
“Sedang apa kau di sini, hah?” tanya Alice.
Q seketika mengangkat wajahnya. Tatapan keduanya pun bertemu. Seringai muncul di bibir Alice, membuat Q semakin tegang.
Wanita itu maju selangkah, dan Q mundur selangkah.
“Aku bertanya padamu, kenapa kau di sini? Bukankah pos mu seharusnya berada di atas?” ucap Alice.
Q pun seketika melongo karena sudah salah kira.
“A... Ah, Bos. Kau mengagetkan ku saja. A... Aku hanya merasa kedinginan, jadi ingin sedikit menghangatkan badan di dalam,” jawab Q bersikap se normal mungkin.
“Ini bukan waktunya untuk bersantai. Waktunya hampir tiba. Klien juga akan segera sampai, begitu pun musuh,” ucap Alice.
Wanita itu kembali maju mendekat, membuat Q terpaksa memundurkan wajahnya.
“Sebaiknya kau segera kembali dan berjaga dengan baik di pos mu,” seru Alice kemudian.
“Baik, Bos!” sahut Q cepat.
Dia pun kemudian segera berjalan menaiki tangga, dan menuju ke puncak atas. Entah kebetulan apa, Q kini ditempatkan di luar ruangan tempat Liana di sekap.
__ADS_1
“Apa ini sudah waktunya berganti posisi? Kebetulan sekali aku sangat kedinginan,” ucap penjaga yang sejak tadi berjaga di atas.
“A... Ya. Bos menyuruhku kemari,” sahut Q.
“Baiklah. Aku serahkan di sini padamu,” ucap penjaga tadi.
Dia pun kemudian turun dan meninggalkan Q di sana.
Q yang sudah sendirian, kini mencoba kembali mencari keberadaan Liana. Sesuai yang ia pikirkan, ada sebuah ruangan di dalam puncak menara. Q kemudian berjalan sedikit ke atas, dan menemukan sebuah jendela besar, dengan sebuah lampu sorot yang dulu digunakan sebagai tanda kepada kapal-kapal yang melintasi area sekitar.
Dia mencoba mengintip ke dalam, dan terlihat sebuah ruangan yang luas, dengan dua buah lampu gantung yang berada di atas langit-langit.
Q membola saat mendapati dua orang yang tengah diikat, dengan seorang gadis yang tengah kesakitan karena rambutnya ditarik ke belakang oleh pria muda.
Dia telah menemukan lokasi penyekapan Liana dan juga Peter. Saat ini, Henry nampak sedang bicara sesuatu kepada Liana. Akan tetapi, gadis itu sama sekali tak terlihat takut, dan justru bicara dengan tenang, membuat Henry semakin kesal.
Henry bahkan menarik rambut Liana semakin kuat, dan Q yang melihat hampir melompat keluar. Namun, dia sadar jika itu semua tak ada gunanya dan hanya akan tambah merusak keadaan.
Setelah melepas rambut Liana dengan kasar, Henry berjalan keluar dari ruangan tersebut. Saat itulah, Q mencoba memberi tanda pada Liana, bahwa saat ini dia sedang berada di sana.
Liana sedari tadi terus tertunduk. Q bingung harus memberi tanda seperti apa. Dia awalnya mencari kerikil atau semacamnya untuk dilempar ke dalam, tapi di ketinggian itu tak ada benda semacam itu.
__ADS_1
Akhirnya, dia teringat dengan arlojinya yang bisa memiliki fungsi menjadi senter darurat. Dia pun mengaktifkan fungsi tersebut dan mengarahkan cahayanya langsung ke wajah Liana.
Gadis itu nampak terusik, dan akhirnya mengangkat wajahnya. Dengan mata yang memicing, Liana mencoba melihat dari mana arah sinar yang menyilaukan itu.
Setelah Liana melihat ke arahnya, Q pun mematikan arlojinya, dan berdiri di depan jendela. Tangannya terangkat ke atas, dan memberi tanda dengan tangannya.
Sebuah isyarat tangan yang biasa digunakan oleh penyandang tuna rungu untuk mengucapkan huruf ‘Q'.
Liana si otak cerdas, bisa dengan cepat mengetahui tanda itu. Dia pun nampak tersenyum dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