
Di taman belakang sebuah mansion besar Dream Hill, terlihat kedua orang beda generasi tengah berjalan di sekitar relief hiasan dinding, yang dulu pernah dibuat oleh seorang gadis belia, ketika masih menjadi pelayan di sana.
Liana merangkul lengan kakeknya dan berjalan menuju ke bangku, yang berada di dekat kolam ikan, tepat di depan relief tersebut.
“Duduk dulu, Kek,” Seru Liana.
Dia mengajak kakeknya untuk duduk di sana dan menikmati suasana alam buatannya, yang kini telah ditata dengan lebih bagus lagi.
“Apa kau tau, Nak? Kakek selalu mengamati saat kau membangun tempat ini dulu,” ucap Joseph.
“Yah, aku tau. Dan kakek malah sama sekali tak menyinggungnya,” sahut Liana cepat.
Joseph terkekeh melihat raut wajah Liana yang berubah kesal.
“Aku sengaja,” ucap Kakek Joseph.
“Aku tau,” sahut Liana ketus.
“Hahahaha... Kau ini memang sangat mirip dengan ku. Aku benar-benar b*doh karena tak mau mengakuinya sejak awal,” ucap Kakek Joseph.
Liana menoleh ke arah kakeknya. Meskipun tertawa, namun raut wajah pria tua itu tak terlihat nampak bahagia. Gurat penyesalan masih terlihat di sana. Bahkan, mata tuanya kembali berkaca-kaca.
Liana mengeratkan rangkulannya di lengan sang kakek, membuat Joseph menoleh dan menatap sang cucu.
“Maafkan kakek mu ini, Nak. Ini semua salah kakek karena begitu keras membantah bukti yang sudah ada, bahkan jelas terlihat oleh mata,” ucap Kakek Joseph.
Tangannya terulur dan menyentuh pipi gadis di sampingnya. Dia ingat betul saat pertama kali melihat wajah Liana, ketika perban dibuka saat itu. Dia bahkan jelas-jelas mengenali wajah itu sebagai wajah putrinya, namun dengan keras kepalanya dia malah tak mau mengakui hal tersebut.
“Mungkin kamu bertanya kenapa kakek tak meminta Jimmy untuk menlakuakn tes DNA padamu,” lanjut Joseph.
__ADS_1
Liana hanya mengangguk. Dia memilih untuk menjadi gadis penurut dan hanya mendengarkan perkataan kakeknya. Karena bagaimana pun, pria tua itu pun pasti ingin menjelaskan segala hal yang telah di lakukan selama ini pada Liana.
“Apa kau pernah mendengar nama Victor? Ku dengar dari Jimmy bahwa selama ini kau sudah dekat dengan Falcon, dan pasti kau pernah mendengar nama itu darinya bukan?” tanya Kakek.
Liana mengangguk lagi, sambil terus menatap wajah keriput pria tua itu.
“Dia adalah salah satu alasan ku mengelak semua kemiripan mu dengan ibumu dan aku. Dulu, dia membawa seorang gadis dengan paras yang hampir mirip dengan Liana. Dia bahkan memalsukan hasil tes DNA gadis itu. Setelah beberapa lama dia masuk ke rumah ini, kakek merasa jika dia begitu dekat sangat penurut dengan Victor. Akhirnya, kakek meminta Jimmy untuk menyelidikinya diam-diam tanpa sepengetahuan victor. Setelah beberapa waktu, Jimmy mendapati sebuah fakta, bahwa gadis itu pernah melakukan operasi face off, yang membuat wajahnya begitu mirip dengan ibumu, dan dipastikan dengan tes DNA ulang yang dilakukan, membuktikan bahwa dia bukan lah cucuku."
