Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tertawa bersama


__ADS_3

“Jika saat itu tiba, apakah kau mau menikah denganku?” tanya Falcon.


Liana membeku mendengar perkataan dari Falcon. Hatinya berdebar tak karuan akan kata-Kata pria itu.


“Apa ini sebuah lamaran?” tanya Liana.


“Bukan. Aku hanya bertanya saja. Aku tau, kalian para gadis sangat menginginkan lamaran yang romantis dan indah bukan,” sahut Falcon.


“Jadi, apa kau mencintaiku?” tanya Liana.


“Apa perkataanku sebelumnya tidak bisa mewakili?” tanya Falcon balik.


Liana tersenyum. Dia merentangkan lengannya dan memeluk Falcon dengan erat. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


Falcon pun kembali mendekap erat gadis yang telah benar-benar membuatnya kehilangan akal dan merelakan kebebasannya.


“Akan lebih baik jika kau mengatakan secara langsung kalau kau mencintaiku,” ucap Liana.


“Dasar kau ini. Baiklah. Aku mencintaimu. Apa kau puas?” tanya Falcon.


“Ck! Pernyataan cinta macam apa itu? Tidak ada perasaan sama sekali,” keluh Liana.


Keduanya terkekeh karena keributan kecil yang mereka ciptakan.


“Lalu, apa kau juga mencintaiku?” tanya Falcon.


Liana mengurai pelukannya. Dia mendongak dan menatap pria di depannya.


“Entahlah. Jujur aku masih bingung dengan hatiku. Aku hanya merasa jika hatiku sakit saat kau mengabaikanku. Aku merasa kehilangan saat kau tak ada di dekatku saat kita kembali dari pulau itu. Aku terus memikirkan dirimu sepulangnya dari Empire State. Antara kesal dan kecewa, namun aku ingin menemuimu lagi dan lagi,” ungkap Liana.


Falcon mengusap lembut surai hitam Liana. Jemarinya menyentuh lembut pipi mulus gadis itu.


“Gadis b*doh. Itu artinya kau sudah benar-benar tergila-gila padaku,” sahut Falcon.


“Benarkah? Sejak kapan?” tanya Liana.


Falcon kembali menarik gadis itu ke dalam dekapannya, dan memeluk erat tubuh kecil Liana.


“Orang bilang, cinta datang dan pergi tanpa kita sadari. Jika kau tanya sejak kapan, mungkin sejak kau merasa tersentuh karena bantuan ku saat masalah Jessica,” ucap Falcon berspekulasi


“Entahlah. Tapi, bagaiman denganmu?” tanya Liana.


“Sudah malam. Sebaiknya kau tidur. Jika besok kau tidak muncul, kakekmu pasti akan khawatir mencarimu,” seru Falcon.


“Hish! Menyebalkan. Bilang saja kau juga tak tau sejak kapan mulai menyukaiku,” keluh Liana.


“Tidak. Aku tau sejak kapan mulai menyukaimu,” sahut Falcon.


“Kapan?” tanya Liana.


“Rahasia,” jawab Falcon.

__ADS_1


Sebuah pukulan mendarat di punggung kekar itu. Namun, Falcon justru tergelak karen sikap manja Liana.


“Sampai kapan kau akan di sini?” tanya Liana.


Pertanyaan itu membuatkan kesenangan  yang saat ini dirasakan oleh Falcon menghilang, mengingat waktunya yang terbatas.


“Aku akan kembali besok pagi,” jawab Falcon.


“Lalu, apa kita bisa bertemu lagi setelah ini?” tanya Liana.


Terasa remaaasan di punggungnya, menandakan bahwa Liana tengah menyiapkan hati untuk mendengar kemungkinan buruk.


“Tunggulah aku. Aku akan berusaha menemui mu lagi,” ucap Falcon.


Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Liana, dan menggetarkan hati gadis itu. Liana semakin erat memeluk tubuh pria yang telah masuk dan menghuni tempat terdalam di hatinya.


“Setidaknya, tinggalkan nomor ponselmu, agar aku bisa mengetahui kabarmu,” pinta Liana.


“Aku belum bisa. Pak tua itu sangat kejam. Dia bahkan tidak memperbolehkan ku memakai alat komunikasi apapun. Aku bagai hidup di jaman primitif,” jawab Falcon.


“Lalu, bagaimana kita bisa tetap terhubung. Bagaimana aku tau kau tidak melihat gadis lain?” cecar Liana.


“Apa kau sudah mulai berpikir hal kotor dan cemburu padaku?” goda Falcon.


