
Di perjalanan seusai menemui Kakek Joseph di kediaman Dream Hill, Liana segera kembali menuju ke Golden City. Tujuannya adalah ke sebuah kantor berita, di mana sang senior saat ini bekerja.
Liana merasa, jika kali ini dia memerlukan bantuan dari Christopher untuk mengurus masalah Damian. Pria itu sudah berani mengganggu penghuni Dream Hill, dan bahkan berencana untuk masuk ke dalamnya.
Dia sadar, jika sebelum Jessica, dialah target dari Damian. Hanya saja, dia tak seperti Jessica yang dengan mudah tergoda dan jatuh ke pelukan sembarang pria, bahkan yang baru saja ditemuinya beberapa kali.
Liana masih ingat pembicaraannya dengan Christopher tempo hari, saat wartawan berita itu tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam mobilnya, saat Liana baru saja keluar dari area proyek.
Mereka sempat makan siang bersama dan membahas soal Damian. Pria yang beberapa kali mencoba mendekati Liana, tapi selalu ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.
Dia merasa jika kali ini, dia harus mengurus pria kurang ajar itu terlebih dahulu, agar Jessica tak lantas bekerja sama dengannya untuk kedepannya.
Dia yakin, jika kedua orang itu memiliki sifat yang sama. Sama-sama haus akan harta dan kedudukan. Sehingga sudah bisa dipastikan, jika keduanya bersatu, maka kehancuran Kakek Joseph tinggal menunggu waktu.
Dia ingat betul apa yang dikatakan oleh Jimmy, ketika masih berada di dalam kamar Kakek Joseph.
Beberapa saat yang lalu, di kediaman Kakek Joseph, tepatnya di dalam kamar tidur pak tua itu.
Jimmy tengah menjelaskan kepada Liana dan tuannya, tentang asal usul foto-foto tersebut.
“Semalam, bahkan sebelum tuan menghubungi ku untuk mencari Nona Jessica, seseorang telah mengirimkan foto-foto tersebut lebih dahulu. Kami sudah mencoba mencari tahu dimana orang misterius itu berada, namun sepertinya email dan alamat IP nya tidak sesuai atau bisa jadi, orang ini ahli dalam IT,” ucap Jimmy.
“Tapi, berkat informasi anonim ini, kita bisa tau kelicikan pria itu,” timpal Kakek Joseph.
Pengirim anonim lagi. Tapi, kenapa Falcon tidak bilang apapun padaku semalam? Bahkan tadi pagi pun dia tak menyinggung masalah ini sama sekali, batin Liana.
“Damian Li adalah orang yang bekerja sama dengan kepala bagian Feng, saat pengerjaan proyek jembatan penghubung pulau waktu itu. Dia lah pemasok material bangunan terbesar saat itu,” ucap Jimmy.
“Jadi, kalian bahkan sempat bekerja sama?” tanya Liana.
“Pria ini seperti belut. Dia begitu licin. Bukti kecurangan nya seolah hilang dan tak bisa terdeteksi. Orang-orang kami pun tak bisa menemukan celah dari perusahaannya, meskipun mereka hanya perusahaan kecil,” jawab Jimmy.
“Maaf, Paman. Kenapa aku merasa jika instinu terlalu tumpul, dan orang-orang mu terlalu tak bisa diandalkan dalam segala hal? Aku tidak bermaksud untuk menghina kemampuan Paman, hanya saja, apa Paman tidak curiga jika ada orang yang sengaja menyabotase semua info, agar tidak tembus ke Paman dan terutama Kakek?” tanya Liana menyampaikan pendapatnya.
“Apa maksudmu?” tanya Jimmy.
__ADS_1
“Tak apa. Lanjutkan lah perkataan mu!” seru Kakek Joseph.
“Sejak masalah cucu kakek yang hilang, apa kau tidak merasa jika seseorang terus menutupi keberadaannya dari kalian? Mereka ada di Metropolis. Kota itu kecil dengan penduduk yang tidak sebanyak Golden City. Harusnya dengan menyempitnya area pencarian, kalian bisa dengan mudah melacak nya. Apalagi dengan mengerahkan semua orang-orang Paman."
"Tapi apa, bahkan saat dia berada di Grey Town saja, kalian masih kesulitan mencarinya dan menerima mereka berdua yang tiba-tiba muncul dengan kalung Nona Lilian, masuk ke dalam rumah ini begitu saja. Bahkan sekarang, ada seseorang yang membantu kalian, dan hanya sekedar menemukan lokasinya saja, kalian kesulitan bukan main. Dari situ lah aku menyimpulkan, jika ada seseorang yang dengan sengaja menyabotase informasi apapun, agar tak sampai kepada kalian berdua, kecuali jika informasi itu dikirimkan kepada Paman atau Kakek secara langsung,” jelas Liana panjang lebar.
“Aku juga merasa begitu. Beberapa tahun ini, instingmu seperti sudah tumpul. Apa kau tidak mencurigai sesuatu?” tanya Kakek Joseph pada Jimmy.
