Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kau mengenaliku


__ADS_3

Pagi hari tiba, Liana kini telah berada di bandara untuk menumpang penerbangan pertama menuju ke Empire State. Dia dan rekan-rekan satu timnya sudah berkumpul sejak pagi buta.


“Apa semuanya sudah siap?” tanya Liana.


“Sepertinya sudah, Nona Wang. Kita bisa berangkat sekarang,” sahut salah satu temanya.


“Baiklah. Mari kita masuk ke dalam. Jadwal kita sangat padat. Siang ini setibanya di sana, kita harus mengikuti meeting dengan tim penanggung jawab proyek Paradise dari pihak The Palace,” ucap Liana.


“Baik, Nona Wang,” sahut semuanya.


Mereka pun berjalan menuju ke arah petugas pemeriksaan dokumen, dan kemudian menunggu pesawat siap untuk tinggal landas, dari Golden Airport menuju Bandar Udara Internasional Platina di Empire State.


Saat telah duduk di dalam pesawat, Liana mendapatkan jatah kursi di samping jendela. Gadis itu membuka tirai dan melihat ke arah luar.


Pesawat masih menjejakkan rodanya di atas landasan. Suana di luar benar-benar terasa seperti berada di stasiun Luar angkasa, di mana hanya ada mesin dan mesin yang bergerak.


Dari dalam pesawat, Liana masih bisa melihat sedikit kondisi di dalam bandara, mengingat struktur bangunan tempat tersebut di dominasi oleh kaca tebal yang tembus pandang.


Nampak banyak orang berlalu lalang di dalam sana. Liana yang sedari tadi terus menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap hiruk pikuk bandara, tiba-tiba menegakkan duduknya saat matanya menangkap sesuatu di luar sana.

__ADS_1


Dia mendekatkan wajahnya ke jendela, hingga kedua tangannya menempel seperti cicak-cicak di dinding.


Sebuah senyum terbit, namun dengan sudut mata yang turun ke bawah.


Benar dugaanku. Kau memang sudah menyadarinya, batin Liana.


...👑👑👑👑👑...


Ingatannya kembali ke waktu semalam, di mana dia masih berada di depan swalayan di area Golden Park. Saat itu, dia sudah tak tahan lagi berada bersama Peter.


Namun, perlakuan Peter yang begitu lembut padanya, membuat hati Liana makin terasa sakit.


“Apa kau berdoa pada Tuhan?” tanya Liana.


“Tentu saja. Memangnya pada siapa lagi kita berdoa?” sahut Peter.


“Bisakah kau minta pada Tuhan-mu untuk mempertemukanku dengan ayahku? Aku akan sangat berterimakasih sekali padamu, Paman,” ucap Liana.


Seketika itu tangan Peter lemas, hingga botol kosong yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Dia cepat-cepat memungutnya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah sekaligus dengan sampah lainnya.

__ADS_1


Saat itu lah Liana sadar, jika Peter sebenarnya pun tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Setetes rasa sejuk hadir di dalam hati Liana. Gadis itu tersenyum tipis melihat kegugupan dari sang ayah.


Terimakasih, Ayah. Ternyata kau mengenaliku. Kau tidak melupakan ibuku. Aku janji tidak akan mendesak mu. Tapi, ijinkan aku untuk dekat denganmu, walau hanya sebagai orang asing, batin Liana.


Setelahnya, Peter meminta Liana untuk berdoa sendiri pada Tuhan, akan tetapi gadis itu kembali berkilah.


“Asal Paman tahu, aku sudah lelah berdoa pada Tuhan. Dari kecil, aku sama sekali belum pernah merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tua. Mungkin karena aku bukan gadis baik, atau kurang taat pada-Nya, sehingga Tuhan tak mau mendengarkan doaku. Ku lihat, kau orang yang cukup taat dan percaya pada Tuhan. Jadi, bisakah Paman berdoa untuk hal itu juga?” tanya Liana.


“Apa imbalannya jika aku melakukan itu?” tanya Peter.


.


.


.


.


Othor up banyak-banyak nih, tapi besties likenya yang tertib ye😈jangan lompat-lompat kek kodok🤭nanti othor ngambek lho😇

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2