga kejadian di menara mercusuar tua yang saat ini sedang menjadi topik berita utama di mana-mana.
“Jadi, gadis malang ini masih mencoba mencari tahu kebenaran di balik tragedi yang menimpa ibunya?” gumam Kakek Joseph.
“Apa perempuan dari keluarga Harvey itu pelakunya? Apa mungkin Tuan Bob Harvey juga terlibat dalam semua ini?” cecar Kakek Joseph.
Pria tua itu nampak mengepalkan tangannya. Dia terlihat menahan emosi saat mengetahui, bahwa pelaku yang sudah mencelakai putri dan cucunya adalah anggota keluarga nomor satu di Empire State, Lunar Group.
Dia tak menyangka jika putrinya yang sederhana, bisa sampai terlibat dengan masalah rumit dari keluarga besar di ibukota seperti itu.
“Dia hanyalah menantu Tuan Harvey, Kek. Tuan Harvey sama sekali tak tahu tentang semua perbuatan jahatnya pada ibu,” ucap Liana.
Gadis itu tiba-tiba bersuara dan membuat Falcon beranjak dari duduknya dan menghampiri sang kekasih.
“Sweety, kau sudah bangun?” tanya Falcon lembut.
__ADS_1
“Nak, apa kakek mengganggu istirahat mu?” tanya Kakek Joseph, yang juga ikut menghampiri Liana.
“Kakek sungguh menanyakan hal itu? Tentu saja perbincangan kalian mengganggu waktu tidurku,” jawab Liana.
Gadis itu mencoba duduk dengan dibantu oleh Falcon. Dia bersandar di pundak kekasihnya, dengan Falcon yang merangkul pinggang Liana dan duduk di tepi tempat tidur.
Sementara itu, Kakek Joseph meminta Jimmy mendorong kursinya agar lebih mendekat ke arah ranjang Liana.
“Maafkan aku, Sweety. Aku merasa tak sopan jika meminta kakekmu untuk keluar dari ruangan ini,” ucap Falcon.
“Tak apa, Honey. Kebetulan kalian bicara di sini, sehingga aku bisa meluruskan sesuatu pada kalian semua,” sahut Liana.
“Apa itu, Nak?” tanya kakek Joseph.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1