"Setelah diselidiki lagi, wanita itu adalah salah satu wanita penghibur yang dijual Falcon kepada Victor. Gangster itu bahkan yang merubah wajahnya sesuai pesanan Victor. Itulah kenapa, aku tidak mau percaya begitu saja dengan mu saat itu. Bahkan aku trauma dengan hasil tes DNA. Memang konyol, tapi itu lah yang terjadi. Sampai seseorang datang dengan membawa kalung ibumu, aku seketika percaya jika dia adalah cucuku yang asli. Aku sampai lupa jika tes DNA bisa dimanipulasi, tapi setidaknya dia punya barang bukti lain yang menguatkan,” ungkap Joseph panjang lebar.
Liana nampak mendengarkannya dengan seksama. Dia pun merasakan apa yang sempat menjadi kegalaun sang kakek, hingga sekeras hati menepis semua fakta yang ada tentang dirinya.
“Jika saja aku tau kau ada hubungan dengan Falocn lebih awal, mungkin saja kakek akan mengusir mu jauh-jauh dari sini dan akan selamanya menganggapmu sebagai penipu seperti gadis yang dibawa Victor waktu itu. Tapi untunglah, kecerdikan mu sudah berhasil membuka mata kakekmu ini. Meskipun dengan bantuan Falcon, tapi kebenaran tidak keluar dari mulutmu sendri, melainkan dari si penipu itu,” lanjut Kakek Joseph.
Liana tersenyum mendengar perkataan dari kakeknya. Namun, dari perkataan sang kakek, seperti masih ada keraguan akan diri Liana sesungguhnya.
“Kek, jika Kakek masih ragu, Kakek bisa melakukan tes DNA di beberapa tempat berbeda, sehingga tak mungkin akan dimanipulasi oleh orang dengan mudah. Aku rasa itu bukan hal sulit untuk Kakek lakukan,” seru Liana.
“Bukankah sampai saat ini, masih ada keraguan di hati Kakek tentang siapa aku sebenarnya?” tanya Liana balik.
Joseph nampak terkejut mendengar terkataan Liana tadi. Tak dipungkiri memang dia belum bisa sepenuhnya percaya. Namun apa yang dilihat dan didengarnya saat digudang itu, membuatnya merasa jika Liana memang adalah cucu kandungnya.
Gadis itu meraih tangan sang kakek, dan mengusap lembut punggung tangan pria tua yang dipenuhi keriput itu.
“Lakukanlah, Kek. Setidaknya itu bisa membuat Kakek tenang dan tidak ragu lagi. Aku bisa pahami itu,” ucap Liana.
Joseph balas meraih tangan Liana, dan menggenggamnya erat.
“Baiklah. Jika memang itu maumu, akan kakek lakukan. Dan setelah itu, kakek akan umumkan identitas mu yang sebenarnya di depan semua orang, bahwa kau adalah putri Lilian, cucu kandungku,” sahut Joseph.
__ADS_1
Liana tersenyum. Gadis itu merentangkan tangan dan masuk kembali ke pelukan sang kakek.
“Terimakaiah, Kek,” ucap Liana.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, seorang pria terlihat berjalan dengan terburu-buru hendak menuju ke sebuah ruangan di sebuah gedung tua yang sudah lama tak terpakai. Tempat yang sering digunakan untuk berkumpul para anggota geng Jupiter.
Ada sebuah tempat Di lantai tertinggi, yang sudah disulap menjadi tempat yang bersih dan diisi dengan berbagai macam furnitur penunjang seperti sofa, karpet, lemari pendingin, mini bar, televisi, dan bahkan ada satu ruangan rahasia yang sengaja dibuat untuk tempat hacker andalan mereka bekerja.
Semua fasilitas itu mereka dapatkan dari hasil bekerja di dunia bawah yang penuh dengan kriminalitas.
Pria itu kini telah sampai di lantai paling atas dan menempelkan kartu akses yang dimilikinya ke alat pemindai. Setelah pintu terbuka, dia segera mencari ketua mereka yang saat itu memang berada di sana.
“Bos! Bos! Ada hal gawat, Bos!” seru pria itu di tengah nafasnya yang terengah-engah.
.
.
.
.
Met hari minggu bestie 😊1 bab dulu hari ini, besok kita lanjut 3 bab sehari 🥰
jangan lupa siapin vote senin kalian besok buat Liana ya😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