“Jawab saja,” seru Liana.


“Dia berjanji akan memberiku sedikit demi sedikit kelonggaran, jika aku menurut dan bekerja dengan giat diperusahaannya. Kau tau, aku lebih mirip budak yang dipaksa kerja rodi. Dia bahkan tak mau memberiku upah. Aku benar-benar dalam pengawasannya. Tunggulah sampai aku bisa menghubungimu. Aku masih hapal nomor ponselmu. Aku janji akan segera menghubungi mu saat itu juga,” ucap Falcon.


“Karena aku mempesona,” sahut Falcon.


“Dasar narsis,” ejek Liana.


“Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini sampai pagi,” ucap Falcon.


"Baiklah. Oh, iya. Mulai sekarang, jangan panggil aku Lilian. Itu nama ibuku. Namaku Liana. Kau bisa panggil aku dengan nama itu," seru Liana.


"Bagaimana kalau ku panggil Sayang? Atau cintaku? Honey? Istriku?" sahut Falcon.


"Itu menggelikan!" ucap Liana.


"Tapi itu romantis," sahut Falcon.


"Geli! Aku tidak mau!" seru Liana.


"Ayolah. Itu sangat lucu," goda Falcon.


"Tidak. Aku tidak mau. Aku mau tidur. Jangan ganggu lagi!" seri Liana.


Falcon terkekeh melihat reaksi Liana yang sangat lucu. Mereka pun akhirnya tidur dalam posisi saling berpelukan satu sama lain.


...👑👑👑👑👑...

__ADS_1


Pagi menjelang. Namun tempat rahasia itu tak bisa ditembus oleh sinar mentari. Liana terbangun karena merasa sudah tertidur cukup lama.


Tangannya meraba ke sampingnya, namun dia tak menemukan siapa pun di sana. Sedangkan, dia masih ingat jika semalam ia tidur di dalam pelukan Falcon.


Matanya pun seketika terbuka lebar. Dia menoleh ke samping dan tak melihat siapa pun di sana. Dia bangun dan duduk di atas ranjang.


Dia memandang ke sekeliling. Rupanya pria itu telah pergi saat dia masih tertidur.


Dia mengusap kasar wajahnya dan menyapu rambutnya hingga ke belakang. Saat dirinya menoleh ke samping, dia melihat sebuah sticky note yang tertempel di atas lampu tidur.


Liana pun mengambilnya dan menemukan pesan yang tertulis di sana.


Aku pergi dulu. Maaf tidak membangunkanmu. Kau tidur begitu pulas dan aku tak tega mengganggumu. Tunggulah aku. Aku berjanji secepatnya akan menghubungimu. Simpanlah separuh hatiku ini sebagai jaminan, agar kau bisa percaya bahwa hanya kau pemilik hati ini.


Yang mencintaimu,


Alex


Liana tersenyum setelah membaca pesan dari pria, yang kini telah menyatakan cinta padanya. Meski dia merasa kembali kesepian, namun setidaknya kini dia punya seseorang yang bisa menjadi kekuatannya, selain sang kakek tentunya.


gadis itu pun segera bersiap untuk kembali ke Golden City. Dia tak mau jika sang kakek khawatir mencarinya.


Dia meminjam pakaian Falcon lagi untuk pulang, dan membawa gaun serta pakaian yang dipakainya semalam dalam sebuah kantong plastik besar.


Dia kemudian berjalan keluar dari sana. Beruntung, pintu itu memiliki kunci otomatis dan hanya bisa dibuka tanpa kunci dari dalam. Sehingga saat Liana keluar dan menutup pintunya, otomatis pintu itu terkunci dan tak bisa dibuka lagi tanpa kunci atau passcode.


Di ujung jalan, dia melihat sebuah mobil hitam telah terparkir di sana. Saat Liana berjalan mendekat, seseorang keluar dari dalam sana.


Nampak Long berdiri di depan dan membukakan pintu belakang untuk Liana.


“Silakan, Kakak ipar. Kami diperintahkan Bos untuk mengantar mu sampai ke Golden City dengan selamat,” ucap Long.


Liana tersenyum ke arah orang kepercayaan Falcon itu.


“Terimakasih,” sahut Liana.


Dia pun masuk ke kursi belakang dan Long kembali masuk dan duduk di kursi penumpang depan.


Mobil mulai bergerak dan membawa gadis itu kembali.


.


.


.


.


Jangan lupa, even masih berlangsung ya😁ini masuk ke minggu ke terakhir. So, hayuk gaskeun dukungannya 😍🥰


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2