
Golden City, kota tujuanku setelah aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Bersama teman baru, aku melangkahkan kaki menuju ke sebuah perusahaan yang baru saja merintis dari bawah.
Aku memilih tempat tersebut, karena di sana tidak ada yang mengenalku. Aku ingin diakui dari hasil kerjaku sendiri dan bukan karena melihat dari keluarga mana aku berasal.
Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana Pak tua wang, Presdir di perusahaan tersebut mewawancarai ku untuk pertama kalinya.
Pertanyaannya selalu to the point dan membuat siapa pun yang tak siap akan dibuat gelagapan olehnya.
'Kenapa Anda ingin bergabung dengan perusahaan saya?' dan 'Berapa bayaran yang Anda harapkan perbulannya?' adalah dua kalimat andalannya.
Pertanyaan yang klise memang, namun jika kita tak memiliki jawaban yang tepat, maka sudah pasti kita akan pulang dengan tangan kosong.
Pria tua itu sangat selektif dalam memilih karyawan. Dia tidak hanya mengandalkan bagian personalia untuk proses perekrutan, melainkan dia sendirilah yang terjun langsung untuk memilih siapa yang akan menjadi bawahannya.
Satu persatu pelamar masuk dengan wajah penuh harap, namun tak sedikit mereka yang keluar dengan wajah masam. Sepertinya mereka-mereka itu baru saja gagal dalam proses wawancaranya.
“Peter Chen!” panggil seorang pegawai yang bertugas pada wawancara tersebut.
Aku yang merasa terundang pun segera bangun dari duduk, dan berjalan ke arah ruangan tempat wawancara berlangsung.
__ADS_1
Kesan pertama ku saat melihat Presdir Wang adalah, dia seorang pria dewasa yang sudah terlihat begitu matang. Senyumnya ramah dan membuat siapapun yang melihatnya pasti akan menjadi tenang seketika.
Namun siapa sangka, di balik senyum itu, terdapat wajah dingin yang siap membekukan siapa pun orang yang berhadapan dengannya, dengan pertanyaan yang dilontarkan olehnya.
Pertama, dia ingin aku untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku pun memperkenalkan siapa aku, dari mana asal ku, dan pendidikan terakhirku. Namun, aku sengaja melewatkan informasi mengenai siapa keluarga ku, karena aku tak mau mendapatkan keistimewaan apa pun, yang kelak hanya akan membuatku terus berada di bawah bayang-bayang keluarga Chen.
Setelahnya, tanpa basa basi lagi, dia menanyakan hal yang sama padaku tentang alasan aku bergabung dengan perusahaan, sama seperti calon karyawan yang lain.
“Aku hanya akan bertanya dua pertanyaan yang sama kepada setiap orang, yang berusaha masuk ke perusahaan saya, dan mereka yang sudah keluar dari ruangan ini pun telah menjawabnya dengan jawaban yang beragam. Sekarang, coba kita lihat jawaban dari Anda,” ucapnya.
“Silakan,” ucapku tenang.
Pria ramah yang tersenyum begitu mempesona, kini tiba-tiba saja berubah menjadi seperti seekor singa yang bersiap menerkam mangsanya.
Kedua tangannya saling bertaut di atas meja, dengan badan yang sedikit condong ke depan. Sedangkan aku, tetap duduk bersandar, dengan kedua lengan yang bertaut di depan perut.
“Kenapa Anda ingin bergabung dengan perusahaan saya?” tanya Presdir Wang.
“Tentu saja karena ingin maju bersama dengan perusahaan ini. Seperti yang Anda ketahui bahwa saya baru saja menyelesaikan pendidikan saya, dan baru pertama kali mencari pekerjaan. Kenapa saya memilih perusahaan ini, karena saya yakin bisa menunjukkan kemampuan saya di sini. Jika perusahaan ini bisa maju berkembang pesat, bukankah itu berarti sudah sangat jelas, bahwa kemampuan saya memang bisa untuk diperhitungkan?” jawabku.
__ADS_1
“Percaya diri sekali Anda,” sahut Presdir Wang.
.
.
.
.
Pagi bestie 🥰sarapan datang😉hari ni othor cuma bisa up 2 aja, mau jengukin orang sakit dulu, mumpung libur🙏
lagi musim banget apa ya? banyak banget orang sakit di sini bestie 😱
semoga kalian kesayangan ku semua tetap diberikan kesehatan ya, dan tetap jaga kesehatan juga 😉
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1