
Falcon terus menghubungi Q, karena dia yakin jika dokter itu pasti mengetahui sesuatu tentang hilangnya Liana.
Akan tetapi, dokter itu sama sekali tak menanggapi panggilan teleponnya. Falcon semakin cemas, terlebih karena matahari telah menghilang di ujung barat. Hari benar-benar telah gelap. Bahkan bulan pun tak menampakkan wajahnya di langit sana.
Udara berhembus semakin dingin. Begitu pun hati Falcon yang saat ini membeku karena hilangnya Liana. Dia tak tahu harus pergi kemana dan mencari kekasihnya di mana.
Anak buahnya masih belum menemukan sesuatu di pada rekaman CCTV rumah sakit, dan semakin membuatnya kesal. Akhirnya, Falcon pun melajukan mobilnya untuk keluar lebih dulu dari area hutan.
Di tengah jalan, dia berpikir untuk menghubungi Chip, berharap hacker itu bisa cepat menemukan lokasi di mana Henry menyekap Liana dan juga Peter.
Namun, baru saja Falcon menghubungi Chip, hacker itu langsung menerima panggilannya, dan bahkan menyela sebelum sang bos gangster sempat bertanya.
“Hai, Bos. Kebetulan kau menelpon. Aku baru saja ingin memberitahumu sesuatu,” ucap Chip.
“Jika tidak penting, katakan saja lain kali,” sahut Falcon.
“Ini pesan dari Q. Dia bilang kalau kau pasti membutuhkannya,” sahut Chip.
“Cepat katakan!” seru Falcon langsung.
“Dia mengirimi ku sebuah koordinat dari aplikasi map, dan memintaku melihatnya melalui visualisasi satelit. Setelah kulihat, itu adalah bekas mercusuar di sebelah utara Heaven Forest. Dia bilang, semoga ini bisa membayar kesalahannya,” ucap Chip.
Mendengar kalimat terakhir dari Chip, Falcon pun berhenti bertanya.
__ADS_1
“Sepertinya, kalian sedang bertengkar. Bos, Q itu sejak dulu sangat mengidolakan mu. Kau itu panutan untuk nya. Dia tak pernah melakukan sesuatu yang membuatmu marah. Jika kali ini dia melakukan sebuah kesalahan, pasti ini diluar dari perkiraannya. Berbaikan saja lah. Aku takut dia akan menemukan idola baru yang lebih aneh darimu,” seru Chip.
Falcon tak menanggapi omongan Chip sama sekali, meskipun dia mendengarnya dengan sangat jelas. Dia pun kemudian mengalihkan pembicaraan dengan meminta hacker itu segera mengubungi Nine serta Mike, untuk secepatnya datang ke lokasi yang diberikan oleh Q tadi.
Kali ini, dia meminta bantuan kedua orang itu untuk membebaskan Liana dari tangan Henry.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, di sebuah menara mercusuar yang sudah tak terurus, beberapa orang nampak berjaga di sekitar sana, lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.
Di ruangan puncak menara, tempat sebuah lambu sorot berukuran raksasa yang sangat besar berada, tampak dua orang yang tengah diikat pada kursi.
Satu diantaranya adalah seorang gadis yang nampak masih tak sadarkan diri, dan yang lainnya adalah pria paruh baya yang juga terikat di kursi yang ada di hadapannya, dengan mulut tersumpal kain.
Nampak pria paruh baya itu terus meronta, hendak melepaskan ikatan di tangannya. Dia bahkan terus berusaha maju dan ingin menyadarkan gadis di hadapannya.
Pria muda yang berada di depan jendela pun berbalik, karena merasa terganggu dengan suara yang ditimbulkan oleh sanderanya
“Apa kau mau putrimu itu bangun? Aku bisa membangunkannya dengan cepat,” ucap pria yang tak lain adalah Henry.
Saat ini, dia sedang bersama kedua sanderanya, Liana dan juga sang ayah, Peter Chen.
Henry berjalan ke arah sudut, di mana terdapat sebuah meja dengan sebotol air mineral sisa. Dia kemudian berjalan ke arah Liana, dan dengan tiba-tiba menyiram sisa air yang masih setengah botol itu langsung ke atas kepala gadis tersebut.
__ADS_1
Liana pun gelagapan dan terpaksa membuka mata karena sangat terkejut. Otaknya belum sadar betul, hingga dia masih belum sadar di mana dia berada saat ini.
Nampak Peter mencoba bicara, akan tetapi suaranya tertahan karena kain yang menyumpal mulutnya.
“Lihat? Baik sekali kan aku, karena sudah membantumu membangunkan dia,” ucap Henry.
Dia kemudian membuang botol plastik tersebut dengan sembarangan, dan berjalan memutar. Dia kini berada di belakang Liana.
Gadis itu masih mencoba menyadarkan diri sepenuhnya, dengan menggelengkan kepala beberapa kali. Tiba-tiba, Henry menarik rambutnya dengan kuat ke belakang, hingga Liana mengerang lirih karena merasakan sakit.
“Halo, Nona Wang. Kita bertemu lagi, dan lagi-lagi itu semua karena pria bermarga Chen,” ucap Henry.
.
.
.
.
lanjut besok bestie 😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