“Entahlah, Tuan. Setahu saya, orang-orang yang bekerja dengan saya adalah orang yang bisa dipercaya. Tapi memang, saya pun merasakan jika informasi yang datang begitu minim. Saya sudah coba mencari tahu, tapi tidak ada yang mencurigakan sama sekali,” sahut Jimmy.
“Maaf, Kek. Aku juga harus menyampaikan pendapat ku tentang Jessica saat ini juga,” ucap Liana.
“Lilian, jangan keterlaluan hanya karena argumen mul tadi terasa masuk akal,” cegah Jimmy.
Pria itu tahu sejak awal kalau Liana tak percaya dengan kebenaran tentang identitas Jessica. Dia mencoba menjaga kesehatan jantung tuannya yang masih harus diawasi, agar tidak terlalu mendapatkan tekanan baik dari luar maupun dalam.
“Biarkan dia mengatakannya, Jim. Aku ingin dengar apa pendapatnya tentang Jessica, karena bagaimanapun saat kita membawanya kemari, Lilian sama sekali tidak mengetahuinya,” ucap Joseph.
Liana nampak masih diam menunggu Jimmy memberinya ijin, karena bagaimana pun Liana sangat menghormati pria paruh baya itu.
“Baiklah. Katakan apa pendapatmu,” ucap Jimmy.
“Apa kalian tidak curiga, dari mana mereka bisa mengetahui informasi, tentang kalian yang sedang mencari seorang anak yang hilang puluhan tahun lalu? Apa kalian mempublikasikannya di media sosial?” tanya Liana.
“Tidak. Aku sama sekali tak memberitahukan kepada siapapun, mengenai Lilian yang kabur hingga anaknya yang sedang ku cari, apalagi di media sosial,” jawab Joseph.
“Benar. Kami selalu bertindak sendiri tanpa melibatkan para pewarta. Hal itu untuk mencegah...,” sahut Jimmy.
“Mencegah orang tak bertanggung mengambil kesempatan dari hal tersebut, bukan? Lalu, dari mana mereka bisa tahu dan bahkan datang dengan sendirinya kepada kalian? Apa sejak awal, tak ada yang menyadarinya sama sekali?” sela Liana dan kembali melempar pertanyaan pada kedua pria dewasa di hadapannya.
Kedua pria itu saling pandang tanpa bersuara sedikit pun. Melalui tatapan mata, seolah mereka pun menyatakan keraguan atas apa yang sudah terjadi.
“Bagaimana dengan tes DNA? Aku pernah bilang padamu soal itu bukan,” ucap Jimmy.
“Bukankah Paman bilang, kalau dulu juga pernah ada yang mencoba menipu dengan hasil tes DNA palsu? Lalu, kenapa sekarang itu tidak mungkin? Sebagai keturunan dari Kakek dan Nona Lilian, setidaknya ada kesamaan, baik secara fisik maupun sifat. Apa ada di diri Jessica yang mirip dengan Anda atau nona muda?” tanya Liana berbalas argumen.
__ADS_1
“Kau benar. Kemungkinan tes itu dipalsukan memang ada, meski kita sudah berusaha mengawalnya dengan baik,” gumam Joseph seolah tengah berpikir.
“Bagaimana kalau kita lakukan tes lagi padanya diam-diam?” ucap Jimmy.
“Aku rasa itu ide yang buruk,” sanggah Liana cepat, sebelum Kakek Joseph memberi jawaban.
Kedua pria dewasa itu pun menoleh dan menatap lurus ke arah Liana.
“Apa maksudmu, kau punya ide yang lebih bagus?” tanya Joseph.
“Dari pada mengulang tes yang bisa saja dimanipulasi lagi, bukankah lebih baik membuatnya mengaku langsung di depan Anda, Kek?” ucap Liana tegas.
“Apa mungkin?” tanya Joseph.
“Mungkin saja. Asalkan, Kakek dan Paman Jimmy, tetap diam dan tidak memberitahukan rencana ini kepada siapa pun. Satu hal lagi, apapun yang ku lakukan, Paman dan Kakek tidak boleh melarangku,” seru Liana.
“Bagaimana kalau ternyata dia adalah cucu kandungku? Apa kau siap dengan konsekuensi nya?” tanya Joseph berusaha tetap percaya pada Jessica.
Pria itu itu tak tahu jika Liana begitu kesal dengan sikapnya, yang selalu mencoba membela pelacur itu.
“Jika memang dia benar-benar cucu Anda, apapun hukuman yang akan Kakek berikan, akan ku terima,” ucap Liana mantap.
Karena aku yakin dia yang palsu, dan aku yang asli. Hanya kau yang tidak sadar sejak awal, Kek, batin Liana.
.
.
.
.
Met hari minggu bestie 😁hari ini up cuma 1 yes😊🙏 lanjut besok lagi😘
Aku tetep mau promo novel receh ku yang lain, buat bacaan kalian sambil nunggu neng Liana update lagi🤭
__ADS_1
cek di bawah 👇mohon dukungannya 😘