
Pertarungan antara Falcon dan juga Henry berlangsung tak seimbang. Sang ketua geng Jupiter sama sekali tak melawan, karena melihat sang kekasih berada di bawah ancaman Amber.
Awalnya, wanita itu sama sekali tak berniat membunuh Liana dengan tangannya sendiri. Bahkan saat dia meminta senjata pada Henry, itu semua hanyalah sebuah gertakan agar Liana bisa diam dan berhenti mengoceh di depannya.
Dia mau datang ke tempat tersebut pun karena ingin melihat dan memastikan bahwa Liana benar-benar telah disingkirkan dari dunia ini, dan dia akan kembali hidup dengan tenang tanpa ada yang tahu rahasia serta kejahatan yang telah ia lakukan.
Dia tak ingin lagi ditipu seperti yang sudah dilakukan oleh Moses Jung sebelumnya. Kali ini, dia ingin melihat musuhnya benar-benar mati dihadapannya secara langsung.
Dari dulu, wanita itu sama sekali tak pernah membunuh dengan tangannya sendiri, meski dia telah menyebabkan dua orang ibu meninggal, dan dua anak menderita karena perintahnya. Dia lebih senang meminjam tangan orang lain untuk menyingkirkan penghalang, agar namanya tetap bersih dan tak terkena noda sedikit pun.
Namun kali ini, siapa sangka dia akhirnya mengacungkan senjata api ke kepala seseorang dengan tangannya sendiri, karena kondisinya yang terjepit di tengah konflik antara Henry dan juga Falcon.
Dia tak mau sampai polisi datang, dan menemukannya telah terlibat dalam kasus tersebut.
“Kau, ikut aku ke keluar dari sini!” seru Amber.
Liana merasa suara wanita itu terdengar bergetar seolah sedang ketakutan. Dia pun sadar jika saat ini, di tangannya masih ada sebuah senjata yang bisa digunakan untuk melawan Amber.
“Apa kau buta? Kakiku masih terikat. Bagaimana aku bisa jalan?” tanya Liana.
“Bukankah tanganmu sudah lepas? Cepat lepaskan sendiri talinya!” seru Amber lagi.
__ADS_1
Liana pun kembali bergerak dan menunduk, untuk melepaskan lilitan yang ada di kakinya. Saat sudah terlepas, dia memegang kuat-kuat pecahan kaca yang masih ia sembunyikan di tangannya hingga dia sendiri pun berdarah, dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang Amber.
Liana bangun dengan gerakan tiba-tiba, kemudian menggores tangan wanita itu dengan kaca.
“AAAARRGGGHHH!”
Suara pekikan terdengar memekakkan telinga semua orang. Falcon serta Henry pun menoleh, dan melihat bahwa pistol telah lepas dari tangan Amber, kemudian ditendang oleh Liana ke sembarang arah.
Gadis itu pun kembali menggores kaki Amber dengan cukup dalam, agar wanita itu tak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Setelah lepas dari sang nyonya besar, Liana beralih ke arah sang ayah dan berusaha membantu pria itu melepas ikatan yang sedari tadi melilit ditubuhnya..
Falcon yang melihat gadisnya telah terlepas pun, kembali bangkit dan mengambil alih pertarungan. Dia tak lagi segan untuk menghajar Henry habis-habis, dan tak memberi pria itu jeda untuk bernafas.
Pukulan demi pukulan ia berikan di wajah lawannya hingga semua membiru. Sebuah pukulan keras membuat Henry terhuyung dan jatuh terpental.
Sedangkan Amber, wanita itu terlihat kesakitan karena luka sayatan yang diberikan Liana di tangan serta kakinya.
Namun, pria itu tiba-tiba bangkit dengan memegang sebuah senjata. Rupanya, Henry terjatuh tepat di tempat pistol tadi ditendang oleh Liana.
Dia pun menodongkan senjata tersebut ke arah Falcon. Liana yang hendak membawa sang ayah pergi, tertegun karena melihat prianya sedang dalam bahaya.
__ADS_1
“Akhirnya ajal mu tiba, Alex. Ucapkan selamat tinggal pada dunia!” ucap Henry.
Liana pun melepas rangkulannya pada sang ayah, dan segera berlari melompat ke arah Falcon.
“Awas!” pekik Liana.
DOOOOR!!!
.
.
.
.
Hayoloh... siapa itu yang kena? lanjutannya besok lagi bestie 😁selamat berakhir pekan dan semoga bisa mimpi indah😘🥰
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1