Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pria aneh


__ADS_3

Sebuah jalan buntu, di mana Liana berhasil dijebak oleh seorang wanita asing yang berpura-pura meminta bantuannya, nampak gadis itu tengah berdiri dalam kepungan tiga orang pria berpakaian serba hitam dengan salah satunya memaki ikat kepala.


Liana yang tadinya hampir mencapai jalan utama pun, harus kembali mundur ke belakang.


“Ssshh! Si*lan. Cepat tangkap dia. Br*ngsek. Dia udah berani mukul aku!” keluh wanita yang tadi berada di dalam mobil, dan kini sudah keluar sambil memegangi tengkuknya yang terasa sakit.


“Yan Yan, kau tidak apa-apa?” tanya pria berikat kepala.


“Aku baik-baik saja. Aku akan mencari sesuatu di dalam mobil ini yang bisa kupakai sendiri. Kalian cepat bereskan gadis si*lan itu,” sahut wanita bernama Yan Yan itu.


“Apa mau kalian?” tanya Liana yang merasa semakin khawatir dengan nasibnya malam ini.


Dia menoleh ke kanan dan kiri, bermaksud mencari sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai senjata, untuk melawan ketiga pria di depannya.


“Nona manis. Bersikap baiklah pada kakak. Kita tidak akan menyakitimu jika kau menurut,” ucap salah satu dari mereka.


Pria berikat kepala memberikan isyarat kepada salah satu rekannya untuk menyerang Liana. Dan seketika itu juga, seorang pria maju dan mendekat ke arah Liana.


Gadis itu seketika menghindar dan berlari ke belakang, bermaksud mengambil kembali pisau yang tadi sempat dibuangnya.


Namun, pria itu mendorong Liana hingga dia pun tersungkur ke aspal kotor.


Semuanya terkekeh melihat Liana yang sudah jatuh. Pria yang tadi mendorong Liana pun mendekat dan meraih rambut gadis itu yang terkuncir ke atas.


Namun, sebuah sabetan pisau tepat mengenai lengan pria itu.


“Aaaarrrrghhhhh!” teriaknya.


Rupanya, Liana terjatuh tepat di samping pisau yang tadi dibuangnya.


Gadis itu pun berdiri, sambil mengacung-acungkan pisau itu ke depan para pria yang menghadang nya.


“Jangan mendekat! Atau kalian akan mati dengan pisau ini!” ancam Liana.


“Br*ngsek! Gadis sialan!” maki pria yang terluka.


Kedua pria lainnya pun maju bersama-sama dan hendak menangkap Liana. Gadis itu dengan berani mengibas-ngibaskan pisau itu hingga membuat keduanya menghindar dan memberi dia celah untuk kabur.

__ADS_1


Saat jalan terbuka, Liana pun segera menerobos kepungan mereka dan berlari sekencang-kencangnya dari jalan buntu itu.


Setelah berhasil keluar dari sana, Liana mulai kebingungan menentukan arah. Dia sama sekali tak paham daerah di Grey Town.


Dia pun asal berlari, dan terus menghindar dari kejaran ketiga pria yang telah berhasil membuatnya kabur meninggalkan mobilnya di sana.


Sesekali, Liana melihat kebelakang, dan rupanya para pria itu masih terus mengejarnya. Nafas Liana sudah hampir habis dan kakinya pun sudah tidak kuat untuk berlari lagi.


Rupanya, jalan yang ditunjukkan leh wanita asing tadi adalah kawasan sepi di pinggiran Grey Town, yang jarang dilewati oleh kendaraan.


Hanya ada pemukiman penduduk yang bahkan banyak di antaranya, yang merupakan rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya.


Saat dia berada di antara rumah-rumah itu, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menariknya, dan membuat gadis itu masuk ke dalam celah di antara dua rumah yang berjejer di sepanjang jalan.


“Emmmppp!” pekik Liana yang tertahan, karena mulutnya terbekap oleh sebuah telapak tangan.


“Ssstt! Diamlah! Atau mereka akan menemukanmu di sini,” bisik pria itu.


Liana masih terus berontak, dan bahkan pisaunya hendak ia tusukkan ke perut pria yang membekap mulutnya


Namun, dengan cepat, pria yang berdiri menghimpitnya itu, menahan tangan Liana dan semakin mendorong gadis itu ke dinding.


“Di mana gadis itu?”


“Pasti masih di sekitar sini!”


“Cepat cari lagi. Lumayan kalau kita jual ke Kak Long.”


Liana secara tak sadar meremas pakai pria di depannya, karena marasa tegang saat mendengar perbincangan orang-orang yang mengejarnya tadi.


Setelah suara langkah kaki mereka menjauh, Liana pun seketika mendorong tubuh pria yang sedari tadi menempel tanpa jeda pada dirinya.


PLAAAK!!


Sebuah tamparan tepat mengenai pipi pria itu.


“Apa begini cara mu mengucapkan terimakasih pada orang yang menyelamatkanmu?” tanyanya seraya mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari.

__ADS_1


Liana memicingkan matanya, berusaha melihat wajah pria itu dalam kondisi malam dan minum cahaya.


“Siapa kamu? Apa kamu komplotan mereka?” tanya Liana.


Dia kembali mengacungkan pisau ke depan, bermaksud membuat pria itu takut dan melepaskannya.


“Simpan saja pisau mu. Aku tidak takut sama sekali dengan benda seperti itu,” ucap pria aneh itu.


“Biarkan aku pergi. Maka aku tidak akan menusukmu dengan pisau ini,” ancam Liana.


Pria itu terkekeh. Bukannya takut, dia justru membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Liana.


Seketika itu juga, Liana bisa dengan jelas melihat wajah pria yang sudah menolongnya dari kejaran komplotan wanita seksi tadi.


“kau?!” pekik Liana.


Pria itu justru menempelkan telunjuk ke bibir, pertanda agar Liana tetap tenang.


“Silakan saja kau pergi. Tapi, aku pastikan kalau orang-orang tadi akan kembali menangkapmu,” sahut si pria aneh.


Liana masih diam dengan pisau di tangannya, sementara pria itu justru berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan dari jalan yang tadi di lewati Liana.


“Ikuti aku!” seru pria itu.


“Hei! Mau kemana kau?” pekik Liana.


Liana menoleh ke jalan yang tadi, namun dia segera menoleh ke arah pria tadi pergi. Gadis itu pun akhirnya memilih mengikutinya entah kemana.


“Falcon, tunggu aku!” pekik Liana saat pria itu semakin jauh melangkah meninggalkannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2